Tag Archives: Kanawa

25 Tujuan, 26 Juli, 27 Tahun (Bagian Kedua – Habis)

Link untuk Bagian Pertama:

https://writtenthou.wordpress.com/2014/07/26/25-tujuan-26-juli-27-tahun/

Pulau Sempu. Spot di pantai ini sebenarnya ada banyak dan jauh-jauh. Kalau ingin mengeksplor semuanya, lebih baik siap membangun tenda. Perjalanan menuju ke pantainya harus memasuki hutan, jadi pemandangan sekeliling rindang bin rimbun. Waktu itu karena tidak siap nenda, saya dan teman-teman hanya mengunjungi pantai terdekat saja. Dalam bayangan saya, kalau yang dekat saja secakep ini, gimana yang jauh-jauh? Sayangnya, sama seperti tempat lain yang sudah menjadi perhatian umum, banyak sampah.

Salah satu spot pantai di Pulau Sempu. Foto: Dee
Salah satu spot pantai di Pulau Sempu. Foto: Dee

NTT Labuhan Bajo, Kanawa, Pink Beach, Bidadari. Saya punya cerita khusus di sini, ini adalah tempat pertama yang menurut saya benar-benar membuat merasa serba ‘WAAWW!!!’. Teruskan membaca…

Air terjun Cuncawulang. Menurut saya tempat ini tidak seindah yang didengung-dengungkan oleh orang lain. Pengalaman menarik saya di sana adalah bertemu dengan seorang turis muda dari Perancis yang rela resign (mengundurkan diri) dari jabatannya yang lumayan tinggi di sebuah hotel bintang lima di sana, demi mengelilingi Indonesia selama tiga bulan. Negeri kita ini menjadi tujuannya yang pertama dan utama. Menurut saya itu gila dan luar biasa, emang segampang itu ya nyari kerja di Perancis? Atau dia bela-belain begitu karena saking indahnya Indonesia di mata internasional? Saya bertanya-tanya.

Penanda jalan menuju Air Terjun Cuncawulang
Penanda jalan menuju Air Terjun Cuncawulang. Foto: Dee

Dari sekian destinasi, mana yang paling berkesan dan mengapa?

NTT. Perjalanan pertama backpacking sendirian. Pemandangannya memang jauh lebih cakep dari yang pernah saya lihat di Pulau Jawa. Beberapa tempat seperti P. Kanawa dan Bidadari itu tak terkatakan.

Dermaga untuk memasuki P.Kanawa. Foto: Dee
Dermaga untuk memasuki P.Kanawa. Foto: Dee

Di sana saya juga bertemu dengan ‘teman hidup’ selama seminggu. Seorang asing dari Brisbane dan seorang lain dari Jakarta. Kami baru berkenalan di sana, tapi selama tiga hari menginap di Kanawa kami berbagi menu makan makan yang sama. Nasi putih dan sambal goreng teri kacang tiga kali sehari yang dibawa oleh teman kami dari Jakarta. Kami bertiga memang setipe, sanggup berhemat dan mau menghargai ‘private time’ masing-masing.

Karl, Daru, dan Dee di Labuan Bajo
Karl, Daru, dan Dee di Labuan Bajo. Foto: Dee

Soal makan, kami memang agak mengenaskan. Soal hiburan dari alam, benar-benar istimewa. Seperti kata teman saya, “Alam akan memeliharamu,” sejak naik ke pesawat untuk berangkat ke Labuhan Bajo saya benar-benar pasrah dengan apa yang akan saya dapatkan. Ternyata, dari obrolan dengan sesama penumpang di pesawat, saya mendapat kesempatan untuk nebeng ke Labuhan Bajo. Kalau dibilang kuatir, ada saja perasaan seperti itu. Apalagi sekarang banyak berita trafficking, penculikan untuk penjualan organ dsb. Namun saya pikir tak ada salahnya dicoba, dan saya memang benar-benar bertemu dengan orang baik. Saya diantar ke penginapan, tanpa biaya.

Anak-anak penduduk lokal di Labuan Bajo. Foto: Dee
Anak-anak penduduk lokal di Labuan Bajo. Foto: Dee

Dari labuhan bajo menuju P. Kanawa, tiba-tiba kamera saya rusak. Sebabnya casing anti air yang saya gunakan bocor. Jengkel bukan main rasanya, tepat sebelum acara puncak malah rusak. Sesampai di Pulau Kanawa, cuma ada satu resort yang sebenarnya tidak mahal, kalau yang datang koceknya tebal.

Konsep awal sebenarnya pingin coba yang paling murah, cuma Rp. 275.000/malam berdua, itupun bentuknya bale (semacam pendopo di luar bangunan dan hanya ditutup tirai di semua sisinya). Sensasinya beda dan kelihatan alami banget gitu. Satu bale maksimal bisa digunakan oleh dua orang dewasa. Model bungalow harganya Rp. 350.000 (u/single) per malam. Kalau harus bayar sendiri memang lumayan ‘terasa’, tapi untungnya teman bule kami yang dari Brisbane ternyata juga jatuh cinta dengan pulau itu dan memutuskan untuk ikut dengan kami tinggal di Kanawa selama tiga hari dua malam.

Bertiga, kami dapat tarif khusus Rp. 500.000/ bungalow. Dibagi bertiga untuk semalam itu termasuk murah, apalagi besoknya ada slot kosong untuk model tent alias tenda (jadi kadal dan binatang lain bisa masuk, tapi tenang, tak ada komodo di kanawa). Pindahlah kami ke sana, lumayan cuma Rp. 200.000 untuk dua orang.  Teman yang seorang lagi pakai tenda berbeda. Begitulah, sebenarnya untuk skala resort dengan kualitas pemandangan alam yang begitu aduhai, harga yang kami bayarkan termasuk murah.

Salah satu model penginapan di P. Kanawa. Foto: Dee
Salah satu model penginapan di P. Kanawa. Foto: Dee

Lebih beruntung lagi, manajer resort orangnya baik banget. Mendengar kamera saya rusak, ia menawarkan untuk meminjami saya kameranya. Ternyata jenisnya sama persis dengan kamera saya. Akhirnya saya tetap bisa mengabadikan kekaguman saya di sana. Entah bagaimana, alam benar-benar memelihara saya.

Air sebening kristal di perairan Labuan Bajo
Air sebening kristal di perairan Labuan Bajo

Hal paling mengejutkan apa yang pernah ditemui dalam perjalanan?

Menyenangkan: di NTT saya melihat dengan mata kepala sendiri betapa indah alam Indonesia. Saya jadi paham mengapa orang asing kalau diberi kesempatan traveling biasanya tujuan pertama mereka Indonesia. Waktu di Pulau Kanawa, saya banyak dibantu oleh manajer resort tempat menginap yang sangat menghargai ‘orang Indonesia biasa’ yang datang ke sana. Sebagian besar orang yang datang ke Kanawa adalah turis asing dari Eropa. Kalaupun ada orang Indonesia, biasanya mereka insan perfilman atau media. Backpaker seperti saya amat langka ditemui. Saking baiknya kami sampai diperbolehkan membeli nasi putih seharga 10k dari mereka. Padahal seharusnya orang hanya boleh membeli menu lengkap di sana (yang mahalnya di luar budget kami).

Salah satu pemandangan di P. Kanawa NTT. Foto: Dee
Salah satu pemandangan di P. Kanawa NTT. Foto: Dee

Menyedihkan: di sana saya mendapat banyak informasi, pulau ini milik Itali, pulau yang itu milik Inggris, yang di sini milik Spanyol. Rasanya seperti kita punya rumah tapi tidak ikut memiliki dan tidak bisa apa-apa. Di beberapa tempat, bahkan orang Indonesia dilarang masuk. Pulau Bidadari misalnya, kalau tidak menginap tidak boleh masuk. Itu masih mending, di Togean Sulawesi, jarak beberapa meter dari pulau sudah dipasang tanda yang melarang orang Indonesia untuk masuk. Pemiliknya beranggapan orang Indonesia itu perusak. Walau miris, tapi di satu sisi saya bersyukur, karena pulau indah itu ada yang merawat. Di sisi lain, sedih bukan main karena sebagai orang Indonesia, saya tidak bisa ikut menikmati apa yang ada di negeri saya sendiri.

Kondisi Alam Labuan Bajo
Kondisi Alam Labuan Bajo. Foto: Dee

Bagaimana cara mengatur budget dan perencanaan ke depan?

Hobi saya memang terhitung mahal. Saya berusaha mengatur dengan langsung membagi uang saya berdasarkan tujuan begitu saya gajian. Tidak rumit, langsung saja dipotong untuk perpuluhan gereja, arisan keluarga (tabungan masa depan saya), uang bulanan untuk orang tua, asuransi, dan biaya hidup. Sisanya yah buat jalan-jalan. Prinsipnya, selama uang itu masih bisa dibelanjakan di negeri sendiri, meskipun bisa dipakai keluar negeri lebih baik habiskan buat jalan-jalan di Indonesia. Soal destinasi wisata, tidak ada yang lebih baik dari Indonesia. Buktinya orang asing saja datang ke Indonesia.

Labuan Bajo, pemandangan dari atas bukit. Foto: Dee
Labuan Bajo, pemandangan dari atas bukit. Foto: Dee

 

Demikianlah, sekelumit catatan perjalanan seorang Dee. Penulis mohon maaf karena bagian kedua tulisan tentang perjalanan ini tidak kunjung diunggah-unggah. Ada saja halangan merintang saat mau mengunggah. Setidaknya, kini sudah berhasil diunggah hingga tuntas. Semoga di kesempatan berikutnya penulis mengalami peningkatan kualitas.

Terima kasih pada para pembaca, untuk waktu dan perhatian akan tulisan ini. Kritik, saran, dan request ditunggu dengan sepenuh hati. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya…(^0~)/

Advertisements