Tag Archives: pascasarjana

Ada Apa di Sekeliling Kita? Check it Out!

Persembahan LPPM & Pascasarjana WM; Ada apa di sekeliling kita? Check it Out!

“Kalian masih ingat dengan kasus Taman Bungkul dan Taman Pelangi, yang tiba-tiba menarik perhatian masyarakat dunia setelah berhasil membuat Indonesia jadi muncul di peta wisata pertamanan dunia?,” demikian Kresnayana Yahya melontarkan pertanyaan pada saat memulai presentasinya dalam lokakarya yang diadakan di ruang A201 malam hari Jumat 21 Maret 2014 yang lalu.

ImageFoto: cr. perencanaankota.blogspot.com

Lokakarya ini terselenggara berkat kerja sama antara LPPM dengan Pascasarjana WM sebagai bentuk pengabdian masyarakat yang mengambil tema: Ada apa di sekeliling kita? CHECK IT OUT! Materi yang disampaikan oleh Krenayana Yahya selaku narasumber adalah mengenai analisis lingkungan bisnis, yang nantinya bermanfaat dalam formulasi strategi bisnis.

“Saat ini di mana-mana saya melihat pengusaha asing berlomba-lomba untuk masuk ke Indonesia, tadi saja di bandara saya ketemu dengan orang Malaysia yang ingin membuka usaha sate goreng d indonesia. Dibuat dan diproses di Malaysia, dijual di Indonesia. Apakah ini tidak mulai mengerikan? AEC sudah di depan mata, kalau tidak hati-hati, sebentar lagi supir taksi kita orang India semua. Sekarang aja sudah ada supir taksi cewek Thailand dengan penghasilan 16 juta perbulan di Jakarta. Mau dibiarkan semua seperti itu?,” ujarnya kembali melontarkan pertanyaan retoris pada seluruh peserta lokakarya.

Menurut Kresna, Indonesia baru akan useless kalau tidak punya kesadaran, who we are and where we are. Orang Indonesia, punya bawaan ‘nrimo’ alias sudah puas dengan kondisi yang ada saat ini. Ini berbahaya, contohnya saja di dunia pendidikan. Bersyukurlah mereka yang berkuliah di sekolah swasta, karena tidak diberi apa-apa oleh pemerintah juga masih bisa hidup. Bagaimana dengan mereka yang bersekolah di negeri, biasa disubsidi, kemudian seandainya pemerintah goyah, 10 % saja anggaran pendidikan dikurangi pasti akan berjatuhan banyak korban. Di sisi lain, nilai kehidupan di masyarakat kita sudah sangat terancam, ada banyak orang berduit yang malah merasa bangga kalau bisa beli ijazah tanpa harus capek sekolah.

“Bisnis di indonesia, didominasi dengan bisnis tradisional dan bisnis gelap. Saya sebagai orang yang duduk di badan pengawas pusat statistik, melihat semua ini kami selalu kebingungan. Siapa yg hrs brtanggung jawab? Apakah harus menunggu pihak asing untuk masuk dengan membawa profesionalitasnya, kemudian melakukan bisnis dengan cara mereka baru mulai bertindak,…apa kita mau tunggu dihabiskan? Kita juga punya kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik, contohnya ya Taman Bungkul dan Taman Pelangi itu. Profesional itu tidak harus menunggu pihak asing,” ujar pria yang juga pernah memberikan training kepada orang-orang sekaliber Sri Mulyani ini.

Perekonomian Indonesia sangat bergantung pada ekspor bahan mentah, 60 % income riil indonesia dinikmati oleh luar negeri. Namun orang Indonesia sudah berbahagia dengan bisa beli mobil yang kemudian digunakan tidak sesuai aturan sampai angka kematian karena kecelakaan sungguh tinggi. Pernah suatu ketika mencapai 100 org tewas karena kecelakaan dalam waktu sebulan hanya di daerah Gresik Sidoarjo saja. “Ini harus bagaimana? Apa yang salah di kita? Seharusnya kita tidak menjadi masyarakat yang bermental gratisan, tidak mengutamakan sesuatu yang bersifat massal maupun mengkonsumsi sesuatu hanya demi image yang melekat,” tutur Kresna seraya memaparkan data-data statistik berbagai fenomena masyarakat di Surabaya.

Data statistik menunjukkan bahwa uang senilai triliunan rupiah beredar di masyarakat, namun tidak juga muncul dalam bentuk pemberdayaan masyarakat. Salah satu keluhannya adalah kurangnya kemampuan untuk memulai dan menjalankan suatu bisnis. Padahal untuk mengelola sebuah bisnis itu tidaklah terlalu sulit, bisa dijalankan dengan simple check. Metode simple check ini bisa dilakukan dengan memastikan ada 3 hal yang berjalan dengan baik dalam bisnis itu, yakni sistem dan prosedur kelengkapan, penjualan dan pemasaran, serta aliran keuangan.

“Salah satu tugas kita adalah menciptakan kesempatan. Kita harus mendidik masyarakat untuk menjadi kreatif. Kesempatan suatu produk baru untuk bertahan dan sukses di pasar hanyalah sebesar 5%. Oleh sebab itu lah, orang tidak boleh menyerah karena baru sekali gagal, sudah seharusnya orang yang menuntut ilmu semakin tinggi seharusnya bisa semakin memperhitungkan resiko dengan lebih baik. Bukannya malah menjadi takut untuk mencoba, tapi justru harus semakin berani dan pada gilirannya bisa mendidik masyarakat untuk semakin berdaya,” urai Kresna.

ImageFoto; Kresnayana Yahya di hadapan peserta workshop

Advertisements