Tag Archives: fight club quotes

a Very – Pissed – Off – Ordinary fellow (^0~)/ (alias orang biasa yang super jengkel)

“Advertising has us chasing cars and clothes, working jobs we hate so we can buy shit we don’t need. We’re the middle children of history, man. No purpose or place. We have no Great War. No Great Depression. Our great war is a spiritual war. Our great depression is our lives. We’ve all been raised on television to believe that one day we’d all be millionaires, and movie gods, and rock stars, but we won’t. We’re slowly learning that fact. And we’re very, very pissed off.”

Quote by Tyler Durden, from the movie ‘Fight Club’ based on the novel by Chuck Palahniuk

Translation in Bahasa;

“Reklame membuat kita mengejar ambisi untuk memiliki mobil dan baju-baju, mengerjakan aneka pekerjaan yang kita benci agar bisa membeli barang-barang yang sebenarnya tak kita butuhkan. Kita adalah anak tengah di dalam sejarah, bung. Tak punya tujuan dan tak punya tempat. Kita tak punya perang akbar, tak punya masa depresi besar. Perang akbar kita adalah perang spiritual, dan masa depresi besar kita adalah kehidupan kita. Kita semua dibesarkan dengan televisi untuk percaya bahwa suatu hari kita semua akan menjadi miliuner, dewa – dewi perfilman, dan bintang rock. Tapi kita takkan menjadi itu. Perlahan-lahan kita mempelajari fakta itu dan kita amat, sangat jengkel.”

(Kutipan oleh Tyler Durden, karakter dalam film ‘Fight Club’ berdasarkan novel berjudul sama oleh Chuck Palahniuk)

Kalimat itu menohokku tepat di harga diri, entah dimanapun letaknya itu.
Sakit yang pasti…(T0T)

Sakit karena benar, kenyataan bicara, aku memang berambisi ingin punya mobil bagus, baju-baju dan barang-barang keren, pernah kubanting tulang serta kupasang ekspresi aneka muka aspal (asli muka ku tapi palsu niatan dan perasaannya) demi bertahan di pekerjaan yang sebenarnya kubenci, semata karena gajinya gede dan bisa dipake buat belanja (yang ujung-ujungnya malah bikin aku perlu cari duit lagi).

cr. to funnypictureplus.com

…pengalaman itu benar-benar ‘memakan’ tubuhku secara harfiah, sebelum usiaku genap 24 (bahkan belum sampai seperempat abad) aku sudah beberapa kali masuk RS karena kelelahan tingkat gawat. fiuhhh. \(@_@)\

Buodohnya, sewaktu orang-orang di sekitarku mengkhawatirkanku, aku malah merasa bangga dengan gaya hidupku, predikat ‘worcaholic‘ yang di mataku hampir sekeren ksatria penunggang kuda jingkrak di mata anak TK pecinta dongeng-dongeng lebay yang endingnya selalu ‘happily ever after‘.

Setelah beberapa kali mengulang kebodohan dan nyaris tewas, barulah aku menyadari…(T0T)…Jelas ada yang salah dengan cara pikirku, atau pendidikan yang kudapatkan sampai aku jadi berpikiran seperti itu. Kulihat sekeliling dan beberapa orang terdekatku ternyata juga mengulangi siklus yang sama mengenaskannya. Mereka adalah orang-orang yang sangat berharga bagiku dan kuhormati sebagai panutan. Jika ditilik dari sejarah pendidikan, kami termasuk deretan yang cukup sering diberi cap ‘berprestasi’. Kini, persamaan dari kami semua setidaknya ada dua; masalah kesehatan, dan tidak bahagia. Apalah artinya predikat ‘pandai’ dan piala berkilau di lemari yang terlupakan jika orangnya sendiri tidak bahagia?

Nihil dong….(T____T)”

Kalau begitu, mana yang lebih penting;

Standar kesuksesan di mata kebanyakan orang?,

atau model kehidupan dan penampilan ideal seperti yang biasa ditampilkan iklan?,

atau perasaan bahagia yang dimiliki setiap orang secara pribadi dan unik?

Berdasarkan pengalaman, kebahagiaan yang benar-benar kurasakan meski hanya berasal dari hal remeh (seperti nemu jajanan enak bareng sesama penyuka makanan) terasa jauh lebih nyata dan melekat daripada baju mahal atau gadget super canggih yang menguras kantong. Kalau mau bicara apa adanya, banyak juga orang yang ngotot beli baju kuerennn dan gadget cuanggih dengan harga yang ngajak miskin (walau gak paham cara pakainya) demi nongkrong di tempat keren bersama kumpulan yang keren juga. Nah loh, pada dasarnya mereka juga mengejar pemenuhan kebutuhan untuk diterima dalam suatu kelompok yang ‘nyaman’ kan?

Aku bersyukur kini bisa menemukan kenyamanan – kenyamanan itu tanpa harus terus membayar terlalu mahal. \(^0^)/

Tak perlu bersusah bayang, mulailah menghargai hal-hal sederhana yang mudah kita dapatkan, maka bahagia dengan diri kita apa adanya juga jadi lebih mudah

\(^_^)/

and (hopefully) we will not be one of those very pissed off ordinary fellow…

credit to; http://ok2disconnectportfolio.wordpress.com
Advertisements