Tag Archives: Widya Mandala

POTENTIA 4th Edition

Edisi ke 4, rilis tahun lalu juga. Lagi-lagi tidak sempat mengunggah, maafkan…

Melalui edisi ini, rasakan antusiasme kami dalam berkarya. Selamat menikmati….

Advertisements

Vensca : Not Just an Empty Beauty

Fotografer: Lukas Surya Atmaja Lokasi: Kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Pakuwon City
Fotografer: Lukas Surya Atmaja
Lokasi: Kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
Pakuwon City

Vensca Veronica Tanus namanya. Dara kelahiran Luwuk, 7 Februari 1995 ini telah mengukir sejumlah prestasi tingkat nasional di sela-sela kesibukannya menuntut ilmu. Baik di bidang akademik maupun non akademik, berbagai kompetisi diikutinya demi mencari bekal pengalaman. Mulai dari kompetisi fisika, hingga pemilihan Putri Indonesia semua sudah pernah dijalaninya. Vensca memang belum menjadi juara utama di ajang Putri Indonesia, namun potensinya kian terasah untuk menjadi lebih dari sekedar ratu kecantikan. Kini Vensca sedang menempuh semester dua kuliahnya di jurusan IBM FB WM. Meski kegiatan non akademik memadati jadwalnya, Vensca tetap mementingkan pencapaian di bidang akademik, terbukti dengan IPS 3,85 yang diraihnya. Berikut bincang-bincang Vensca dengan saya selaku HuMas di Widya Mandala.

Bagaimana ceritanya dari Gorontalo bisa bergabung ke IBM WM?

Saya lahir di Luwuk Sulawesi Tengah, lalu setelah lulus SD sekeluarga pindah ke Gorontalo demi usaha. Di sana salah satu keluarga adalah lulusan WM dan teman dekat saya ada yang kuliah di WM Surabaya. Awalnya, karena sempat menunda kuliah selama setahun jadi bingung dalam menentukan jurusan. Di jurusan IBM WM, saya berharap bukan sekedar belajar menguasai ilmu bisnis namun sekaligus mengasah Bahasa Inggris, sehingga sekali jalan setidaknya dapat dua manfaat.

Apakah memang sedari kecil sudah berminat di dunia kontes kecantikan?

Bermula dari usia 3 tahun sudah diikutkan kontes oleh Ibu. Terus berkembang mengikuti bermacam kompetisi sampai sering dicari oleh pihak sekolah dan diminta jadi perwakilan. Saya sendiri sangat senang menari dan baru menyadari potensi saya saat terpilih menjadi mayoret pada waktu SMP. Seleksinya susah dan prosesnya panjang. Awalnya memang kurang suka mengikuti kegiatan-kegiatan ini karena melelahkan. Saya juga ingin fokus agar punya nilai akademik yang bagus, namun setelah berjuang dari bukan siapa-siapa hingga mulai dicari oleh berbagai pihak, jadi merasa tertantang. Saya selalu berpikir; selagi saya bisa lebih baik dicoba.

Berlaga mulai dari bidang akademis sampai kontes kecantikan, apa yang paling berkesan?

Terbentur masalah keluarga, saya terpaksa menunda kuliah selama setahun. Saat itu Ibu yang mendorong saya mencari kegiatan untuk mengasah kemampuan. Titik balik pembelajaran saya di dunia beauty pageant saya dapatkan saat mengikuti kontes pemilihan duta wisata dari Gorontalo. Sebelumnya provinsi Gorontalo belum pernah masuk hitungan di tingkat nasional, menjadi bagian dari 10 besar itu saja sudah sangat luar biasa. Saat itu saya menjadi peserta termuda berusia 17 tahun melawan banyak pesaing yang jauh lebih senior. Berbagai diskriminasi saya alami, mulai dari segi agama yang masuk kaum minoritas hingga prasangka bahwa saya pasti minim kemampuan karena faktor usia. Beruntung tahun itu jurinya yang didatangkan dari Jakarta menilai dengan profesional. Kami tidak menyangka bisa menang dan diberangkatkan ke Denpasar. Minim dukungan, saya ajak partner satu tim untuk bekerja sama menampilkan yang terbaik, termasuk komitmen untuk berlatih intensif dan mengeluarkan biaya sendiri demi mendatangkan pelatih professional. Kami pun jadi juara dua dan akhirnya biaya ditanggung oleh dinas pariwisata. Saat itulah saya benar-benar belajar banyak hal, termasuk bagaimana bersikap lebih ‘matang’ dan mengendalikan diri saat bertemu dengan orang-orang penting seperti gubernur dsb.

taken on the stairs of Widya Mandala Catholic University Surabaya by Lukas S Atmaja
this picture of Vensca was taken on the stairs of Widya Mandala Catholic University Surabaya by Lukas S Atmaja

Apa yang paling berat untuk dihadapi bagi seorang Vensca?

Merasa sudah bekerja keras tapi dihujat tanpa alasan yang jelas. Aneka komentar sadis tak bertanggung jawab di media sosial, maupun yang berasal dari orang-orang sekitar baik yang saya kenal maupun tidak. Ada prasangka bahwa pengikut kontes kecantikan seringkali hanya bermodal penampilan namun kosong kecerdasannya. Mereka tidak mengetahui kerja keras yang saya lakukan demi mendapatkan apa yang saya miliki. Namun saya juga punya kekurangan, misalnya kurang disiplin tepat waktu, kurang disiplin dalam komitmen menjaga berat badan demi tuntutan penampilan. Untuk mengatasinya saya harus selalu introspeksi dan tahu diri dengan melihat bagaimana orang lain bersikap terhadap saya.

Bagaimana dengan rencana untuk masa depan?

Saya sadar tidak selamanya bisa mengikuti kontes maupun kompetisi lain seperti sekarang. Demi masa depan inilah saya melanjutkan kuliah di IBM WM, lulus kuliah saya ingin bekerja di perusahaan yang membuat saya bisa mengumpulkan modal untuk memulai bisnis sendiri dan membantu orang tua. Saya ingin mendirikan suatu bisnis yang bisa mewakili nama Indonesia di kancah internasional. Oleh sebab itu, selagi saya bisa, saya ingin mencari pengalaman sebanyak mungkin di berbagai bidang, bertemu dengan orang-orang baru dan terus belajar hal baru.

The picture was taken in the campus's front yard by Lukas S Atmaja
The picture was taken in the campus’s front yard by Lukas S Atmaja

Catatan di balik pengambilan gambar;

Seringkali orang berpendapat sambil lalu, bahwa menjadi model dan fotografer itu enak. Kerjaannya cuma gonta ganti baju, dandan, pose dan dijepret kamera. Fotografer juga tinggal cekrak- cekrik aja uda bisa dapat duit dengan gampang. Hari itu, saya menyaksikan sendiri bagaimana susahnya menghasilkan gambar cantik-cantik dan indah seperti yang saya posting di atas. Foto ke-3 yang saya tampilkan diambil di bawah sengatan sinar mentari tengah hari musim kemarau di Surabaya – Indonesia. Dalam musim kemarau standar Surabaya, rerata suhu dalam ruangan adalah 38 hingga 40 derajat celcius. Coba bayangkan bagaimana panasnya di luar? Niscaya kita bisa membuat telur ceplok setengah matang di atas jidat masing-masing. Proses pengambilan gambar di belantara semak liar berduri ini memakan waktu kurang lebih 45 menit. Di sela-sela tetesan peluh sebesar biji jagung yang menggantung di dagu, saat itu saya merasa beruntung. Suatu kehormatan bisa menyaksikan dua orang dari generasi yang lebih muda dari saya ini bekerja keras.

Dalam foto tersebut, Vensca tersenyum seraya memainkan bunga liar. Seakan sekelilingnya sejuk dan menyenangkan. Padahal gambar itu diambil pada saat dia baru saja jatuh terjerembab. Awalnya, saya hanya meminta dia mengambil pose dalam keadaan berdiri, namun setelah terjatuh, Vensca meminta sendiri kepada kami untuk terus mengambil foto. “Kepalang tanggung, terusin aja. Kayaknya bagus juga kayak begini,” ujarnya santai. Baru setelah foto-foto selesai diambil, dan Vensca bangkit berdiri…saya melihat segaris darah di kakinya. Dia sama sekali tidak mengeluh capek maupun sakit saat itu. Memang luka itu tidak parah, tapi dalam hati saya sudah salut pada gadis ini. Saya cukup sering mengadakan sesi foto, dan pernah menemui orang-orang yang sudah mengeluh capek dll walau difoto dalam studio ber-AC dan tidak sampai luka-luka. Vensca peraih prestasi yang tergolong luar biasa, dan ia tidak mengeluh sama sekali. Kecantikannya jelas bukanlah kecantikan kosong belaka seperti yang dengan gampang ditudingkan oleh orang-orang berpandangan sempit kepada peserta kontes-kontes kecantikan.

Lukas Surya Atmaja, yang menjadi fotografer saat itu juga besar jasanya. Gambar-gambar indah ini takkan ada tanpa dia bersusah payah berjongkok membenamkan diri di antara belukar (yang ternyata) berduri. Bahkan saya yang waktu itu membantu menyingkirkan bunga-bunga duri (berjumlah puluhan) dari bajunya saja sampai ikutan berdarah. Memang, untuk mendapatkan sudut pandang yang tepat, seorang fotografer profesional harus mau ‘berjungkir balik’ yang kadang-kadang kelihatan seperti melakukan stunt berbahaya di film. Lukas masih seorang mahasiswa, tapi kualitas foto-foto hasil jepretannya tidak perlu diragukan. Ia sudah pernah disalami oleh Presiden SBY sendiri setelah karyanya memenangkan suatu lomba fotografi. Jadi gumpalan duri-duri itu bukan apa-apa baginya yang memang suka mengambil foto outdoor.

Tulisan ini saya dedikasikan bagi mereka berdua, dan bagi mereka yang menghargai kecantikan yang berharga. Not just an empty beauty.

POTENTIA the 2nd edition. POTENTIA edisi ke 2

<a href="

” title=”POTENTIA the 2nd edition. POTENTIA edisi ke 2″>POTENTIA the 2nd edition. POTENTIA edisi ke 2

POTENTIA the 2nd edition. Official digital magazine of Widya Mandala Catholic University Surabaya. POTENTIA edisi ke2. Majalah digital resmi dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Tema edisi kali ini adalah POTENSI GEMILANG. Mari membaca dan menilai, beragam potensi yang kami miliki dalam mengembangkan kehidupan. Mulai dari ajang Putri Indonesia 2014, lalu Super Kapasitor dari Kulit Singkong yang membuat Dahlan Iskan menembus badai debu vulkanik Gunung Kelud untuk mengunjungi kami, hingga tabir surya dari lalapan sunda yang ternyata antikanker. Tidak kalah penting juga, beragam kerja sama yang kami jalin di skala nasional maupun internasional. Inilah POTENTIA 100% karya keluarga besar Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Mari membaca dan mengenal kami lebih dekat!

Ada Apa di Sekeliling Kita? Check it Out!

Persembahan LPPM & Pascasarjana WM; Ada apa di sekeliling kita? Check it Out!

“Kalian masih ingat dengan kasus Taman Bungkul dan Taman Pelangi, yang tiba-tiba menarik perhatian masyarakat dunia setelah berhasil membuat Indonesia jadi muncul di peta wisata pertamanan dunia?,” demikian Kresnayana Yahya melontarkan pertanyaan pada saat memulai presentasinya dalam lokakarya yang diadakan di ruang A201 malam hari Jumat 21 Maret 2014 yang lalu.

ImageFoto: cr. perencanaankota.blogspot.com

Lokakarya ini terselenggara berkat kerja sama antara LPPM dengan Pascasarjana WM sebagai bentuk pengabdian masyarakat yang mengambil tema: Ada apa di sekeliling kita? CHECK IT OUT! Materi yang disampaikan oleh Krenayana Yahya selaku narasumber adalah mengenai analisis lingkungan bisnis, yang nantinya bermanfaat dalam formulasi strategi bisnis.

“Saat ini di mana-mana saya melihat pengusaha asing berlomba-lomba untuk masuk ke Indonesia, tadi saja di bandara saya ketemu dengan orang Malaysia yang ingin membuka usaha sate goreng d indonesia. Dibuat dan diproses di Malaysia, dijual di Indonesia. Apakah ini tidak mulai mengerikan? AEC sudah di depan mata, kalau tidak hati-hati, sebentar lagi supir taksi kita orang India semua. Sekarang aja sudah ada supir taksi cewek Thailand dengan penghasilan 16 juta perbulan di Jakarta. Mau dibiarkan semua seperti itu?,” ujarnya kembali melontarkan pertanyaan retoris pada seluruh peserta lokakarya.

Menurut Kresna, Indonesia baru akan useless kalau tidak punya kesadaran, who we are and where we are. Orang Indonesia, punya bawaan ‘nrimo’ alias sudah puas dengan kondisi yang ada saat ini. Ini berbahaya, contohnya saja di dunia pendidikan. Bersyukurlah mereka yang berkuliah di sekolah swasta, karena tidak diberi apa-apa oleh pemerintah juga masih bisa hidup. Bagaimana dengan mereka yang bersekolah di negeri, biasa disubsidi, kemudian seandainya pemerintah goyah, 10 % saja anggaran pendidikan dikurangi pasti akan berjatuhan banyak korban. Di sisi lain, nilai kehidupan di masyarakat kita sudah sangat terancam, ada banyak orang berduit yang malah merasa bangga kalau bisa beli ijazah tanpa harus capek sekolah.

“Bisnis di indonesia, didominasi dengan bisnis tradisional dan bisnis gelap. Saya sebagai orang yang duduk di badan pengawas pusat statistik, melihat semua ini kami selalu kebingungan. Siapa yg hrs brtanggung jawab? Apakah harus menunggu pihak asing untuk masuk dengan membawa profesionalitasnya, kemudian melakukan bisnis dengan cara mereka baru mulai bertindak,…apa kita mau tunggu dihabiskan? Kita juga punya kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik, contohnya ya Taman Bungkul dan Taman Pelangi itu. Profesional itu tidak harus menunggu pihak asing,” ujar pria yang juga pernah memberikan training kepada orang-orang sekaliber Sri Mulyani ini.

Perekonomian Indonesia sangat bergantung pada ekspor bahan mentah, 60 % income riil indonesia dinikmati oleh luar negeri. Namun orang Indonesia sudah berbahagia dengan bisa beli mobil yang kemudian digunakan tidak sesuai aturan sampai angka kematian karena kecelakaan sungguh tinggi. Pernah suatu ketika mencapai 100 org tewas karena kecelakaan dalam waktu sebulan hanya di daerah Gresik Sidoarjo saja. “Ini harus bagaimana? Apa yang salah di kita? Seharusnya kita tidak menjadi masyarakat yang bermental gratisan, tidak mengutamakan sesuatu yang bersifat massal maupun mengkonsumsi sesuatu hanya demi image yang melekat,” tutur Kresna seraya memaparkan data-data statistik berbagai fenomena masyarakat di Surabaya.

Data statistik menunjukkan bahwa uang senilai triliunan rupiah beredar di masyarakat, namun tidak juga muncul dalam bentuk pemberdayaan masyarakat. Salah satu keluhannya adalah kurangnya kemampuan untuk memulai dan menjalankan suatu bisnis. Padahal untuk mengelola sebuah bisnis itu tidaklah terlalu sulit, bisa dijalankan dengan simple check. Metode simple check ini bisa dilakukan dengan memastikan ada 3 hal yang berjalan dengan baik dalam bisnis itu, yakni sistem dan prosedur kelengkapan, penjualan dan pemasaran, serta aliran keuangan.

“Salah satu tugas kita adalah menciptakan kesempatan. Kita harus mendidik masyarakat untuk menjadi kreatif. Kesempatan suatu produk baru untuk bertahan dan sukses di pasar hanyalah sebesar 5%. Oleh sebab itu lah, orang tidak boleh menyerah karena baru sekali gagal, sudah seharusnya orang yang menuntut ilmu semakin tinggi seharusnya bisa semakin memperhitungkan resiko dengan lebih baik. Bukannya malah menjadi takut untuk mencoba, tapi justru harus semakin berani dan pada gilirannya bisa mendidik masyarakat untuk semakin berdaya,” urai Kresna.

ImageFoto; Kresnayana Yahya di hadapan peserta workshop

Meet POTENTIA, the first edition

<div style=”margin-bottom:5px”> <strong> <a href=”https://www.slideshare.net/vonnywiyani/potentia-edisi-1&#8243; title=”Potentia edisi 1″ target=”_blank”>Potentia edisi 1</a> </strong> from <strong><a href=”http://www.slideshare.net/vonnywiyani&#8221; target=”_blank”>Vonny Wiyani</a></strong> </div>

Biosorbent Jerami; Penyerap Logam Berat Limbah Industri

Tingginya kandungan logam berat yang terdapat dalam limbah industri di Indonesia menyebabkan beberapa dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat. Limbah industri yang terserap oleh tanah dan yang mencemari air akan menyebabkan terganggunya kesehatan apabila manusia secara terus menerus mengkonsumsi hasil alam yang terkontaminasi limbah. Mulai dari luka luar seperti kulit melepuh hingga keterbelakangan mental bisa diakibatkan oleh polusi limbah industri yang tidak diperhatikan teknik pengolahannya.

Keprihatinan akan hal ini mendorong Felycia Edi Soetaredjo, PhD. untuk melakukan penelitian mendalam terhadap pembentukan model biosorbent (penyerap dari biomassa) terhadap kandungan logam berat yang terdapat di dalam limbah industri. “Sedih rasanya saat melihat anak dari sahabat suami saya mengalami keterbatasan mental akibat keracunan limbah merkuri. Seharusnya semua itu bisa ditanggulangi jika kita mau berusaha,” tuturnya. Indonesia sebagai negara agraris menghasilkan banyak limbah pertanian yang bisa dimanfaatkan sebagai biomassa, salah satunya adalah jerami yang dihasilkan dari limbah tanaman padi. Menggunakan biosorbent dari jerami adalah suatu alternatif berbiaya ringan dalam teknik pengolahan limbah cair industri.

Jerami
Jerami limbah pertanian sebelum diolah menjadi biosorbent

“Saya selalu tertarik melakukan penelitian demi penyelamatan lingkungan. Saat ini di Indonesia, pengolahan limbah industri agar menjadi lebih ramah lingkungan masih sangat kurang. Itu juga sebabnya kami selalu mendorong mahasiswa untuk berkreasi menghasilkan produk yang zero waste, jadi semua bisa bermanfaat” tutur Felycia yang menjadi dosen mata kuliah technopreneurship di Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (WM).

Jerami limbah pertanian mula-mula diolah menjadi bubur, kemudian ditempatkan dalam tangki-tangki yang dimasukkan dalam instalasi pembuangan limbah industri. Limbah yang disalurkan ke luar pabrik akan melewati tangki tersebut, kemudian molekul-molekul logam berat akan terserap oleh molekul jerami. Hasilnya adalah limbah cair dengan kadar logam berat yang tingkatnya lebih rendah dibandingkan dengan limbah yang tidak melalui biosorbent dari jerami.

Felycia Edy Soetaredjo, Ph.D
Dosen Jurusan Teknik Kimia WM: Felycia Edy Soetaredjo, Ph.D

Berkat penelitian ini, Felycia yang juga alumnus jurusan teknik kimia WM angkatan tahun 1995, kembali memenangkan research grant International Foundation of Sciences (IFS) dari Swedia. “Ini adalah sebuah prestasi yang luar biasa, mengingat penerima IFS di Indonesia tidak banyak. Sejak berdiri pada tahun 1972 hingga sekarang penerima IFS di Indonesia tidak lebih dari 100 ilmuwan,” ujar Suryadi Ismadji, Dekan Fakultas Teknik WM peraih Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa 2012 oleh 4 Kementerian.

Dari Tunggul Jagung untuk BIO-Jet Fuel Hingga Seleksi Mawapres ke Bandung

Image

Tahun 2013 bagi Chintya Effendi (lulusan Jurusan Teknik Kimia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya) menjadi tahun yang luar biasa. Selain mampu meneruskan keberhasilannya dengan menduduki peringkat III Mawapres Tingkat Kopertis Wilayah 7 Jawa Timur. Chintya Effendi juga lolos seleksi MAWAPRES di tingkat Nasional. Alumni SMAK St. Paulus Jember yang bergabung dengan WM pada tahun 2009 ini mengaku terkejut dengan pencapaiannya.

“Tanggal 4 Juli 2013 adalah hari yang penting bagi saya, karena ada pemberitahuan bahwa saya lolos ke seleksi mawapres tingkat nasional. Perasaan sesaat pada waktu itu adalah senang, terharu sekaligus nervous karena masuk 15 besar tingkat nasional. Saingannya sudah benar-benar terbaik dari seluruh Indonesia, persiapan yang dilakukan harus lebih matang, baik dari presentasi maupun mental,” tuturnya dengan berbinar-binar karena tidak menyangka akan masuk tahap seleksi mawapres tingkat nasional.

Chintya menambahkan dengan antusias, bahwa sosok-sosok finalis mawapres tingkat nasional yang ditemuinya di Bandung, 18 Juli 2013 kemarin sangat luar biasa. Ilmu dan pengalaman berharga banyak didapatkan Chintya dari sesama mahasiswa dan para juri. “Menjadi finalis mawapres adalah kesempatan untuk menjalin koneksi untuk masa depan. Ini adalah kali pertama saya pergi ke Bandung, bertemu dengan begitu banyak orang berprestasi dan bertemu menteri. Hanya ada satu kata untuk menggambarkannya: kereeenn!”  ujarnya.

Potensi Tunggul Jagung sebagai Bahan Baku Pembuatan Bio-Jet Fuel adalah penelitian yang mengantarkan Chintya ke seleksi MAWAPRES tingkat nasional. “Saya tertarik mengembangkan limbah pertanian agar bisa menjadi energi yang terbarukan. Bila di upgrade menjadi bio-jet fuel, produk dari tunggul jagung ini bisa dibeli dengan harga Rp. 6.760, coba bandingkan dengan avtur yang harganya hampir Rp.10.000”, terangnya.

Layaknya orang yang ingin selalu berkarya, perjuangan Chintya tidak selalu mulus. Calon wisudawan WM ini harus mengubur cita – cita masa kecil untuk menjadi dokter karena kegagalannya menembus SMPTN. “Ketika di hasil SMPTN nama saya tidak ada, benar-benar tidak tahu mau jadi apa di masa depan. Kebetulan di sekolah, salah seorang guru saya bilang bahwa Teknik Kimia WM adalah jurusan yang bagus. Akhirnya setelah membandingkan berbagai pilihan, saya menyasar ke sini,” ujarnya ketika menjelaskan mengapa akhirnya memilih menjadi mahasiswa Teknik Kimia WM.

Hasratnya untuk berkarya di bidang kesehatan masih menggebu. Hal itu terbukti dengan beberapa penelitian dan inovasi yang dilakukannya. “Saya pernah membuat es krim dari buah mengkudu yang biasanya dihindari orang karena walaupun menyehatkan tapi baunya busuk. Es krim saya lezat dan baunya enak, gara-gara itu saya jadi juara kedua di lomba inovasi yang diadakan di jurusan,” tutur Chintya menyebutkan salah satu inovasinya. Es krim mengkudu menjadi perantara Chintya berkenalan dengan  Suryadi Ismadji,  penerima Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa oleh 4 Kementerian dan merupakan Dekan Fakultas Teknik WM.

“Beliau membimbing saya meneliti dan mengembangkan limbah menjadi energi yang terbarukan. Kini saya fokus pada pengembangan teknik kimia untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, siapa tahu kelak bisa dapat nobel, amin” ujarnya sambil berangan-angan.

Chintya kini sedang bersiap untuk melanjutkan studinya ke Taiwan pada bulan September 2013. Sederet prestasi baik dalam tingkat nasional maupun internasional yang berhasil diraihnya berbuah beasiswa penuh dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST). “Saya tidak akan bisa mengikuti wisuda di sini, tapi tidak apa-apa, karena saya sudah tidak sabar untuk berkarya di sana,” kata Chintya.