Category Archives: Uncategorized

Jangan Ganggu Pancasila

Tanggal 12 Juni 2016, menjadi hari yang istimewa bagi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Tepatnya di ruang Auditorium 301 Kampus UKWMS Dinoyo, dilaksanakan Talkshow Kebangsaan bertajuk “Jangan Ganggu Pancasila”. Penyelenggaranya adalah Organisasi Pemuda Katolik Surabaya yang didukung oleh UKWMS sebagai tuan rumah.

“Cukup kaget awalnya, saat ada panitia yang bertanya mengapa kami bersedia mendukung acara ini. Sebenarnya tidak aneh, karena meskipun kami adalah Universitas Katolik, namun sejak awal didirikan, Pancasila dengan jelas termaktub dalam visi kami. Kami bangga sekaligus turut prihatin, karena ternyata kini sudah semakin jarang lembaga edukasi apalagi universitas yang mencantumkan PANCASILA dalam dokumen resmi apalagi visi misinya. Oleh sebab itu kami bersyukur tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila” ujar Kuncoro Foe selaku Rektor UKWMS.

image

H. Saifullah Yusuf, yang akrab dikenal sebagai Gus Ipul turut hadir untuk membuka acara. Beliau menyampaikan, kita semua tahu Pancasila, tapi sekaligus sadar belum tentu bisa mengamalkan keseluruhan silanya. “Bisa jadi kita fasih mengucapkan Pancasila tapi tidak benar-benar tahu apa isinya. Dalam penciptaannya sekalipun, Pancasila merupakan hasil diskusi berbagai pihak, jika boleh disingkat dan dimampatkan, Pancasila itu esensinya adalah ‘Gotong Royong’. Seperti kata pak Rektor, kita bersyukur bahwa 1 Juni ditetapkan sebagai hari kelahiran Pancasila. Marilah kita jaga bersama Indonesia kita ini.

Gus Ipul juga menekankan bahwa kita perlu berinovasi untuk ‘membumikan’ Pancasila. “Ketika ideologi-ideologi lain gagal menyatukan masyarakat, kita haruslah bisa ‘membumikan’ Pancasila kita agar bisa menginspirasi dunia,” demikian ujarnya.

Menghadirkan tiga orang pembicara yakni Eva Kusuma Sundari (Anggota Komisi XI DPR RI), Mohammad Aan Anshori (Koordinator Presidium JIAD Jawa Timur) dan Agatha Retnosari (Anggota Komisi E DPRD Jatim), talkshow berlangsung seru. Muncul beberapa topik menggelitik tentang pelaksanaan Pancasila di daerah-daerah di Indonesia.

“Pancasila itu dimanipulasi, diperalat. Kenapa demikian? Karena tidak ada pengajaran tentang nilai-nilainya. Pancasila selama ini hanya berhenti di sosialisasi. Jangan sampai 1 Juni ditetapkan tapi kemudian tidak ada aksinya. Penelitian menunjukkan bahwa Pancasila hanya terbatas pada norma moral saja, kalau kita berhenti di semunar saja tapi tidak ada tindak lanjut maka akan percuma,” ujar Eva.

Pancasila seharusnya memang menjadi dasar dari segala aturan di Indonesia termasuk PerDa. Namun ironisnya otonomi daerah terkadang menjadi pemicu pelanggaran terhadap nilai-nilai Pancasila. “Memang bukan penyebab utamanya, namun bisa menjadi salah satu pemicu memang. Itu karena pelaksana pemerintahan sudah disusupi oleh pihak-pihak yang lebih mengutamakan agamanya daripada Pancasila. Akibatnya muncul peraturan-peraturan yang hanya cocok untuk pemeluk agama tertentu dsb,” ujar Evi. Masalahnya, kadang beberapa pihak merasa karena jumlahnya mayoritas, lantas langsung merasa berhak untuk mengatur segalanya. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu dapat melukai pihak lain, terlebih lagi berbahaya secara konstitusional.

Sebenarnya masalah pelanggaran terhadap pelaksanaan nilai-nilai Pancasila itu kewajiban kita bersama. “Kita harus ingat, orang yang

merasa jumlahnya banyak, itu bisa merasa dirinya benar meskipun saat melanggar hak orang lain antara lain karena pihak yang dilanggar diam saja. Oleh sebab itu jika merasa minoritas dan haknya dilanggar, lakukanlah sesuatu. Mereka yang mayoritas itu akan merasa benar bila tidak ada yang menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan itu salah,” ujar Aan Anshori.

Agatha juga menambahkan penekanan terutama kepada pemeluk agama Katolik yang menjadi peserta acara. “Kita sebagai orang Katolik harus sadar dan mengkritik diri kita sendiri. Selama ini kita diam, suaranya tidak ada, perwakilannya tidak ada di tempat-tempat strategis sehingga tidak bisa apa-apa saat ada kebijakan tertentu yang merugikan kita. Itu adalah salah kita sendiri, karena sikap kita yang terlalu diam. Ini memang sudah bukan zamannya demo beramai-ramai, tapi kita bisa berdialog untuk kebaikan bersama,” ujar Agatha.

Sebagai seorang Muslim, Aan menyampaikan bahwa hal paling sulit dalam masalah pelanggaran terhadap Pancasila adalah karena bangsa ini akan melawan bangsanya sendiri, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Ir. Soekarno semasa masih menjadi Presiden Indonesia. Tidak hanya kaum Muslim, tetapi semua orang beragama akan mengalami hal yang sama, kesulitan meyakinkan sesamanya, keluarganya, yang mengimani nilai-nilai yang sama namun tidak benar-benar memahami Pancasila sebagai bagian dari Bangsa Indonesia.

Semua orang yang beragama haruslah memulai dengan kejujuran. “Tidak seharusnya kita bersembunyi di balik ‘agama saya baik-baik saja, tidak ada yang salah dari agama saya’ dan sebagainya. Kita harus mau mengakui bahwa ada yang salah dalam cara kita melaksanakannya. Pancasila bisa mengalami masalah seperti saat ini, kita harus jujur mengakui bahwa memang kita pula yang bermasalah dalam pengajarannya,” ungkap Aan.

Peter Manoppo, seorang peserta yang juga merupakan dosen dari FK UKWMS, menyampaikan bahwa masalah tentang Pancasila ini terutama paling sering diganggu dalam hal pengamalan sila pertamanya. Hal ini bisa dilihat dari seringnya terjadi konflik horizontal antar agama. “Salah satu penyebabnya karena kebiasaan mengkotak-kotak bangsa kita melalui agama, bahkan hingga di pendidikan. Misalnya di sekolah negeri anak-anak diharuskan mengikuti pelajaran agama dan masuk ke kelas-kelas yang berbeda, ini justru mengajarkan perpecahan. Saran saya, sebaiknya keterangan-keterangan yang berkaitan dengan agama di dokumen resmi haruslah dihapuskan. Lihatlah dokumen internasional di mana agama tidak dicantumkan. Harusnya kita juga mendukung keluarga-keluarga yang kawin campur antar agama berbeda, karena sebenarnya itu adalah benih yang baik,” tutur Peter.

Pada sesi kedua, Organisasi Pemuda Katolik Surabaya, Sidoarjo, Malang, Forum Indonesia Bersatu, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia, Wanita Katolik Republik Indonesia DPD jatim, Perwakilan Generasi muda Tionghoa dan Perwakilan umat Kong Hu Cu serta Rektor Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya membacakan deklarasi “Siap Mengawal Pancasila 1 Juni”. Demikianlah acara kemudian ditutup dengan seluruh peserta mengumandangkan lima sila dari Pancasila seraya bergandengan tangan. Sontak suasana auditorium menjadi gegap gempita oleh gemuruh suara ratusan orang.

image

Bukan Sekedar Menjadi ‘Guru’

Siang itu aku baru sadar kalau aku berangkat ke sekolah tanpa bekal. Sarapanku hanya air putih dan nasi separuh porsi. Matahari seakan tak bersahabat, sinarnya menyengat membuatku berkunang-kunang. Apapun yang diterangkan guru tidak bisa kuingat dengan baik bahkan banyak kali aku hanya memegangi perut yang keroncongan. Aku memang bukan dari keluarga berkecukupan, apalagi bangsawan. Orangtuaku pekerja panggilan dan ibu rumah tangga biasa. Jangankan uang jajan, uang sekolah terkadang harus dibantu beberapa orang yang kasihan padaku, kadang hanya bisa menunggu keringanan dari pihak sekolah.

‘Ndre, kamu ga apa-apa? Perutmu kenapa?’ tanya teman yang memandangku mencengkeram perut.

‘Ga apa-apa, cuma agak perih,’ dustaku.

Tanpa kusadari, guru melirikku dan sedetik kemudian langsung bertanya, ‘Yang di belakang itu kenapa? Kok bicara sendiri’.

‘Pak, ini kelihatannya Andre sakit perut’ jawab temanku.

‘Ooo… ga apa-apa kamu? Coba kesini sebentar’ timpal guru pada kami.

Saat maju, sesaat kulirik wajah guruku. Hingga kini aku masih ingat kumis yang berbelok-belok mengikuti bentuk bibirnya. Langkahku makin berat, apalagi aku bukan murid yang menonjol di kelas. Aku cenderung jadi pendiam dan lebih suka duduk di baris paling ujung, karena memang dasarnya merasa minder.

‘Kamu kenapa kok sakit? Ada masuk angin?’ tanyanya sederhana sambil melirikku.

‘Nggak pak’

‘Ada kena maag?’

‘Nggak’

‘Lalu kenapa?’

‘Saya belum makan siang pak’

‘Ooo belum makan. Ya sudah sana ke kantin beli makan dulu. Ada uang?’

‘……’

Dia hanya tersenyum kecil dan mengeluarkan dompetnya. Secarik uang lima ratus rupiah ia sodorkan,‘Nih bawa aja’.  

Itulah sekilas kisah dari masa saya masih duduk di SD pada tahun 1996. Masa sebelum era reformasi hadir dengan segala pernak perniknya. Masa dimana uang Rp. 500 cukup berharga untuk bisa untuk membeli nasi campur dan minuman dingin. Entah kenapa dari masa SD, kejadian itu sangat terekam dalam benak.

Saya sudah lupa semua yang telah dipelajari dan semua yang diajarkan sang maestro pendidikan waktu itu. Terbesit di pikiran bahwa guru-guru saya gagal, karena saya tidak bisa mengingat satupun materi pelajaran mereka, kecuali jika membuka buku catatan dari masa sekolah.

19 tahun berlalu dan saya sudah lupa semua yang ada di masa sekolah kecuali beberapa kenangan bersama teman-teman sebaya dan beberapa guru. Entah kenapa saya lupa nama guru-guru yang baik hati, tapi masih ingat jelas wajah marah mereka bahkan detail nama, lokasi, warna baju dan apa yang dikatakan. Saya bertanya-tanya, mengapa lima menit luapan emosi guru saya lebih teringat daripada satu jam pelajaran yang mereka ajarkan. Dua menit kejadian seorang guru membantu saya pada saat kelaparan lebih teringat daripada semua kenangan lainnya.

Setelah saya bergelut dengan ilmu kejiwaan dan ilmu manusia, barulah menyadari bahwa manusia bukan hanya terdiri dari darah dan daging, perut dan segala isinya saja. Manusia mempunyai otak dan pikiran, emosi dan jiwa, roh dan kehidupan. Menjadi seorang guru bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan pikiran belaka. Tetapi tentang bagaimana kita bisa menjangkau yang lebih dalam dan mendasar dari semua itu. Kapankah kita sebagai seorang guru menyentuh hal yang vital dari seorang manusia dan seorang anak?

Seorang anak yang dihukum fisik mungkin suatu saat akan sembuh secara fisik, tetapi secara memori  akan terekam dengan jelas di pikirannya tentang pukulan, cambukan dan semua hukuman itu. Apakah mereka akan mengingat 100% akan apa yang kita ajarkan sebagai seorang guru? Jawaban pastinya 5 tahun kemudian dia akan melupakan semuanya itu. Tetapi 5 tahun setelah kita ajarkan tentang apa arti kehidupan, dia akan mengingat terus apakah kehidupan itu. Bukan hanya berdasarkan ilmu pengetahuan tetapi tentang apa yang kita lakukan. Di waktu kelas yang kita ajari ramai dan kita berteriak, mereka bukan akan sekedar terdiam. Melainkan anak-anak itu sedang kita ajarkan bagaimana cara berteriak, maka jangan kaget jika cepat atau lambat, dia akan berteriak pada kita atau orang lain.

Menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah. Kita harus mengajarkan tentang ilmu kehidupan yang dibalut dengan ilmu pengetahuan. Tentang apa yang seharusnya kita lakukan apabila kita menemui kondisi ini. Pada waktu kita mengajarkan matematika atau bahasa, bukan hanya tentang ilmu matematika yang kita ajarkan, tetapi apa yang harus kita lakukan pada waktu kita menghadapi masalah yang serumit matematika. Akankah kita menyerah menghitung semua permasalahan yang harus dihitung atau kita akan terus berusaha menghitung dengan asal-asalan saja yang penting hasilnya benar dengan cara melirik jawaban teman, atau kita akan berusaha menghitung mati-matian dengan cara yang benar walau mungkin hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan?

Jika kita melihat kenapa banyak orang tidak mau mengantri dan hanya asal main serobot saja yang penting mereka cepat mendapatkan tujuan mereka tanpa memikirkan perasaan dan kondisi orang lain, mari kita coba tarik balik ke belakang. Apa yang mereka pelajari di sekolah dan ilmu pengetahuan apa yang mereka dapat? Saya berani menjamin mereka pasti bukan hanya berasal dari kalangan menengah ke bawah saja. Sebagian besar dari mereka ternyata dari kalangan mahasiswa dan sarjana. Namun saya berani menjamin pasti mereka pernah belajar tentang bagaimana cara mencurangi guru di sekolah dan bagaimana berpura-pura bodoh tanpa mau memikirkan perasaan orang lain yang kita curangi.

Sudah waktunya kita sebagai seorang manusia belajar tentang bagaimana harus bersikap sebagai makhluk sosial. Bukan sebagai seorang individu semata, namun sebagai sebuah komunitas dan sebagai suatu kesatuan yang mana satu dengan yang lainnya saling berhubungan. Jadi sebelum bertindak, hendaknya kita memikirkan tentang kondisi orang lain terlebih dahulu.

Oleh Andreas Librawan
Editor Vonny K Wiyani

POTENTIA 3rd Edition

Edisi ini sebenarnya sudah di-rilis sejak tahun lalu, dan menjelang lebaran. Tapi karena saya yang tidak sempat mengunggah, akhirnya baru diunggah ke blog ini sekarang.

Maafkan atas keterlambatannya…

POTENTIA the 2nd edition. POTENTIA edisi ke 2

<a href="

” title=”POTENTIA the 2nd edition. POTENTIA edisi ke 2″>POTENTIA the 2nd edition. POTENTIA edisi ke 2

POTENTIA the 2nd edition. Official digital magazine of Widya Mandala Catholic University Surabaya. POTENTIA edisi ke2. Majalah digital resmi dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Tema edisi kali ini adalah POTENSI GEMILANG. Mari membaca dan menilai, beragam potensi yang kami miliki dalam mengembangkan kehidupan. Mulai dari ajang Putri Indonesia 2014, lalu Super Kapasitor dari Kulit Singkong yang membuat Dahlan Iskan menembus badai debu vulkanik Gunung Kelud untuk mengunjungi kami, hingga tabir surya dari lalapan sunda yang ternyata antikanker. Tidak kalah penting juga, beragam kerja sama yang kami jalin di skala nasional maupun internasional. Inilah POTENTIA 100% karya keluarga besar Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Mari membaca dan mengenal kami lebih dekat!

Dari Tunggul Jagung untuk BIO-Jet Fuel Hingga Seleksi Mawapres ke Bandung

Image

Tahun 2013 bagi Chintya Effendi (lulusan Jurusan Teknik Kimia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya) menjadi tahun yang luar biasa. Selain mampu meneruskan keberhasilannya dengan menduduki peringkat III Mawapres Tingkat Kopertis Wilayah 7 Jawa Timur. Chintya Effendi juga lolos seleksi MAWAPRES di tingkat Nasional. Alumni SMAK St. Paulus Jember yang bergabung dengan WM pada tahun 2009 ini mengaku terkejut dengan pencapaiannya.

“Tanggal 4 Juli 2013 adalah hari yang penting bagi saya, karena ada pemberitahuan bahwa saya lolos ke seleksi mawapres tingkat nasional. Perasaan sesaat pada waktu itu adalah senang, terharu sekaligus nervous karena masuk 15 besar tingkat nasional. Saingannya sudah benar-benar terbaik dari seluruh Indonesia, persiapan yang dilakukan harus lebih matang, baik dari presentasi maupun mental,” tuturnya dengan berbinar-binar karena tidak menyangka akan masuk tahap seleksi mawapres tingkat nasional.

Chintya menambahkan dengan antusias, bahwa sosok-sosok finalis mawapres tingkat nasional yang ditemuinya di Bandung, 18 Juli 2013 kemarin sangat luar biasa. Ilmu dan pengalaman berharga banyak didapatkan Chintya dari sesama mahasiswa dan para juri. “Menjadi finalis mawapres adalah kesempatan untuk menjalin koneksi untuk masa depan. Ini adalah kali pertama saya pergi ke Bandung, bertemu dengan begitu banyak orang berprestasi dan bertemu menteri. Hanya ada satu kata untuk menggambarkannya: kereeenn!”  ujarnya.

Potensi Tunggul Jagung sebagai Bahan Baku Pembuatan Bio-Jet Fuel adalah penelitian yang mengantarkan Chintya ke seleksi MAWAPRES tingkat nasional. “Saya tertarik mengembangkan limbah pertanian agar bisa menjadi energi yang terbarukan. Bila di upgrade menjadi bio-jet fuel, produk dari tunggul jagung ini bisa dibeli dengan harga Rp. 6.760, coba bandingkan dengan avtur yang harganya hampir Rp.10.000”, terangnya.

Layaknya orang yang ingin selalu berkarya, perjuangan Chintya tidak selalu mulus. Calon wisudawan WM ini harus mengubur cita – cita masa kecil untuk menjadi dokter karena kegagalannya menembus SMPTN. “Ketika di hasil SMPTN nama saya tidak ada, benar-benar tidak tahu mau jadi apa di masa depan. Kebetulan di sekolah, salah seorang guru saya bilang bahwa Teknik Kimia WM adalah jurusan yang bagus. Akhirnya setelah membandingkan berbagai pilihan, saya menyasar ke sini,” ujarnya ketika menjelaskan mengapa akhirnya memilih menjadi mahasiswa Teknik Kimia WM.

Hasratnya untuk berkarya di bidang kesehatan masih menggebu. Hal itu terbukti dengan beberapa penelitian dan inovasi yang dilakukannya. “Saya pernah membuat es krim dari buah mengkudu yang biasanya dihindari orang karena walaupun menyehatkan tapi baunya busuk. Es krim saya lezat dan baunya enak, gara-gara itu saya jadi juara kedua di lomba inovasi yang diadakan di jurusan,” tutur Chintya menyebutkan salah satu inovasinya. Es krim mengkudu menjadi perantara Chintya berkenalan dengan  Suryadi Ismadji,  penerima Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa oleh 4 Kementerian dan merupakan Dekan Fakultas Teknik WM.

“Beliau membimbing saya meneliti dan mengembangkan limbah menjadi energi yang terbarukan. Kini saya fokus pada pengembangan teknik kimia untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, siapa tahu kelak bisa dapat nobel, amin” ujarnya sambil berangan-angan.

Chintya kini sedang bersiap untuk melanjutkan studinya ke Taiwan pada bulan September 2013. Sederet prestasi baik dalam tingkat nasional maupun internasional yang berhasil diraihnya berbuah beasiswa penuh dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST). “Saya tidak akan bisa mengikuti wisuda di sini, tapi tidak apa-apa, karena saya sudah tidak sabar untuk berkarya di sana,” kata Chintya.

Omong (ga) Kosong soal Cinta

Suasana hatiku sedang setengah muram.
Mereka bilang, saat suasana hati resah, janganlah bicara.
Kuketik saja segala yang lewat di pikiran.
Kisah cinta.
Dan…
Bull shit.
Sama-sama terdiri dari dua kata.
Sama-sama tak semua orang suka melihatnya.
Walau sebenarnya sama-sama banyak gunanya.

Omong kosong dan kisah cinta, keduanya berada di awang-awang benak.
Memberi sentuhan bumbu dalam kehidupan.
Tapi karena pakai kata yang beda.
Perlakuannya jadi beda.
Kalau ada yang menyamakan bakal diprotes orang sedunia.
Syukur kalau ada yang mikir duluan sebelum mencerca.

Kisah cinta ada di mana-mana.
Dari ujung parkiran mall hingga pojokan taman perumahan.
Dari yang terlarang sampai yang dielu-elukan.
Dari yang bikin risih sampai bikin terpesona.
Dari yang tulus sampai yang komersial.
Dari yang suci sampai yang maksiat.
Silakan dipuja, silakan dicerca.
Hak mereka semua untuk bercinta.
Hak kalian juga untuk melihat sembari merana.
Semoga masih ingat kewajiban juga untuk tetap saling jaga rasa.

Omong kosong juga ada di mana-mana.
Dari rumah tangga sampai Istana Negara.
Dari yang ilegal sampai yang dilindungi oleh peraturan.
Dari yang dipercaya sampai yang dinista.
Dari yang demi kebaikan pribadi hingga kebaikan bersama.
Dari yang memang perlu hingga sekadar kebiasaan.
Silakan didengar silakan kalau mau dilupakan.
Hak mereka semua untuk bicara.
Hak kalian juga untuk memilih percaya.
Semoga masih ingat rasanya kecewa, biar bisa belajar apa saja yang ternyata berharga.

Never Forget the Way You Make Me Feels

“I’ve learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”
-Maya Angelou- quotes (American Poet, b.1928)

“Aku belajar bahwa orang-orang bisa saja melupakan perkataanmu, perbuatanmu, tetapi mereka takkan pernah lupa bagaimana perasaan yang kau timbulkan”

oleh Maya Angelou, Pujangga Amerika (lahir 1928)

Memang benar kan?
Itulah kenapa, kesan pertama bisa begitu menggoda, sekaligus bisa begitu mengerikan (^0~)/.
Namun yang penting bukan hanya sekedar kesan pertama, tetapi bagaimana kau membuat kesan bagi orang-orang di sekelilingmu..
Karena perasaan yang kautimbulkan menentukan bagaimana perlakuan mereka padamu juga.
 
Ini mungkin terdengar sepele, tetapi kenyataannya kita selalu memiliki harapan pribadi saat hendak bertemu dengan orang lain.
Kita tidak tahu harapan setiap orang, (boro-boro setiap orang, harapan kita sendiri saja kadang tidak kita kenali dengan jelas (@_@)/…)
Maka demi keamanan kita semua, paling tidak kita harus menyuguhkan ‘perasaan yang baik’, bagaimanapun ‘perasaan baik’ yang timbul jauh lebih nyaman daripada ‘kesan buruk’ apapun.
 

peace (^0^)v 

No Man Chooses Evil

“No man chooses evil because it is evil; he only mistakes it for happiness, the good he seeks”

“Tidak ada orang yang memilih kejahatan karena itu ‘jahat’, ia hanya salah mengenalinya sebagai ‘kebahagiaan’: kebaikan yang ia cari”

-Mary Wollstonecraft Shelley- quotes (English Romantic Novelist remembered primarily for her classic Gothic novel Frankenstein, that gave birth to one of the best-known monsters. 1797-1851)

oleh Mary Wollstonecraft Shelley (Novelis Roman Inggris yang terutama dikenali atas karya Gothic klasiknya ‘Frankenstein’, yang melahirkan salah satu monster paling terkenal. Lahir 1797, meninggal 1851).