Tag Archives: UKWMS

Vensca : Not Just an Empty Beauty

Fotografer: Lukas Surya Atmaja Lokasi: Kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Pakuwon City
Fotografer: Lukas Surya Atmaja
Lokasi: Kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
Pakuwon City

Vensca Veronica Tanus namanya. Dara kelahiran Luwuk, 7 Februari 1995 ini telah mengukir sejumlah prestasi tingkat nasional di sela-sela kesibukannya menuntut ilmu. Baik di bidang akademik maupun non akademik, berbagai kompetisi diikutinya demi mencari bekal pengalaman. Mulai dari kompetisi fisika, hingga pemilihan Putri Indonesia semua sudah pernah dijalaninya. Vensca memang belum menjadi juara utama di ajang Putri Indonesia, namun potensinya kian terasah untuk menjadi lebih dari sekedar ratu kecantikan. Kini Vensca sedang menempuh semester dua kuliahnya di jurusan IBM FB WM. Meski kegiatan non akademik memadati jadwalnya, Vensca tetap mementingkan pencapaian di bidang akademik, terbukti dengan IPS 3,85 yang diraihnya. Berikut bincang-bincang Vensca dengan saya selaku HuMas di Widya Mandala.

Bagaimana ceritanya dari Gorontalo bisa bergabung ke IBM WM?

Saya lahir di Luwuk Sulawesi Tengah, lalu setelah lulus SD sekeluarga pindah ke Gorontalo demi usaha. Di sana salah satu keluarga adalah lulusan WM dan teman dekat saya ada yang kuliah di WM Surabaya. Awalnya, karena sempat menunda kuliah selama setahun jadi bingung dalam menentukan jurusan. Di jurusan IBM WM, saya berharap bukan sekedar belajar menguasai ilmu bisnis namun sekaligus mengasah Bahasa Inggris, sehingga sekali jalan setidaknya dapat dua manfaat.

Apakah memang sedari kecil sudah berminat di dunia kontes kecantikan?

Bermula dari usia 3 tahun sudah diikutkan kontes oleh Ibu. Terus berkembang mengikuti bermacam kompetisi sampai sering dicari oleh pihak sekolah dan diminta jadi perwakilan. Saya sendiri sangat senang menari dan baru menyadari potensi saya saat terpilih menjadi mayoret pada waktu SMP. Seleksinya susah dan prosesnya panjang. Awalnya memang kurang suka mengikuti kegiatan-kegiatan ini karena melelahkan. Saya juga ingin fokus agar punya nilai akademik yang bagus, namun setelah berjuang dari bukan siapa-siapa hingga mulai dicari oleh berbagai pihak, jadi merasa tertantang. Saya selalu berpikir; selagi saya bisa lebih baik dicoba.

Berlaga mulai dari bidang akademis sampai kontes kecantikan, apa yang paling berkesan?

Terbentur masalah keluarga, saya terpaksa menunda kuliah selama setahun. Saat itu Ibu yang mendorong saya mencari kegiatan untuk mengasah kemampuan. Titik balik pembelajaran saya di dunia beauty pageant saya dapatkan saat mengikuti kontes pemilihan duta wisata dari Gorontalo. Sebelumnya provinsi Gorontalo belum pernah masuk hitungan di tingkat nasional, menjadi bagian dari 10 besar itu saja sudah sangat luar biasa. Saat itu saya menjadi peserta termuda berusia 17 tahun melawan banyak pesaing yang jauh lebih senior. Berbagai diskriminasi saya alami, mulai dari segi agama yang masuk kaum minoritas hingga prasangka bahwa saya pasti minim kemampuan karena faktor usia. Beruntung tahun itu jurinya yang didatangkan dari Jakarta menilai dengan profesional. Kami tidak menyangka bisa menang dan diberangkatkan ke Denpasar. Minim dukungan, saya ajak partner satu tim untuk bekerja sama menampilkan yang terbaik, termasuk komitmen untuk berlatih intensif dan mengeluarkan biaya sendiri demi mendatangkan pelatih professional. Kami pun jadi juara dua dan akhirnya biaya ditanggung oleh dinas pariwisata. Saat itulah saya benar-benar belajar banyak hal, termasuk bagaimana bersikap lebih ‘matang’ dan mengendalikan diri saat bertemu dengan orang-orang penting seperti gubernur dsb.

taken on the stairs of Widya Mandala Catholic University Surabaya by Lukas S Atmaja
this picture of Vensca was taken on the stairs of Widya Mandala Catholic University Surabaya by Lukas S Atmaja

Apa yang paling berat untuk dihadapi bagi seorang Vensca?

Merasa sudah bekerja keras tapi dihujat tanpa alasan yang jelas. Aneka komentar sadis tak bertanggung jawab di media sosial, maupun yang berasal dari orang-orang sekitar baik yang saya kenal maupun tidak. Ada prasangka bahwa pengikut kontes kecantikan seringkali hanya bermodal penampilan namun kosong kecerdasannya. Mereka tidak mengetahui kerja keras yang saya lakukan demi mendapatkan apa yang saya miliki. Namun saya juga punya kekurangan, misalnya kurang disiplin tepat waktu, kurang disiplin dalam komitmen menjaga berat badan demi tuntutan penampilan. Untuk mengatasinya saya harus selalu introspeksi dan tahu diri dengan melihat bagaimana orang lain bersikap terhadap saya.

Bagaimana dengan rencana untuk masa depan?

Saya sadar tidak selamanya bisa mengikuti kontes maupun kompetisi lain seperti sekarang. Demi masa depan inilah saya melanjutkan kuliah di IBM WM, lulus kuliah saya ingin bekerja di perusahaan yang membuat saya bisa mengumpulkan modal untuk memulai bisnis sendiri dan membantu orang tua. Saya ingin mendirikan suatu bisnis yang bisa mewakili nama Indonesia di kancah internasional. Oleh sebab itu, selagi saya bisa, saya ingin mencari pengalaman sebanyak mungkin di berbagai bidang, bertemu dengan orang-orang baru dan terus belajar hal baru.

The picture was taken in the campus's front yard by Lukas S Atmaja
The picture was taken in the campus’s front yard by Lukas S Atmaja

Catatan di balik pengambilan gambar;

Seringkali orang berpendapat sambil lalu, bahwa menjadi model dan fotografer itu enak. Kerjaannya cuma gonta ganti baju, dandan, pose dan dijepret kamera. Fotografer juga tinggal cekrak- cekrik aja uda bisa dapat duit dengan gampang. Hari itu, saya menyaksikan sendiri bagaimana susahnya menghasilkan gambar cantik-cantik dan indah seperti yang saya posting di atas. Foto ke-3 yang saya tampilkan diambil di bawah sengatan sinar mentari tengah hari musim kemarau di Surabaya – Indonesia. Dalam musim kemarau standar Surabaya, rerata suhu dalam ruangan adalah 38 hingga 40 derajat celcius. Coba bayangkan bagaimana panasnya di luar? Niscaya kita bisa membuat telur ceplok setengah matang di atas jidat masing-masing. Proses pengambilan gambar di belantara semak liar berduri ini memakan waktu kurang lebih 45 menit. Di sela-sela tetesan peluh sebesar biji jagung yang menggantung di dagu, saat itu saya merasa beruntung. Suatu kehormatan bisa menyaksikan dua orang dari generasi yang lebih muda dari saya ini bekerja keras.

Dalam foto tersebut, Vensca tersenyum seraya memainkan bunga liar. Seakan sekelilingnya sejuk dan menyenangkan. Padahal gambar itu diambil pada saat dia baru saja jatuh terjerembab. Awalnya, saya hanya meminta dia mengambil pose dalam keadaan berdiri, namun setelah terjatuh, Vensca meminta sendiri kepada kami untuk terus mengambil foto. “Kepalang tanggung, terusin aja. Kayaknya bagus juga kayak begini,” ujarnya santai. Baru setelah foto-foto selesai diambil, dan Vensca bangkit berdiri…saya melihat segaris darah di kakinya. Dia sama sekali tidak mengeluh capek maupun sakit saat itu. Memang luka itu tidak parah, tapi dalam hati saya sudah salut pada gadis ini. Saya cukup sering mengadakan sesi foto, dan pernah menemui orang-orang yang sudah mengeluh capek dll walau difoto dalam studio ber-AC dan tidak sampai luka-luka. Vensca peraih prestasi yang tergolong luar biasa, dan ia tidak mengeluh sama sekali. Kecantikannya jelas bukanlah kecantikan kosong belaka seperti yang dengan gampang ditudingkan oleh orang-orang berpandangan sempit kepada peserta kontes-kontes kecantikan.

Lukas Surya Atmaja, yang menjadi fotografer saat itu juga besar jasanya. Gambar-gambar indah ini takkan ada tanpa dia bersusah payah berjongkok membenamkan diri di antara belukar (yang ternyata) berduri. Bahkan saya yang waktu itu membantu menyingkirkan bunga-bunga duri (berjumlah puluhan) dari bajunya saja sampai ikutan berdarah. Memang, untuk mendapatkan sudut pandang yang tepat, seorang fotografer profesional harus mau ‘berjungkir balik’ yang kadang-kadang kelihatan seperti melakukan stunt berbahaya di film. Lukas masih seorang mahasiswa, tapi kualitas foto-foto hasil jepretannya tidak perlu diragukan. Ia sudah pernah disalami oleh Presiden SBY sendiri setelah karyanya memenangkan suatu lomba fotografi. Jadi gumpalan duri-duri itu bukan apa-apa baginya yang memang suka mengambil foto outdoor.

Tulisan ini saya dedikasikan bagi mereka berdua, dan bagi mereka yang menghargai kecantikan yang berharga. Not just an empty beauty.

POTENTIA the 2nd edition. POTENTIA edisi ke 2

<a href="

” title=”POTENTIA the 2nd edition. POTENTIA edisi ke 2″>POTENTIA the 2nd edition. POTENTIA edisi ke 2

POTENTIA the 2nd edition. Official digital magazine of Widya Mandala Catholic University Surabaya. POTENTIA edisi ke2. Majalah digital resmi dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Tema edisi kali ini adalah POTENSI GEMILANG. Mari membaca dan menilai, beragam potensi yang kami miliki dalam mengembangkan kehidupan. Mulai dari ajang Putri Indonesia 2014, lalu Super Kapasitor dari Kulit Singkong yang membuat Dahlan Iskan menembus badai debu vulkanik Gunung Kelud untuk mengunjungi kami, hingga tabir surya dari lalapan sunda yang ternyata antikanker. Tidak kalah penting juga, beragam kerja sama yang kami jalin di skala nasional maupun internasional. Inilah POTENTIA 100% karya keluarga besar Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Mari membaca dan mengenal kami lebih dekat!