Category Archives: with opinion (^.^)

Vensca : Not Just an Empty Beauty

Fotografer: Lukas Surya Atmaja Lokasi: Kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Pakuwon City
Fotografer: Lukas Surya Atmaja
Lokasi: Kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
Pakuwon City

Vensca Veronica Tanus namanya. Dara kelahiran Luwuk, 7 Februari 1995 ini telah mengukir sejumlah prestasi tingkat nasional di sela-sela kesibukannya menuntut ilmu. Baik di bidang akademik maupun non akademik, berbagai kompetisi diikutinya demi mencari bekal pengalaman. Mulai dari kompetisi fisika, hingga pemilihan Putri Indonesia semua sudah pernah dijalaninya. Vensca memang belum menjadi juara utama di ajang Putri Indonesia, namun potensinya kian terasah untuk menjadi lebih dari sekedar ratu kecantikan. Kini Vensca sedang menempuh semester dua kuliahnya di jurusan IBM FB WM. Meski kegiatan non akademik memadati jadwalnya, Vensca tetap mementingkan pencapaian di bidang akademik, terbukti dengan IPS 3,85 yang diraihnya. Berikut bincang-bincang Vensca dengan saya selaku HuMas di Widya Mandala.

Bagaimana ceritanya dari Gorontalo bisa bergabung ke IBM WM?

Saya lahir di Luwuk Sulawesi Tengah, lalu setelah lulus SD sekeluarga pindah ke Gorontalo demi usaha. Di sana salah satu keluarga adalah lulusan WM dan teman dekat saya ada yang kuliah di WM Surabaya. Awalnya, karena sempat menunda kuliah selama setahun jadi bingung dalam menentukan jurusan. Di jurusan IBM WM, saya berharap bukan sekedar belajar menguasai ilmu bisnis namun sekaligus mengasah Bahasa Inggris, sehingga sekali jalan setidaknya dapat dua manfaat.

Apakah memang sedari kecil sudah berminat di dunia kontes kecantikan?

Bermula dari usia 3 tahun sudah diikutkan kontes oleh Ibu. Terus berkembang mengikuti bermacam kompetisi sampai sering dicari oleh pihak sekolah dan diminta jadi perwakilan. Saya sendiri sangat senang menari dan baru menyadari potensi saya saat terpilih menjadi mayoret pada waktu SMP. Seleksinya susah dan prosesnya panjang. Awalnya memang kurang suka mengikuti kegiatan-kegiatan ini karena melelahkan. Saya juga ingin fokus agar punya nilai akademik yang bagus, namun setelah berjuang dari bukan siapa-siapa hingga mulai dicari oleh berbagai pihak, jadi merasa tertantang. Saya selalu berpikir; selagi saya bisa lebih baik dicoba.

Berlaga mulai dari bidang akademis sampai kontes kecantikan, apa yang paling berkesan?

Terbentur masalah keluarga, saya terpaksa menunda kuliah selama setahun. Saat itu Ibu yang mendorong saya mencari kegiatan untuk mengasah kemampuan. Titik balik pembelajaran saya di dunia beauty pageant saya dapatkan saat mengikuti kontes pemilihan duta wisata dari Gorontalo. Sebelumnya provinsi Gorontalo belum pernah masuk hitungan di tingkat nasional, menjadi bagian dari 10 besar itu saja sudah sangat luar biasa. Saat itu saya menjadi peserta termuda berusia 17 tahun melawan banyak pesaing yang jauh lebih senior. Berbagai diskriminasi saya alami, mulai dari segi agama yang masuk kaum minoritas hingga prasangka bahwa saya pasti minim kemampuan karena faktor usia. Beruntung tahun itu jurinya yang didatangkan dari Jakarta menilai dengan profesional. Kami tidak menyangka bisa menang dan diberangkatkan ke Denpasar. Minim dukungan, saya ajak partner satu tim untuk bekerja sama menampilkan yang terbaik, termasuk komitmen untuk berlatih intensif dan mengeluarkan biaya sendiri demi mendatangkan pelatih professional. Kami pun jadi juara dua dan akhirnya biaya ditanggung oleh dinas pariwisata. Saat itulah saya benar-benar belajar banyak hal, termasuk bagaimana bersikap lebih ‘matang’ dan mengendalikan diri saat bertemu dengan orang-orang penting seperti gubernur dsb.

taken on the stairs of Widya Mandala Catholic University Surabaya by Lukas S Atmaja
this picture of Vensca was taken on the stairs of Widya Mandala Catholic University Surabaya by Lukas S Atmaja

Apa yang paling berat untuk dihadapi bagi seorang Vensca?

Merasa sudah bekerja keras tapi dihujat tanpa alasan yang jelas. Aneka komentar sadis tak bertanggung jawab di media sosial, maupun yang berasal dari orang-orang sekitar baik yang saya kenal maupun tidak. Ada prasangka bahwa pengikut kontes kecantikan seringkali hanya bermodal penampilan namun kosong kecerdasannya. Mereka tidak mengetahui kerja keras yang saya lakukan demi mendapatkan apa yang saya miliki. Namun saya juga punya kekurangan, misalnya kurang disiplin tepat waktu, kurang disiplin dalam komitmen menjaga berat badan demi tuntutan penampilan. Untuk mengatasinya saya harus selalu introspeksi dan tahu diri dengan melihat bagaimana orang lain bersikap terhadap saya.

Bagaimana dengan rencana untuk masa depan?

Saya sadar tidak selamanya bisa mengikuti kontes maupun kompetisi lain seperti sekarang. Demi masa depan inilah saya melanjutkan kuliah di IBM WM, lulus kuliah saya ingin bekerja di perusahaan yang membuat saya bisa mengumpulkan modal untuk memulai bisnis sendiri dan membantu orang tua. Saya ingin mendirikan suatu bisnis yang bisa mewakili nama Indonesia di kancah internasional. Oleh sebab itu, selagi saya bisa, saya ingin mencari pengalaman sebanyak mungkin di berbagai bidang, bertemu dengan orang-orang baru dan terus belajar hal baru.

The picture was taken in the campus's front yard by Lukas S Atmaja
The picture was taken in the campus’s front yard by Lukas S Atmaja

Catatan di balik pengambilan gambar;

Seringkali orang berpendapat sambil lalu, bahwa menjadi model dan fotografer itu enak. Kerjaannya cuma gonta ganti baju, dandan, pose dan dijepret kamera. Fotografer juga tinggal cekrak- cekrik aja uda bisa dapat duit dengan gampang. Hari itu, saya menyaksikan sendiri bagaimana susahnya menghasilkan gambar cantik-cantik dan indah seperti yang saya posting di atas. Foto ke-3 yang saya tampilkan diambil di bawah sengatan sinar mentari tengah hari musim kemarau di Surabaya – Indonesia. Dalam musim kemarau standar Surabaya, rerata suhu dalam ruangan adalah 38 hingga 40 derajat celcius. Coba bayangkan bagaimana panasnya di luar? Niscaya kita bisa membuat telur ceplok setengah matang di atas jidat masing-masing. Proses pengambilan gambar di belantara semak liar berduri ini memakan waktu kurang lebih 45 menit. Di sela-sela tetesan peluh sebesar biji jagung yang menggantung di dagu, saat itu saya merasa beruntung. Suatu kehormatan bisa menyaksikan dua orang dari generasi yang lebih muda dari saya ini bekerja keras.

Dalam foto tersebut, Vensca tersenyum seraya memainkan bunga liar. Seakan sekelilingnya sejuk dan menyenangkan. Padahal gambar itu diambil pada saat dia baru saja jatuh terjerembab. Awalnya, saya hanya meminta dia mengambil pose dalam keadaan berdiri, namun setelah terjatuh, Vensca meminta sendiri kepada kami untuk terus mengambil foto. “Kepalang tanggung, terusin aja. Kayaknya bagus juga kayak begini,” ujarnya santai. Baru setelah foto-foto selesai diambil, dan Vensca bangkit berdiri…saya melihat segaris darah di kakinya. Dia sama sekali tidak mengeluh capek maupun sakit saat itu. Memang luka itu tidak parah, tapi dalam hati saya sudah salut pada gadis ini. Saya cukup sering mengadakan sesi foto, dan pernah menemui orang-orang yang sudah mengeluh capek dll walau difoto dalam studio ber-AC dan tidak sampai luka-luka. Vensca peraih prestasi yang tergolong luar biasa, dan ia tidak mengeluh sama sekali. Kecantikannya jelas bukanlah kecantikan kosong belaka seperti yang dengan gampang ditudingkan oleh orang-orang berpandangan sempit kepada peserta kontes-kontes kecantikan.

Lukas Surya Atmaja, yang menjadi fotografer saat itu juga besar jasanya. Gambar-gambar indah ini takkan ada tanpa dia bersusah payah berjongkok membenamkan diri di antara belukar (yang ternyata) berduri. Bahkan saya yang waktu itu membantu menyingkirkan bunga-bunga duri (berjumlah puluhan) dari bajunya saja sampai ikutan berdarah. Memang, untuk mendapatkan sudut pandang yang tepat, seorang fotografer profesional harus mau ‘berjungkir balik’ yang kadang-kadang kelihatan seperti melakukan stunt berbahaya di film. Lukas masih seorang mahasiswa, tapi kualitas foto-foto hasil jepretannya tidak perlu diragukan. Ia sudah pernah disalami oleh Presiden SBY sendiri setelah karyanya memenangkan suatu lomba fotografi. Jadi gumpalan duri-duri itu bukan apa-apa baginya yang memang suka mengambil foto outdoor.

Tulisan ini saya dedikasikan bagi mereka berdua, dan bagi mereka yang menghargai kecantikan yang berharga. Not just an empty beauty.

Advertisements

Omong (ga) Kosong soal Cinta

Suasana hatiku sedang setengah muram.
Mereka bilang, saat suasana hati resah, janganlah bicara.
Kuketik saja segala yang lewat di pikiran.
Kisah cinta.
Dan…
Bull shit.
Sama-sama terdiri dari dua kata.
Sama-sama tak semua orang suka melihatnya.
Walau sebenarnya sama-sama banyak gunanya.

Omong kosong dan kisah cinta, keduanya berada di awang-awang benak.
Memberi sentuhan bumbu dalam kehidupan.
Tapi karena pakai kata yang beda.
Perlakuannya jadi beda.
Kalau ada yang menyamakan bakal diprotes orang sedunia.
Syukur kalau ada yang mikir duluan sebelum mencerca.

Kisah cinta ada di mana-mana.
Dari ujung parkiran mall hingga pojokan taman perumahan.
Dari yang terlarang sampai yang dielu-elukan.
Dari yang bikin risih sampai bikin terpesona.
Dari yang tulus sampai yang komersial.
Dari yang suci sampai yang maksiat.
Silakan dipuja, silakan dicerca.
Hak mereka semua untuk bercinta.
Hak kalian juga untuk melihat sembari merana.
Semoga masih ingat kewajiban juga untuk tetap saling jaga rasa.

Omong kosong juga ada di mana-mana.
Dari rumah tangga sampai Istana Negara.
Dari yang ilegal sampai yang dilindungi oleh peraturan.
Dari yang dipercaya sampai yang dinista.
Dari yang demi kebaikan pribadi hingga kebaikan bersama.
Dari yang memang perlu hingga sekadar kebiasaan.
Silakan didengar silakan kalau mau dilupakan.
Hak mereka semua untuk bicara.
Hak kalian juga untuk memilih percaya.
Semoga masih ingat rasanya kecewa, biar bisa belajar apa saja yang ternyata berharga.

Things We Can Learn from a Dog

Today, I almost fainted in a toilet of a restaurant due to fatigue. (~.~)”

Since it was in an individual female toilet room, and I didn’t even had enough energy to scream for help…(though actually I didn’t plan to do it, my dignity shout at me first before I scream for help in that kind of condition, I know it’s bad…it’s me (~_~)”…)
I decided to squat for a while, trying to regain my strength and focus.
After several minutes, in an awkward pose, suddenly my eyes spoted a picture.
An old picture of a fine golden retriever in a frame, covered with spots of mold, hanged on the wall beside me.
Beside the dog, there are words written beautifully;

Things We Can Learn from a Dog

1. When loves one come, always run to greet them
2. Run, romp, and play daily
3. Be loyal
4. Never pretend to be something you are not
5. If what you want lies buried, dig until you find it
6. When someone is having a bad day, be silent, sit close, and nuzzle them gently
7. Delight in the simple joy of a long walk
8. Avoid biting when a simple growl will do
9. No matter how often you are critized, don’t buy into the guilt thing and pout
10. Run right back and make friends

I wrote only 10 things, maybe you could find more (^0^)/
After read those words, I feel grateful.
It’s not my choice to be almost fainted in a place such like that. But those words successfully carved a smile on my face.
That picture maybe old, covered in mold and forgotten, yet it bring a good impact to my feeling.
Therefore, I share it \(^.^)/

These things are real, base on my own experience;
I do have some dogs, each of my dogs have different personality, but all the things I’ve mention above, are general traits. It could be mean I’m lucky having such a wonderful dog(s) in my life, since i know some people who doesn’t appreciate them as I do. Well…every human being is unique, they have their own reason.

My beloved dog _(^.^)/

a Very – Pissed – Off – Ordinary fellow (^0~)/ (alias orang biasa yang super jengkel)

“Advertising has us chasing cars and clothes, working jobs we hate so we can buy shit we don’t need. We’re the middle children of history, man. No purpose or place. We have no Great War. No Great Depression. Our great war is a spiritual war. Our great depression is our lives. We’ve all been raised on television to believe that one day we’d all be millionaires, and movie gods, and rock stars, but we won’t. We’re slowly learning that fact. And we’re very, very pissed off.”

Quote by Tyler Durden, from the movie ‘Fight Club’ based on the novel by Chuck Palahniuk

Translation in Bahasa;

“Reklame membuat kita mengejar ambisi untuk memiliki mobil dan baju-baju, mengerjakan aneka pekerjaan yang kita benci agar bisa membeli barang-barang yang sebenarnya tak kita butuhkan. Kita adalah anak tengah di dalam sejarah, bung. Tak punya tujuan dan tak punya tempat. Kita tak punya perang akbar, tak punya masa depresi besar. Perang akbar kita adalah perang spiritual, dan masa depresi besar kita adalah kehidupan kita. Kita semua dibesarkan dengan televisi untuk percaya bahwa suatu hari kita semua akan menjadi miliuner, dewa – dewi perfilman, dan bintang rock. Tapi kita takkan menjadi itu. Perlahan-lahan kita mempelajari fakta itu dan kita amat, sangat jengkel.”

(Kutipan oleh Tyler Durden, karakter dalam film ‘Fight Club’ berdasarkan novel berjudul sama oleh Chuck Palahniuk)

Kalimat itu menohokku tepat di harga diri, entah dimanapun letaknya itu.
Sakit yang pasti…(T0T)

Sakit karena benar, kenyataan bicara, aku memang berambisi ingin punya mobil bagus, baju-baju dan barang-barang keren, pernah kubanting tulang serta kupasang ekspresi aneka muka aspal (asli muka ku tapi palsu niatan dan perasaannya) demi bertahan di pekerjaan yang sebenarnya kubenci, semata karena gajinya gede dan bisa dipake buat belanja (yang ujung-ujungnya malah bikin aku perlu cari duit lagi).

cr. to funnypictureplus.com

…pengalaman itu benar-benar ‘memakan’ tubuhku secara harfiah, sebelum usiaku genap 24 (bahkan belum sampai seperempat abad) aku sudah beberapa kali masuk RS karena kelelahan tingkat gawat. fiuhhh. \(@_@)\

Buodohnya, sewaktu orang-orang di sekitarku mengkhawatirkanku, aku malah merasa bangga dengan gaya hidupku, predikat ‘worcaholic‘ yang di mataku hampir sekeren ksatria penunggang kuda jingkrak di mata anak TK pecinta dongeng-dongeng lebay yang endingnya selalu ‘happily ever after‘.

Setelah beberapa kali mengulang kebodohan dan nyaris tewas, barulah aku menyadari…(T0T)…Jelas ada yang salah dengan cara pikirku, atau pendidikan yang kudapatkan sampai aku jadi berpikiran seperti itu. Kulihat sekeliling dan beberapa orang terdekatku ternyata juga mengulangi siklus yang sama mengenaskannya. Mereka adalah orang-orang yang sangat berharga bagiku dan kuhormati sebagai panutan. Jika ditilik dari sejarah pendidikan, kami termasuk deretan yang cukup sering diberi cap ‘berprestasi’. Kini, persamaan dari kami semua setidaknya ada dua; masalah kesehatan, dan tidak bahagia. Apalah artinya predikat ‘pandai’ dan piala berkilau di lemari yang terlupakan jika orangnya sendiri tidak bahagia?

Nihil dong….(T____T)”

Kalau begitu, mana yang lebih penting;

Standar kesuksesan di mata kebanyakan orang?,

atau model kehidupan dan penampilan ideal seperti yang biasa ditampilkan iklan?,

atau perasaan bahagia yang dimiliki setiap orang secara pribadi dan unik?

Berdasarkan pengalaman, kebahagiaan yang benar-benar kurasakan meski hanya berasal dari hal remeh (seperti nemu jajanan enak bareng sesama penyuka makanan) terasa jauh lebih nyata dan melekat daripada baju mahal atau gadget super canggih yang menguras kantong. Kalau mau bicara apa adanya, banyak juga orang yang ngotot beli baju kuerennn dan gadget cuanggih dengan harga yang ngajak miskin (walau gak paham cara pakainya) demi nongkrong di tempat keren bersama kumpulan yang keren juga. Nah loh, pada dasarnya mereka juga mengejar pemenuhan kebutuhan untuk diterima dalam suatu kelompok yang ‘nyaman’ kan?

Aku bersyukur kini bisa menemukan kenyamanan – kenyamanan itu tanpa harus terus membayar terlalu mahal. \(^0^)/

Tak perlu bersusah bayang, mulailah menghargai hal-hal sederhana yang mudah kita dapatkan, maka bahagia dengan diri kita apa adanya juga jadi lebih mudah

\(^_^)/

and (hopefully) we will not be one of those very pissed off ordinary fellow…

credit to; http://ok2disconnectportfolio.wordpress.com

Sengsara Membawa Hikmah ( true story,…bukan review sinetron jadul) (^0^)/

Kantorku adalah perusahaan kecil yang berkembang dengan pesat kalo dibandingkan dengan efek global warming. Gedung kantornya adalah bekas rumah jadul yang masih berdiri kokoh muantab hingga sekarang, tahun lalu bagian depannya direnovasi dengan itikad ‘biar lebih fungsional dan enak dilihat’. Waktu di renovasi, departemenku yang hanya berisi tiga orang personil terpaksa hijrah ke ‘ruangan belakang’ alias gudang. Terpaksa kami harus berdesakan dengan personil staff gudang lantaran ‘kamar’ tempat kami bekerja diserbu debu dan bungkahan pecahan bata, semen yang kemungkinan besar umurnya lebih tua dari kami semua.

Sewaktu menghuni ‘kantor sementara’ kami di pojok belakang bangunan yang kelihatan mengenaskan, lembab, muram dan sering terdengar bunyi-bunyian aneh itu, kami mulai mendaftar hal yang kami benci dari tempat kami bekerja. Hasilnya ternyata hampir sama semua, bahkan tetangga baru kami (staff gudang yang terpaksa hijrah juga itu) juga merasakan ‘idem’ yang kuat. Ramai-ramai kami merayu kepala departemen agar protes ke bos kami agar kantor kami dipindahkan sementara ke tempat yang lebih layak, karena sebagian rekan kerja kami sudah dipindah dulu ke gedung lain sebulan sebelum renovasi.

Hasilnya adalah ‘Iya’ yang tidak tegas dan ‘tunggu tanggal mainnya’ yang makin lama makin tak masuk akal. Kami benar-benar merasa diiming-imingi saja dan jatuh sakit bergantian. Masker pun jadi masuk dalam daftar peralatan kantor yang harus kami beli setiap minggu. Puncaknya adalah saat melihat rekan seruangan asmanya kambuh dan tak punya pilihan selain berjongkok di depan kipas angin yang nyaris tiada guna untuk mengatasi kepengapan ruangan tempat kami bekerja. Melihat warna muka dan bunyi nafasnya saat itu (yang bersahut-sahutan dengan suara renovasi gedung), perasaan kami mungkin hampir sama dengan perasaan korban bencana alam di pengungsian…fiuh! Untunglah teman kami kemudian pulih setelah minum obat anti alergi (asmanya dipicu oleh alergi debu). Bahkan setelah itu, kami tetap tidak dipindah ke tempat yang lebih layak! ckckckckckck, hiks. (T_T)/
Tapi masa-masa kami berdesakan di ruang kerja yang tidak layak itu bukannya tidak ada hikmahnya. Berikut ini adalah hal baik yang kami dapatkan dari masa menyelami neraka kantor saat itu;
1. Hubungan antar personel jadi lebih dekat lantaran ruangan 4×5 mtr dibagi untuk 4-5 orang, mau tidak mau kami berkomunikasi dari hati ke hati maupun dari senggol menyenggol (untungnya kami semua satu gender, jadi tidak ada yang protes dilecehkan)
2. Kami jadi sering saling transfer lauk pauk dan setiap hari makan siang bersama berdesakan di meja yang paling kecil. Bukannya kami menyiksa diri, tapi itu bermula dari dua orang dari kami saling mendekat saat sama-sama terlambat makan siang, berlanjut jadi semua ikutan. Tak pernah ada yang memusingkan kenapa kami bertahan di meja yang justru paling sempit itu. Kebiasaan makan semeja dan saling berbagi atau tukar menukar dan memajak lauk itu tetep kami pertahankan bahkan saat ruangan kantor baru kami sudah jadi dan sehari-harinya kami pisah ruang lantaran beda departemen (…dan sampai hari ini masih tetap berjalan (^0^)/ )
3. Menjadi dekat karena menanggung derita bersama itu menciptakan semacam ‘ikatan khusus’ di antara kami, latar belakang kami beda-beda, kerjaannya juga beda, bahkan tempat tinggal juga saling berjauhan, kalau mau dilihat dari skala umur juga tidak ada yang sepantaran, tapi kami semua nyambung, dan tanpa sengaja, jadi terasa ada ‘keluarga’ kedua di kantor kami yang menjengkelkan ini. Kami selalu ingat satu sama lain saat jauh dan ingat membawakan sesuatu untuk dibagi dan dinikmati bersama. Kami bahkan punya brankas camilan yang kami isi bergantian untuk dinikmati sambil bekerja ataupun sambil ngobrol di istirahat makan siang

Begitulah, gedung kantor kami pun berubah bentuk (sebagian). Kebiasaan kami pun ikutan berubah. Kami tetap tidak suka pengalaman tersiksa di ruangan pengap yang suram dan terpaksa menghirup debu setiap hari. Namun walau tidak pernah mengakuinya terang-terangan, kami senang dengan kebiasaan berbagi yang tetap kami jalankan setelah kami tak lagi tersiksa bersama \(^0^)/

Sebagaimana yang diajarkan dalam setiap agama, terdapat hikmah yang patut disyukuri di balik penderitaan yang kita jalani.

Thanks for reading (^.~)/

salah satu yang sering kami bagi

update info;

Sekarang kami bekerja di lantai dua sebuah gedung yang jauh lebih memadai, banyak fasilitas dibenahi dan segalanya terasa lebih membuat semangat bekerja (setidaknya pada diriku (>.<)/…)

Sirkulasi udara lebih terjamin dan kebersihan dijaga bersama secara sadar dan sukarela. Sungguh patut disyukuri \(^_^)/…semoga segalanya tetap lancar dan berkembang semakin baik. Amen.

lalu nasib gedung lama kami?…

ditinggalkan dan dipasrahkan pada mereka yang memang layak menempatinya

\(^_^)_

EACH of US HAS UNIQUE ABILITIes \(^0^)/

I am only one; but still I am one. I cannot do everything; but still I can do something; and because I cannot do everything, I will not refuse to do the something that I can do.

Quote by: Edward Everett Hale, in Jeanie Ashley Bates Greenough, A Year of Beautiful Thoughts‎ (1902), p. 172. This is often misattributed to Helen Keller since the 1980s.

Terjemahan dalam Bahasa;

Aku hanya satu, tapi tetap aku masih ada satu.
Aku tak bisa melakukan segala sesuatu, tapi aku masih bisa melakukan sesuatu; dan karena aku tak bisa melakukan segala hal, aku takkan menolak untuk melakukan sesuatu yang bisa kulakukan.

hmmmm (@_@)

kalau diterjemahkan serius gitu jadi lumayan ruwet yah?
Pada intinya, menurutku kutipan dari Edward E. Hale ini cocok bagi setiap orang yang sedang merasa tak berdaya atau kurang kemampuan.
Setiap orang terlahir unik, seawam apapun kedudukan dan latar belakangnya selalu ada sesuatu yang membuatnya berbeda dari yang lain.

Kabar baiknya, perbedaan itu bisa jadi bagus-bagus loh (^0^)/. Bagaikan bumbu-bumbu dalam masakan, kita semua punya cita rasa khas yang kalau digabungkan bisa membuat rasa yang ‘mak nyuzz’. Seringkali memang kita tak menyadarinya, atau nasib yang lebih ngenes lagi adalah kalau kita menyadarinya dan lumayan bangga tapi malah oleh orang lain dianggap tidak penting, blaz. (T_T)”

Sebenarnya sih, pendapat orang bagaimana, apa itu bisa benar-benar mengubah siapa kita sebenarnya?

Bukankah memang tak satupun dari kita semua tahu bagaimana rasanya menjadi orang lain?

Kenapa juga kita merasa harus menilai diri sendiri dengan standar orang lain?

Ada yang bilang itu otomatis, lantaran kita ini makhluk sosial yang hidupnya selalu berada di sekitar orang lain. Ada juga yang bilang tidak harus, tapi tanpa sadar jadi begitu lantaran semua orang melakukannya (ini tipe yang lebih ngenes lagi, bahkan dalam pembelaannya pun masih saja membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain, (T__T)”). Kenyataannya, apapun alasannya, membandingkan diri dengan siapapun tak menjamin kita meraih kebahagiaan.

Jadi daripada menghabiskan waktu untuk menyesali apa yang tak mampu kita lakukan, bukankah lebih baik bersyukur dengan apa yang kita miliki dan fokus pada hal-hal yang memang sanggup kita kerjakan?

Aku percaya, setiap dari kita memiliki fungsi yang unik untuk menopang kehidupan.

Tak seorangpun, siapapun, dimanapun, kapanpun berhak mengatakan bahwa kita ini sia-sia.

tak seorangpun, terutama diri kita sendiri.

(^0^)/

God’s creation are unique, including us _(^0^)/

Jealousy

Cemburu.

Adalah hal yang baru bagiku.

Sebelumnya, aku tak pernah merasa ingin memiliki sesuatu seutuhnya hanya untuk diriku sendiri.

Biasanya aku adalah orang yang dengan senang hati berbagi.

Namun tidak kali ini.

Aku tidak rela berbagi senyum itu dengan orang lain.

Aku tidak rela berbagi suara lembut itu dengan siapapun.

Aku bahkan tidak rela air matanya dilihat oleh orang lain.

Dia harus jadi milikku saja, atau tidak sama sekali.

Orang bilang itu posesif.

Ada yang bilang ini cinta.

Dia bilang aku tak punya rasa percaya.

Bagiku ini menyakitkan.

Aku tak yakin ini bakal berakhir baik.

Aku tak yakin ini bakal ada akhirnya.

Aku juga tak tahu apa penyebabnya.

Dia tidak kelihatan begitu istimewa.

Aku juga tidak tergila-gila kepadanya.

Tapi kenapa aku jadi begini?

Apa aku egois?

Aku tak ingin berbagi perhatiannya dengan siapapun.

Aku tak ingin berbagi waktunya dengan siapapun.

Aku tak ingin berbagi dirinya dengan siapapun.

Tapi aku tak ingin kebebasanku hilang.

Katakan padaku,

Apa aku tidak dewasa?

Apa keinginanku tak sehat?

Kupikir juga begitu.

Tapi susah sekali mengendalikan keinginan itu  begitu memilikinya.

Keinginan itu bagaikan setan rupawan yang menari-nari di pangkuanku.

Menahan kedua tanganku untuk tak merengkuh pinggangnya sungguh terasa melelahkan.

Saat ini aku bertahan dengan akal sehatku untuk tidak menuruti keinginan itu.

Namun aku tak tahu, seberapa kuat aku bisa menahan.

Merpati yang dipegang terlalu rapat akan mati karena sayapnya remuk.

Cinta yang digenggam terlalu kuat akan berubah menjadi penjara yang menyesakkan.

Jika kita memutuskan mengambil resiko dan tetap melakukannya, apa kita siap menanggungnya saat tak tersisa apapun lagi untuk satu sama lain?

Bagaimanapun harapan kita, tiada yang abadi di dunia ini.

Apakah kita sudah siap, bila segala hasrat hilang, dan perasaan memudar?

Satu hal yang pasti,

kita selalu punya pilihan untuk sekedar menjalani dan menikmatinya…(^0^)/

Cemburu.

Daripada mengatakannya sebagai hal yang wajar, aku lebih bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang tak bisa kita hindari.

Bagian dari kualitas manusiawi kita yang tak pernah benar-benar bisa lepas dari masa kanak-kanak.

Setiap dari kita memiliki kelemahan di dalam diri.

Cinta mempengaruhi kita begitu kuat, sehingga saat itu diuji, sisi lemah diri kita yang tersembunyi jauh di dalam meraung keluar, melakukan perlawanan.

Layaknya anak kecil yang tak sudi berbagi kesenangannya.

Sekuat itulah cinta mempengaruhi kita, membuat orang dewasa kembali menjadi anak kecil.

Begitu rapuh dan tak tahu apa yang tepat untuk dilakukan, namun begitu bersikeras mempertahankan apa yang disukai.

Lawan manusia dalam hidup bukan hanya orang lain, lawan terhebat justru berasal dari dalam diri masing-masing. 

Menurutku, itu bisa disyukuri.\(^0^)/

Karena pengalaman seperti itulah yang menempa hati kita untuk menjadi lebih kuat.

Our Finest Moment \(^.^)/

Pernahkah kau merindukan masa-masa yang telah lalu?

atau terkenang teman-teman lama yang hilang entah kemana?

Ingat akan pengalaman terbaik dalam hidup,…
ataupun yang terburuk seumur hidup (X_X).

Seperti apapun masa lalumu, itu takkan pernah terulang sama persis kembali untuk kedua kalinya,…
itulah sebabnya, masa-masa itu begitu berharga (^0^)/.

Selagi kau menjalani masa kini, syukuri dan nikmatilah.
Takkan ada lagi momen yang sama \(^.~)/

 

Never Forget the Way You Make Me Feels

“I’ve learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”
-Maya Angelou- quotes (American Poet, b.1928)

“Aku belajar bahwa orang-orang bisa saja melupakan perkataanmu, perbuatanmu, tetapi mereka takkan pernah lupa bagaimana perasaan yang kau timbulkan”

oleh Maya Angelou, Pujangga Amerika (lahir 1928)

Memang benar kan?
Itulah kenapa, kesan pertama bisa begitu menggoda, sekaligus bisa begitu mengerikan (^0~)/.
Namun yang penting bukan hanya sekedar kesan pertama, tetapi bagaimana kau membuat kesan bagi orang-orang di sekelilingmu..
Karena perasaan yang kautimbulkan menentukan bagaimana perlakuan mereka padamu juga.
 
Ini mungkin terdengar sepele, tetapi kenyataannya kita selalu memiliki harapan pribadi saat hendak bertemu dengan orang lain.
Kita tidak tahu harapan setiap orang, (boro-boro setiap orang, harapan kita sendiri saja kadang tidak kita kenali dengan jelas (@_@)/…)
Maka demi keamanan kita semua, paling tidak kita harus menyuguhkan ‘perasaan yang baik’, bagaimanapun ‘perasaan baik’ yang timbul jauh lebih nyaman daripada ‘kesan buruk’ apapun.
 

peace (^0^)v 

Lessons about Happiness \(^0^)/

Have you ever felt that some unforgettable scene in your life was your happiest moment?

If you do, congratulation.

But…

I feel sorry for you. (T.T)

Because,

Once a person choose a moment or anything to be the ‘happiest ‘, whoever it is will compare that very moment to something they like the most after that, or hate most after that, or less like after that etc.

The point is, they started to compare a unique experience and precious moment to another.

It will only bring less appreciation to the ‘moment’ that actually have it’s own meaning.

Hence, it will be harder to conceive another precious and happy moments.

So, why bother to spoiled every (actually unique) moment with your burden of thoughts?

Let it be.

Don’t analyze, it will paralyzed you at some point.

I think, and feel, that every happy moment should be enjoyed the way it is.

It doesn’t matter whether it will end up as your happiest or worst experience.

It doesn’t  matter whether it will end at all.

…and it doesn’t really matter from who or where or when you get that exact moment.

In fact, you can get it in the worst time or worst place or even worst people you could ever imagine, yet  it would be still precious and unique to be remember…(^0^)/.

Happy moments are there to be enjoyed and feel, not to be judge by nothing.

Be happy the way you are, because every moments are unique and have it’s own meaning already.

Don’t waste your time by judging it more or explore it like a some sort of file in your hard disk,…relax and enjoy.

It’s yours truly…(^.~)/.

P.S: Don’t be scared to lost it. Be thankful, you have it.

 

Translation in Bahasa Indonesia:

Apa kau pernah ‘menobatkan’ suatu kejadian dalam hidupmu sebagai momen yang paling membahagiakan?

Kalau pernah, selamat ! \(^0^)/

Tapi…

Aku  prihatin atas dirimu.(T.T)

Karena,…

saat  seseorang memilih sebuah momen sebagai ‘yang paling bahagia‘, siapapun dia bakalan membandingkan momen itu dengan momen selanjutnya yang paling mereka sukai, atau paling benci, dst.

Intinya, mereka mulai saling membandingkan berbagai pengalaman yang sebenarnya unik dan sama-sama berharga.

Lalu, jadi lebih susah menikmati berbagai momen-momen lain.

Jadi, kenapa mesti menyia-nyiakan setiap momen (yang sebenarnya unik loh,…coba pikir: mana ada yang persis sama satu sama lain?) dengan aneka beban di pikiranmu?

Biarkan saja seadanya.

Jangan terlalu menganalisa, itu akan melumpuhkanmu pada suatu titik.

Kupikir, dan kurasa, setiap momen bahagia harus bisa dinikmati sebagai mana adanya.

Tak masalah itu bakal berakhir menjadi pengalamanmu yang terbuaaikkk ataupun terrrburuk.

Malahan sama sekali tak masalah itu bakalan berakhir atau tidak…juga tidak penting dari mana, siapa, atau kapan tepatnya kau mendapatkan momen tersebut.

Faktanya, kau bisa saja mendapatkannya pada waktu paling buruk, di tempat terburuk,  bahkan dari orang-orang paling parah yang bisa kaubayangkan, namun tetap saja itu akan berharga dan unik untuk diingat…(^0^)/.

Momen bahagia ada untuk dirasakan dan dinikmati, tidak untuk dihakimi oleh apapun.

Berbahagialah sebagaimana adanya dirimu, karena setiap momen adalah unik dan memiliki maknanya sendiri.

Jangan buang waktumu dengan menilainya berlebihan atau meng-eksplore-nya seperti sebuah file di hard disk mu,…santai dan nikmati.

Itu sepenuhnya milikmu…(^.~)/.

NB: Jangan takut kehilangan. Bersyukurlah, kau memilikinya.