Category Archives: Non Fiction

POTENTIA 4th Edition

Edisi ke 4, rilis tahun lalu juga. Lagi-lagi tidak sempat mengunggah, maafkan…

Melalui edisi ini, rasakan antusiasme kami dalam berkarya. Selamat menikmati….

Advertisements

POTENTIA 3rd Edition

Edisi ini sebenarnya sudah di-rilis sejak tahun lalu, dan menjelang lebaran. Tapi karena saya yang tidak sempat mengunggah, akhirnya baru diunggah ke blog ini sekarang.

Maafkan atas keterlambatannya…

25 Tujuan, 26 Juli, 27 Tahun (Bagian Kedua – Habis)

Link untuk Bagian Pertama:

https://writtenthou.wordpress.com/2014/07/26/25-tujuan-26-juli-27-tahun/

Pulau Sempu. Spot di pantai ini sebenarnya ada banyak dan jauh-jauh. Kalau ingin mengeksplor semuanya, lebih baik siap membangun tenda. Perjalanan menuju ke pantainya harus memasuki hutan, jadi pemandangan sekeliling rindang bin rimbun. Waktu itu karena tidak siap nenda, saya dan teman-teman hanya mengunjungi pantai terdekat saja. Dalam bayangan saya, kalau yang dekat saja secakep ini, gimana yang jauh-jauh? Sayangnya, sama seperti tempat lain yang sudah menjadi perhatian umum, banyak sampah.

Salah satu spot pantai di Pulau Sempu. Foto: Dee
Salah satu spot pantai di Pulau Sempu. Foto: Dee

NTT Labuhan Bajo, Kanawa, Pink Beach, Bidadari. Saya punya cerita khusus di sini, ini adalah tempat pertama yang menurut saya benar-benar membuat merasa serba ‘WAAWW!!!’. Teruskan membaca…

Air terjun Cuncawulang. Menurut saya tempat ini tidak seindah yang didengung-dengungkan oleh orang lain. Pengalaman menarik saya di sana adalah bertemu dengan seorang turis muda dari Perancis yang rela resign (mengundurkan diri) dari jabatannya yang lumayan tinggi di sebuah hotel bintang lima di sana, demi mengelilingi Indonesia selama tiga bulan. Negeri kita ini menjadi tujuannya yang pertama dan utama. Menurut saya itu gila dan luar biasa, emang segampang itu ya nyari kerja di Perancis? Atau dia bela-belain begitu karena saking indahnya Indonesia di mata internasional? Saya bertanya-tanya.

Penanda jalan menuju Air Terjun Cuncawulang
Penanda jalan menuju Air Terjun Cuncawulang. Foto: Dee

Dari sekian destinasi, mana yang paling berkesan dan mengapa?

NTT. Perjalanan pertama backpacking sendirian. Pemandangannya memang jauh lebih cakep dari yang pernah saya lihat di Pulau Jawa. Beberapa tempat seperti P. Kanawa dan Bidadari itu tak terkatakan.

Dermaga untuk memasuki P.Kanawa. Foto: Dee
Dermaga untuk memasuki P.Kanawa. Foto: Dee

Di sana saya juga bertemu dengan ‘teman hidup’ selama seminggu. Seorang asing dari Brisbane dan seorang lain dari Jakarta. Kami baru berkenalan di sana, tapi selama tiga hari menginap di Kanawa kami berbagi menu makan makan yang sama. Nasi putih dan sambal goreng teri kacang tiga kali sehari yang dibawa oleh teman kami dari Jakarta. Kami bertiga memang setipe, sanggup berhemat dan mau menghargai ‘private time’ masing-masing.

Karl, Daru, dan Dee di Labuan Bajo
Karl, Daru, dan Dee di Labuan Bajo. Foto: Dee

Soal makan, kami memang agak mengenaskan. Soal hiburan dari alam, benar-benar istimewa. Seperti kata teman saya, “Alam akan memeliharamu,” sejak naik ke pesawat untuk berangkat ke Labuhan Bajo saya benar-benar pasrah dengan apa yang akan saya dapatkan. Ternyata, dari obrolan dengan sesama penumpang di pesawat, saya mendapat kesempatan untuk nebeng ke Labuhan Bajo. Kalau dibilang kuatir, ada saja perasaan seperti itu. Apalagi sekarang banyak berita trafficking, penculikan untuk penjualan organ dsb. Namun saya pikir tak ada salahnya dicoba, dan saya memang benar-benar bertemu dengan orang baik. Saya diantar ke penginapan, tanpa biaya.

Anak-anak penduduk lokal di Labuan Bajo. Foto: Dee
Anak-anak penduduk lokal di Labuan Bajo. Foto: Dee

Dari labuhan bajo menuju P. Kanawa, tiba-tiba kamera saya rusak. Sebabnya casing anti air yang saya gunakan bocor. Jengkel bukan main rasanya, tepat sebelum acara puncak malah rusak. Sesampai di Pulau Kanawa, cuma ada satu resort yang sebenarnya tidak mahal, kalau yang datang koceknya tebal.

Konsep awal sebenarnya pingin coba yang paling murah, cuma Rp. 275.000/malam berdua, itupun bentuknya bale (semacam pendopo di luar bangunan dan hanya ditutup tirai di semua sisinya). Sensasinya beda dan kelihatan alami banget gitu. Satu bale maksimal bisa digunakan oleh dua orang dewasa. Model bungalow harganya Rp. 350.000 (u/single) per malam. Kalau harus bayar sendiri memang lumayan ‘terasa’, tapi untungnya teman bule kami yang dari Brisbane ternyata juga jatuh cinta dengan pulau itu dan memutuskan untuk ikut dengan kami tinggal di Kanawa selama tiga hari dua malam.

Bertiga, kami dapat tarif khusus Rp. 500.000/ bungalow. Dibagi bertiga untuk semalam itu termasuk murah, apalagi besoknya ada slot kosong untuk model tent alias tenda (jadi kadal dan binatang lain bisa masuk, tapi tenang, tak ada komodo di kanawa). Pindahlah kami ke sana, lumayan cuma Rp. 200.000 untuk dua orang.  Teman yang seorang lagi pakai tenda berbeda. Begitulah, sebenarnya untuk skala resort dengan kualitas pemandangan alam yang begitu aduhai, harga yang kami bayarkan termasuk murah.

Salah satu model penginapan di P. Kanawa. Foto: Dee
Salah satu model penginapan di P. Kanawa. Foto: Dee

Lebih beruntung lagi, manajer resort orangnya baik banget. Mendengar kamera saya rusak, ia menawarkan untuk meminjami saya kameranya. Ternyata jenisnya sama persis dengan kamera saya. Akhirnya saya tetap bisa mengabadikan kekaguman saya di sana. Entah bagaimana, alam benar-benar memelihara saya.

Air sebening kristal di perairan Labuan Bajo
Air sebening kristal di perairan Labuan Bajo

Hal paling mengejutkan apa yang pernah ditemui dalam perjalanan?

Menyenangkan: di NTT saya melihat dengan mata kepala sendiri betapa indah alam Indonesia. Saya jadi paham mengapa orang asing kalau diberi kesempatan traveling biasanya tujuan pertama mereka Indonesia. Waktu di Pulau Kanawa, saya banyak dibantu oleh manajer resort tempat menginap yang sangat menghargai ‘orang Indonesia biasa’ yang datang ke sana. Sebagian besar orang yang datang ke Kanawa adalah turis asing dari Eropa. Kalaupun ada orang Indonesia, biasanya mereka insan perfilman atau media. Backpaker seperti saya amat langka ditemui. Saking baiknya kami sampai diperbolehkan membeli nasi putih seharga 10k dari mereka. Padahal seharusnya orang hanya boleh membeli menu lengkap di sana (yang mahalnya di luar budget kami).

Salah satu pemandangan di P. Kanawa NTT. Foto: Dee
Salah satu pemandangan di P. Kanawa NTT. Foto: Dee

Menyedihkan: di sana saya mendapat banyak informasi, pulau ini milik Itali, pulau yang itu milik Inggris, yang di sini milik Spanyol. Rasanya seperti kita punya rumah tapi tidak ikut memiliki dan tidak bisa apa-apa. Di beberapa tempat, bahkan orang Indonesia dilarang masuk. Pulau Bidadari misalnya, kalau tidak menginap tidak boleh masuk. Itu masih mending, di Togean Sulawesi, jarak beberapa meter dari pulau sudah dipasang tanda yang melarang orang Indonesia untuk masuk. Pemiliknya beranggapan orang Indonesia itu perusak. Walau miris, tapi di satu sisi saya bersyukur, karena pulau indah itu ada yang merawat. Di sisi lain, sedih bukan main karena sebagai orang Indonesia, saya tidak bisa ikut menikmati apa yang ada di negeri saya sendiri.

Kondisi Alam Labuan Bajo
Kondisi Alam Labuan Bajo. Foto: Dee

Bagaimana cara mengatur budget dan perencanaan ke depan?

Hobi saya memang terhitung mahal. Saya berusaha mengatur dengan langsung membagi uang saya berdasarkan tujuan begitu saya gajian. Tidak rumit, langsung saja dipotong untuk perpuluhan gereja, arisan keluarga (tabungan masa depan saya), uang bulanan untuk orang tua, asuransi, dan biaya hidup. Sisanya yah buat jalan-jalan. Prinsipnya, selama uang itu masih bisa dibelanjakan di negeri sendiri, meskipun bisa dipakai keluar negeri lebih baik habiskan buat jalan-jalan di Indonesia. Soal destinasi wisata, tidak ada yang lebih baik dari Indonesia. Buktinya orang asing saja datang ke Indonesia.

Labuan Bajo, pemandangan dari atas bukit. Foto: Dee
Labuan Bajo, pemandangan dari atas bukit. Foto: Dee

 

Demikianlah, sekelumit catatan perjalanan seorang Dee. Penulis mohon maaf karena bagian kedua tulisan tentang perjalanan ini tidak kunjung diunggah-unggah. Ada saja halangan merintang saat mau mengunggah. Setidaknya, kini sudah berhasil diunggah hingga tuntas. Semoga di kesempatan berikutnya penulis mengalami peningkatan kualitas.

Terima kasih pada para pembaca, untuk waktu dan perhatian akan tulisan ini. Kritik, saran, dan request ditunggu dengan sepenuh hati. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya…(^0~)/

25 Tujuan, 26 Juli, 27 Tahun (Bagian Pertama)

25 Tujuan, 26 Juli, 27 Tahun

“Buat apa jalan-jalan di dalam negeri kalau ke luar negeri bisa lebih keren, lebih murah pula?” Ini adalah kalimat yang cukup sering saya dengar. Bukan hanya dari iklan yang dipajang oleh perusahaan tour and travel, tetapi juga dari masyarakat awam di sekitar saya. Terus terang saya juga pernah berpikir begitu, tapi…kalau mau jujur, sebenarnya ungkapan itu aneh. Ibaratnya, tinggal di rumah sendiri lebih mahal daripada di hotel, aneh kan?

Jika saya baru berhenti di keheranan, dan ngomel karena biaya wisata lokal yang kemahalan dibanding ke luar negeri, lain lagi dengan teman saya. Namanya Michael Dyan Kurnianto, akrab disapa ‘Dee’. Perawakannya mungil, namun langkahnya lebar…dan akan terus melebar hingga meninggalkan jejaknya di sekeliling nusantara. Sebelum genap berusia 27 tahun di tanggal 26 Juli 2014, ia sudah mendatangi setidaknya 25 tujuan wisata di dalam negeri. Mulai dari yang lazim diketahui orang lokal dan karena saking murmer-nya bisa berubah jadi seperti ‘kolam dawet’ di musim liburan, hingga yang (sayangnya) sudah jadi milik asing serta susah dimasuki oleh wisatawan lokal, telah ia tembus.

Dia bukan orang tajir, walau bukan juga orang kikir. Sebagai seorang pekerja LSM, gaji besar bukan sesuatu yang familiar baginya. Jadi jangan dibayangkan dia bergelimang harta untuk menjalani hobinya yang lumayan mahal. Lalu bagaimana kisahnya? Mari kita simak obrolan traveler satu ini dengan saya;

Mengenai hobi jalan-jalan, sejak kapan punya hobi jalan dan cita-cita keliling nusantara?

Entah sejak kapan, yang pasti waktu kecil sering rekreasi bersama keluarga ke pantai. Terkadang, kita mudah sekali melupakan potensi lokal. Saya contohnya, pertama melamar pekerjaan maunya langsung yang di luar Surabaya, kalau bisa lebih ‘luar’ lagi lebih bagus. Akhirnya sekarang malah berkarya di sini dan ternyata memang masih banyak potensi lokal yang layak dihargai dan dikembangkan. Soal jalan-jalan juga begitu, saya asli Kediri tapi baru mengunjungi Gunung Kelud setelah melihat foto jepretan teman saya. Ternyata Kelud bisa begitu indah!

cr. Dee
Gunung Kelud dan jalannya yang meliuk-liuk. Foto: Dee

Bagi saya yang terpenting saat jalan-jalan adalah melihat alam. Budaya dan manusia juga menarik, tetapi bagi saya yang paling cantik tetap alam. Terutama alam Indonesia, karena negeri kita ini amatlah cantik! Karena itulah saya mulai mengambil foto-foto. Pertama hasilnya ngasal, tapi makin lama makin serius. Sebelum mengambil foto, saya luangkan waktu sejenak untuk mengagumi apa yang saya lihat. Ternyata kekaguman itulah yang tergambar dalam potret yang saya ambil. Saat melihat foto-foto itu, rasanya seperti mengalami kembali momen perjalanan yang telah saya lalui. Kini, memotret menjadi pekerjaan sampingan saya yang cukup menghasilkan.

Sudah pernah berkunjung ke mana saja?

Karena saya kuliah di Surabaya, jadi awalnya pasti ke sekitar Surabaya, Pantai Kenjeran contohnya. Pantai ini kalau siang memang terlihat kotor dan bau, tapi cobalah mendatanginya di antara pkl. 04.30 – 05.30 pagi. Saksikan matahari terbit dari dermaganya, indah bukan main.

perahu-perahu nelayan di Pantai Kenjeran saat fajar. Foto: Dee
perahu-perahu nelayan di Pantai Kenjeran saat fajar. Foto: Dee

Mangrove, tempat ini panas bukan main. Nyamuknya seram. Tetap aja banyak orang bela-belain foto prewed di sana saking indahnya.

kawasan wisata mangrove Surabaya. Foto: Dee
kawasan wisata mangrove Surabaya. Foto: Dee

JatimPark, BNS, SecretZoo dan area sekitarannya. Saat liburan, ramainya laksana mencoba berenang di dalam lautan manusia. Tapi tempat-tempat ini cukup informatif dan menghibur, terutama saat didatangi bersama teman-teman.

Gunung Bromo. Saya datang ke sana bersama teman-teman dan seorang dosen yang tiba-tiba nimbrung dalam rombongan kami. Bromo adalah salah satu ikon Indonesia yang aslinya bahkan lebih bagus lagi dari foto-fotonya. Setiap tahun, diadakan juga yang namanya Jazz Gunung di sini. Jadi, siapa bilang dengerin konser itu mesti di kota atau di dalam gedung?

Jazz Gunung; Indahnya Jazz Merdunya Gunung kalau kata websitenya....Foto: Dee
Jazz Gunung; Indahnya Jazz Merdunya Gunung kalau kata websitenya….Foto: Dee

Pacitan; Pantai Klayar dan Srau. Pantai Klayar itu pasirnya putih dan banyak karangnya. Menurutku lebih bagus lagi daripada Parangtritis. Lokasinya beberapa kilometer dari Pacitan dan jalan menuju ke sana bisa dicapai dengan mobil maupun motor, tapi medannya lumayan berat, sempit, dan banyak yang rusak. Pantai Srau sedikit lebih dekat ke Pacitan, masih alami dan jarang didatangi orang. Mungkin karena jauh dari pemukiman penduduk dan jalan menuju ke sana berat. Tempat yang bagus untuk melihat matahari terbit, terbenam dan lautan luassss.

Dee di Pantai Klayar. Dijepret oleh teman kantor (yang tidak diberitahukan namanya..hahaha)
Dee di Pantai Klayar. Dijepret oleh teman kantor (yang tidak diberitahukan namanya..hahaha)

Air terjun Madakaripura Probolinggo. Demi menuju ke air terjun utama, harus berbasah-basah dulu karena melewati beberapa air terjun. Nah, di perjalanan itulah justru pemandangannya luar biasa, karena depan dan belakang air terjun semua.

Air Terjun Madakaripura, pemandangan dalam perjalanan menuju air terjun utama. Foto: Dee
Air Terjun Madakaripura, pemandangan dalam perjalanan menuju air terjun utama. Foto: Dee

Jembatan Suramadu. Awal pembangunannya penuh kontroversi, tapi setelah jadi…benar-benar bermanfaat dan membanggakan. Di Jembatan ini orang dilarang berhenti dan foto-foto karena mengganggu lalu lintas dan tidak aman untuk nyawa.

Air terjun Toroan Sampang. Biasanya air terjun jatuhnya ke sungai, atau danau, yang ini langsung ke laut. Beneran, cuma dibatasi oleh batu-batu karang saja. Itu adalah pertama kali saya ke Madura, naik motor bertiga dengan sahabat, kesasar pula. Akibatnya perjalanan jadi panjang dan lamaaaa, bikin pantat pegal! padahal baliknya cepat. Tapi pemandangan di pulau penghasil garam itu ternyata benar-benar…

Air terjun langsung ke laut;Toroan, Sampang. Foto: Dee
Air terjun langsung ke laut;Toroan, Sampang. Foto: Dee

Pantai Kunir. Salah satu pantai alami yang ada di jalur selatan Pacitan. Sama seperti Srau dan Klayar, jalan menuju ke sana sedikit baik. Alias berat dan penunjuk jalan hanya sedikit. Konon orang Pacitan saja belum tentu tahu pasti letaknya di mana.

Pantai Kunir Pacitan. Foto: Dee
Pantai Kunir Pacitan. Foto: Dee

Karimun Jawa. Ini sudah terkenal dan bagi saya, berenang bersama hiu-hiu di sana tidaklah seseram yang saya alami di P. Kanawa saat bertemu dengan pari manta.

Karimun Jawa. Foto: Dee
Karimun Jawa. Foto: Dee

Borobudur, Prambanan. Ini juga jelas sudah terkenal di dalam maupun di luar Indonesia.

Sarangan. Pengalaman yang bikin kaget di sini, pas motret orang, yang dipotret minta duit. Bukan model profesional loh ya, cuma memang waktu itu saya sedang ingin mencoba memotret foto-foto jenis human interest. Mungkin mereka sudah terbiasa dipotret oleh turis asing dan diberi uang, jadi kebiasaan. Soal alamnya, seperti biasa; hijau dan cantikkkk.

Sarangan

Bali. ‘Pulau Dewata’ satu ini bahkan kadang-kadang lebih dikenal daripada Indonesia. Area yang penuh adat dan budaya nan cantik, tapi sayang semuanya dibuat komersil, alias ‘dikit-dikit bayar’. Bukan masalah tidak ingin bayar, tapi kesakralannya jadi tercoret.

Besakih. Dikenal sebagai pusat kegiatan dari seluruh pura yang ada di Pulau Bali. Layaknya tempat ibadah, kerap diadakan upacara keagamaan yang juga terbuka untuk turis, walau bukan berarti kesakralan di sana berkurang. Malah sebenarnya mengesankan saat melihat pluralisme yang ada di sana. Ada bule (orang asing) yang belajar sembahyang (berdoa dengan tata cara Hindu Dharma Bali) dan ada orang lokal yang mau mengajari. Di mata saya, wajah bule itu menunjukkan keseriusan saat melihat pengajarnya. Bukan sekedar ingin tahu, tapi juga memahami. Itu adalah sebuah momen di mana perbedaan bukanlah persoalan. RUKUN.

 

Ketika perbedaan bukan menjadi persoalan. Foto: Dee
Ketika perbedaan bukan menjadi persoalan. Foto: Dee

Menjangan Pulau Menjangan. Masih di sekitar Bali, saya ke sana karena butuh ketenangan dan melihat alam yang cantik. Snorkling melihat terumbu-terumbu karang dan rumput laut bergoyang kiri-kanan, ikan-ikan cantikkkk. Untuk menjangkau bagian bawah laut yang indah itu, pengunjung harus agak ke tengah, tepat sebelum masuk ke palung lautnya yang biruuu, gelappp dan ngeri liatnya. Kalau tidak mau, bagian atasnya juga lumayan;

Pulau Menjangan dan lautan serta kapal kecil pengangkut pengunjung yang mau snorkling. Foto: Dee
Pulau Menjangan dan lautan serta kapal kecil pengangkut pengunjung yang mau snorkling. Foto: Dee

Ranu Kumbolo. Tempat ini adalah jalur yang memang harus dilewati oleh siapapun yang ingin mendaki gunung Semeru. Lokasinya di Lumajang, tepatnya di kaki G. Semeru. Ada lokasi perkemahan di sana dan  Pertama ke sana, tidak sampai ke puncak, karena niatanya memang hanya sampai di Ranu Kumbolo. Selain itu jujur saja stamina saat itu memang kurang memadai. Jadi bertekad untuk kembali lagi suatu saat dan mendaki sampai ke puncak! Pada saat tulisan ini dibuat, Dee juga sedang merayakan ulang tahun dengan mendaki G. Semeru.

Ranu Kumbolo di pagi hari. Foto: Dee
Ranu Kumbolo di pagi hari. Foto: Dee

Arjuno- Welirang  Setelah G. Bromo, Kelud, dan Batur, akhirnya saya mendaki dan mengibarkan bendera merah putih di puncak G. Arjuno- Welirang. Ini gunung pertama dan tersulit yang pernah saya tempuh dengan persiapan fisik minimal. Akibatnya kecapean sampe muntah-muntah di pos terakhir sebelum naik ke Arjuno. Belajar dari pengalaman, sebelum memutuskan naik gunung, minimal harus rutin jogging atau jalan kaki. Berapa jauh? Dikira-kira sendiri berdasar kemampuan. Lebih bagus kalau latihan jalan sambil bawa beban, ataupun membiasakan naik turun tangga daripada menggunakan lift. Niscaya benar-benar bermanfaat.

Suasana fajar di pos perkemahan sebelum menuju puncak Arjuno- Welirang. Foto: Dee
Suasana fajar di pos perkemahan sebelum menuju puncak Arjuno- Welirang. Foto: Dee

Candi Gedong Songo Ungaran. Sebenarnya saya bukan tipe yang terlalu doyan sejarah. Tapi tempat ini asyik, masih di area yang alami, bahkan ada pemandian air panasnya. Jadi sehabis menyusuri 9 candi, di pertengahan jalan ada sumber air panas…segarrr. Walaupun di alam bebas, tapi yah jangan dibayangkan seperti mandi di sungai. Sebagai pemandian campuran, tempat ini dikelola pemerintah. Privasi pengunjung dilindungi oleh tembok.

(Salah satu spot) Candi Gedong Songo di Ungaran. Foto: Dee
(Salah satu spot) Candi Gedong Songo di Ungaran. Foto: Dee

 

Rawa Pening. Saat siang, daerah sekitaran rawa itu dijadikan kawasan komersil yang keramaiannya sudah mirip dengan THR (Taman Hiburan Rakyat) Surabaya. Akibatnya kalau siang memang alamnya jadi tidak terlalu cakep, tapi menariknya justru sore dan pagi hari. Suguhan alam berupa matahari terbenam dan terbit, cakep bukan main dan menenangkan…

Sulawesi, Pantai Donggala. Pengalaman saat pertama kali ke sana, karena berangkat dari Palu, terasa benar jauhnya. Begitu masuk kawasan Donggala yang mau masuk ke area pantai, ada warung-warung yang menjual ikan-ikan segar. Makan di sana dengan lauk ikan segar dan pemandangan yang begitu aduhai karena pasir putih dan air laut biruuuu, apalagi coba yang kurang?

Pantai Donggala Sulawesi . Foto: Dee
Pantai Donggala Sulawesi . Foto: Dee

 

Bersambung ke bagian kedua…

Vensca : Not Just an Empty Beauty

Fotografer: Lukas Surya Atmaja Lokasi: Kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Pakuwon City
Fotografer: Lukas Surya Atmaja
Lokasi: Kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
Pakuwon City

Vensca Veronica Tanus namanya. Dara kelahiran Luwuk, 7 Februari 1995 ini telah mengukir sejumlah prestasi tingkat nasional di sela-sela kesibukannya menuntut ilmu. Baik di bidang akademik maupun non akademik, berbagai kompetisi diikutinya demi mencari bekal pengalaman. Mulai dari kompetisi fisika, hingga pemilihan Putri Indonesia semua sudah pernah dijalaninya. Vensca memang belum menjadi juara utama di ajang Putri Indonesia, namun potensinya kian terasah untuk menjadi lebih dari sekedar ratu kecantikan. Kini Vensca sedang menempuh semester dua kuliahnya di jurusan IBM FB WM. Meski kegiatan non akademik memadati jadwalnya, Vensca tetap mementingkan pencapaian di bidang akademik, terbukti dengan IPS 3,85 yang diraihnya. Berikut bincang-bincang Vensca dengan saya selaku HuMas di Widya Mandala.

Bagaimana ceritanya dari Gorontalo bisa bergabung ke IBM WM?

Saya lahir di Luwuk Sulawesi Tengah, lalu setelah lulus SD sekeluarga pindah ke Gorontalo demi usaha. Di sana salah satu keluarga adalah lulusan WM dan teman dekat saya ada yang kuliah di WM Surabaya. Awalnya, karena sempat menunda kuliah selama setahun jadi bingung dalam menentukan jurusan. Di jurusan IBM WM, saya berharap bukan sekedar belajar menguasai ilmu bisnis namun sekaligus mengasah Bahasa Inggris, sehingga sekali jalan setidaknya dapat dua manfaat.

Apakah memang sedari kecil sudah berminat di dunia kontes kecantikan?

Bermula dari usia 3 tahun sudah diikutkan kontes oleh Ibu. Terus berkembang mengikuti bermacam kompetisi sampai sering dicari oleh pihak sekolah dan diminta jadi perwakilan. Saya sendiri sangat senang menari dan baru menyadari potensi saya saat terpilih menjadi mayoret pada waktu SMP. Seleksinya susah dan prosesnya panjang. Awalnya memang kurang suka mengikuti kegiatan-kegiatan ini karena melelahkan. Saya juga ingin fokus agar punya nilai akademik yang bagus, namun setelah berjuang dari bukan siapa-siapa hingga mulai dicari oleh berbagai pihak, jadi merasa tertantang. Saya selalu berpikir; selagi saya bisa lebih baik dicoba.

Berlaga mulai dari bidang akademis sampai kontes kecantikan, apa yang paling berkesan?

Terbentur masalah keluarga, saya terpaksa menunda kuliah selama setahun. Saat itu Ibu yang mendorong saya mencari kegiatan untuk mengasah kemampuan. Titik balik pembelajaran saya di dunia beauty pageant saya dapatkan saat mengikuti kontes pemilihan duta wisata dari Gorontalo. Sebelumnya provinsi Gorontalo belum pernah masuk hitungan di tingkat nasional, menjadi bagian dari 10 besar itu saja sudah sangat luar biasa. Saat itu saya menjadi peserta termuda berusia 17 tahun melawan banyak pesaing yang jauh lebih senior. Berbagai diskriminasi saya alami, mulai dari segi agama yang masuk kaum minoritas hingga prasangka bahwa saya pasti minim kemampuan karena faktor usia. Beruntung tahun itu jurinya yang didatangkan dari Jakarta menilai dengan profesional. Kami tidak menyangka bisa menang dan diberangkatkan ke Denpasar. Minim dukungan, saya ajak partner satu tim untuk bekerja sama menampilkan yang terbaik, termasuk komitmen untuk berlatih intensif dan mengeluarkan biaya sendiri demi mendatangkan pelatih professional. Kami pun jadi juara dua dan akhirnya biaya ditanggung oleh dinas pariwisata. Saat itulah saya benar-benar belajar banyak hal, termasuk bagaimana bersikap lebih ‘matang’ dan mengendalikan diri saat bertemu dengan orang-orang penting seperti gubernur dsb.

taken on the stairs of Widya Mandala Catholic University Surabaya by Lukas S Atmaja
this picture of Vensca was taken on the stairs of Widya Mandala Catholic University Surabaya by Lukas S Atmaja

Apa yang paling berat untuk dihadapi bagi seorang Vensca?

Merasa sudah bekerja keras tapi dihujat tanpa alasan yang jelas. Aneka komentar sadis tak bertanggung jawab di media sosial, maupun yang berasal dari orang-orang sekitar baik yang saya kenal maupun tidak. Ada prasangka bahwa pengikut kontes kecantikan seringkali hanya bermodal penampilan namun kosong kecerdasannya. Mereka tidak mengetahui kerja keras yang saya lakukan demi mendapatkan apa yang saya miliki. Namun saya juga punya kekurangan, misalnya kurang disiplin tepat waktu, kurang disiplin dalam komitmen menjaga berat badan demi tuntutan penampilan. Untuk mengatasinya saya harus selalu introspeksi dan tahu diri dengan melihat bagaimana orang lain bersikap terhadap saya.

Bagaimana dengan rencana untuk masa depan?

Saya sadar tidak selamanya bisa mengikuti kontes maupun kompetisi lain seperti sekarang. Demi masa depan inilah saya melanjutkan kuliah di IBM WM, lulus kuliah saya ingin bekerja di perusahaan yang membuat saya bisa mengumpulkan modal untuk memulai bisnis sendiri dan membantu orang tua. Saya ingin mendirikan suatu bisnis yang bisa mewakili nama Indonesia di kancah internasional. Oleh sebab itu, selagi saya bisa, saya ingin mencari pengalaman sebanyak mungkin di berbagai bidang, bertemu dengan orang-orang baru dan terus belajar hal baru.

The picture was taken in the campus's front yard by Lukas S Atmaja
The picture was taken in the campus’s front yard by Lukas S Atmaja

Catatan di balik pengambilan gambar;

Seringkali orang berpendapat sambil lalu, bahwa menjadi model dan fotografer itu enak. Kerjaannya cuma gonta ganti baju, dandan, pose dan dijepret kamera. Fotografer juga tinggal cekrak- cekrik aja uda bisa dapat duit dengan gampang. Hari itu, saya menyaksikan sendiri bagaimana susahnya menghasilkan gambar cantik-cantik dan indah seperti yang saya posting di atas. Foto ke-3 yang saya tampilkan diambil di bawah sengatan sinar mentari tengah hari musim kemarau di Surabaya – Indonesia. Dalam musim kemarau standar Surabaya, rerata suhu dalam ruangan adalah 38 hingga 40 derajat celcius. Coba bayangkan bagaimana panasnya di luar? Niscaya kita bisa membuat telur ceplok setengah matang di atas jidat masing-masing. Proses pengambilan gambar di belantara semak liar berduri ini memakan waktu kurang lebih 45 menit. Di sela-sela tetesan peluh sebesar biji jagung yang menggantung di dagu, saat itu saya merasa beruntung. Suatu kehormatan bisa menyaksikan dua orang dari generasi yang lebih muda dari saya ini bekerja keras.

Dalam foto tersebut, Vensca tersenyum seraya memainkan bunga liar. Seakan sekelilingnya sejuk dan menyenangkan. Padahal gambar itu diambil pada saat dia baru saja jatuh terjerembab. Awalnya, saya hanya meminta dia mengambil pose dalam keadaan berdiri, namun setelah terjatuh, Vensca meminta sendiri kepada kami untuk terus mengambil foto. “Kepalang tanggung, terusin aja. Kayaknya bagus juga kayak begini,” ujarnya santai. Baru setelah foto-foto selesai diambil, dan Vensca bangkit berdiri…saya melihat segaris darah di kakinya. Dia sama sekali tidak mengeluh capek maupun sakit saat itu. Memang luka itu tidak parah, tapi dalam hati saya sudah salut pada gadis ini. Saya cukup sering mengadakan sesi foto, dan pernah menemui orang-orang yang sudah mengeluh capek dll walau difoto dalam studio ber-AC dan tidak sampai luka-luka. Vensca peraih prestasi yang tergolong luar biasa, dan ia tidak mengeluh sama sekali. Kecantikannya jelas bukanlah kecantikan kosong belaka seperti yang dengan gampang ditudingkan oleh orang-orang berpandangan sempit kepada peserta kontes-kontes kecantikan.

Lukas Surya Atmaja, yang menjadi fotografer saat itu juga besar jasanya. Gambar-gambar indah ini takkan ada tanpa dia bersusah payah berjongkok membenamkan diri di antara belukar (yang ternyata) berduri. Bahkan saya yang waktu itu membantu menyingkirkan bunga-bunga duri (berjumlah puluhan) dari bajunya saja sampai ikutan berdarah. Memang, untuk mendapatkan sudut pandang yang tepat, seorang fotografer profesional harus mau ‘berjungkir balik’ yang kadang-kadang kelihatan seperti melakukan stunt berbahaya di film. Lukas masih seorang mahasiswa, tapi kualitas foto-foto hasil jepretannya tidak perlu diragukan. Ia sudah pernah disalami oleh Presiden SBY sendiri setelah karyanya memenangkan suatu lomba fotografi. Jadi gumpalan duri-duri itu bukan apa-apa baginya yang memang suka mengambil foto outdoor.

Tulisan ini saya dedikasikan bagi mereka berdua, dan bagi mereka yang menghargai kecantikan yang berharga. Not just an empty beauty.

Ada Apa di Sekeliling Kita? Check it Out!

Persembahan LPPM & Pascasarjana WM; Ada apa di sekeliling kita? Check it Out!

“Kalian masih ingat dengan kasus Taman Bungkul dan Taman Pelangi, yang tiba-tiba menarik perhatian masyarakat dunia setelah berhasil membuat Indonesia jadi muncul di peta wisata pertamanan dunia?,” demikian Kresnayana Yahya melontarkan pertanyaan pada saat memulai presentasinya dalam lokakarya yang diadakan di ruang A201 malam hari Jumat 21 Maret 2014 yang lalu.

ImageFoto: cr. perencanaankota.blogspot.com

Lokakarya ini terselenggara berkat kerja sama antara LPPM dengan Pascasarjana WM sebagai bentuk pengabdian masyarakat yang mengambil tema: Ada apa di sekeliling kita? CHECK IT OUT! Materi yang disampaikan oleh Krenayana Yahya selaku narasumber adalah mengenai analisis lingkungan bisnis, yang nantinya bermanfaat dalam formulasi strategi bisnis.

“Saat ini di mana-mana saya melihat pengusaha asing berlomba-lomba untuk masuk ke Indonesia, tadi saja di bandara saya ketemu dengan orang Malaysia yang ingin membuka usaha sate goreng d indonesia. Dibuat dan diproses di Malaysia, dijual di Indonesia. Apakah ini tidak mulai mengerikan? AEC sudah di depan mata, kalau tidak hati-hati, sebentar lagi supir taksi kita orang India semua. Sekarang aja sudah ada supir taksi cewek Thailand dengan penghasilan 16 juta perbulan di Jakarta. Mau dibiarkan semua seperti itu?,” ujarnya kembali melontarkan pertanyaan retoris pada seluruh peserta lokakarya.

Menurut Kresna, Indonesia baru akan useless kalau tidak punya kesadaran, who we are and where we are. Orang Indonesia, punya bawaan ‘nrimo’ alias sudah puas dengan kondisi yang ada saat ini. Ini berbahaya, contohnya saja di dunia pendidikan. Bersyukurlah mereka yang berkuliah di sekolah swasta, karena tidak diberi apa-apa oleh pemerintah juga masih bisa hidup. Bagaimana dengan mereka yang bersekolah di negeri, biasa disubsidi, kemudian seandainya pemerintah goyah, 10 % saja anggaran pendidikan dikurangi pasti akan berjatuhan banyak korban. Di sisi lain, nilai kehidupan di masyarakat kita sudah sangat terancam, ada banyak orang berduit yang malah merasa bangga kalau bisa beli ijazah tanpa harus capek sekolah.

“Bisnis di indonesia, didominasi dengan bisnis tradisional dan bisnis gelap. Saya sebagai orang yang duduk di badan pengawas pusat statistik, melihat semua ini kami selalu kebingungan. Siapa yg hrs brtanggung jawab? Apakah harus menunggu pihak asing untuk masuk dengan membawa profesionalitasnya, kemudian melakukan bisnis dengan cara mereka baru mulai bertindak,…apa kita mau tunggu dihabiskan? Kita juga punya kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik, contohnya ya Taman Bungkul dan Taman Pelangi itu. Profesional itu tidak harus menunggu pihak asing,” ujar pria yang juga pernah memberikan training kepada orang-orang sekaliber Sri Mulyani ini.

Perekonomian Indonesia sangat bergantung pada ekspor bahan mentah, 60 % income riil indonesia dinikmati oleh luar negeri. Namun orang Indonesia sudah berbahagia dengan bisa beli mobil yang kemudian digunakan tidak sesuai aturan sampai angka kematian karena kecelakaan sungguh tinggi. Pernah suatu ketika mencapai 100 org tewas karena kecelakaan dalam waktu sebulan hanya di daerah Gresik Sidoarjo saja. “Ini harus bagaimana? Apa yang salah di kita? Seharusnya kita tidak menjadi masyarakat yang bermental gratisan, tidak mengutamakan sesuatu yang bersifat massal maupun mengkonsumsi sesuatu hanya demi image yang melekat,” tutur Kresna seraya memaparkan data-data statistik berbagai fenomena masyarakat di Surabaya.

Data statistik menunjukkan bahwa uang senilai triliunan rupiah beredar di masyarakat, namun tidak juga muncul dalam bentuk pemberdayaan masyarakat. Salah satu keluhannya adalah kurangnya kemampuan untuk memulai dan menjalankan suatu bisnis. Padahal untuk mengelola sebuah bisnis itu tidaklah terlalu sulit, bisa dijalankan dengan simple check. Metode simple check ini bisa dilakukan dengan memastikan ada 3 hal yang berjalan dengan baik dalam bisnis itu, yakni sistem dan prosedur kelengkapan, penjualan dan pemasaran, serta aliran keuangan.

“Salah satu tugas kita adalah menciptakan kesempatan. Kita harus mendidik masyarakat untuk menjadi kreatif. Kesempatan suatu produk baru untuk bertahan dan sukses di pasar hanyalah sebesar 5%. Oleh sebab itu lah, orang tidak boleh menyerah karena baru sekali gagal, sudah seharusnya orang yang menuntut ilmu semakin tinggi seharusnya bisa semakin memperhitungkan resiko dengan lebih baik. Bukannya malah menjadi takut untuk mencoba, tapi justru harus semakin berani dan pada gilirannya bisa mendidik masyarakat untuk semakin berdaya,” urai Kresna.

ImageFoto; Kresnayana Yahya di hadapan peserta workshop

Meet POTENTIA, the first edition

<div style=”margin-bottom:5px”> <strong> <a href=”https://www.slideshare.net/vonnywiyani/potentia-edisi-1&#8243; title=”Potentia edisi 1″ target=”_blank”>Potentia edisi 1</a> </strong> from <strong><a href=”http://www.slideshare.net/vonnywiyani&#8221; target=”_blank”>Vonny Wiyani</a></strong> </div>

Dari Tunggul Jagung untuk BIO-Jet Fuel Hingga Seleksi Mawapres ke Bandung

Image

Tahun 2013 bagi Chintya Effendi (lulusan Jurusan Teknik Kimia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya) menjadi tahun yang luar biasa. Selain mampu meneruskan keberhasilannya dengan menduduki peringkat III Mawapres Tingkat Kopertis Wilayah 7 Jawa Timur. Chintya Effendi juga lolos seleksi MAWAPRES di tingkat Nasional. Alumni SMAK St. Paulus Jember yang bergabung dengan WM pada tahun 2009 ini mengaku terkejut dengan pencapaiannya.

“Tanggal 4 Juli 2013 adalah hari yang penting bagi saya, karena ada pemberitahuan bahwa saya lolos ke seleksi mawapres tingkat nasional. Perasaan sesaat pada waktu itu adalah senang, terharu sekaligus nervous karena masuk 15 besar tingkat nasional. Saingannya sudah benar-benar terbaik dari seluruh Indonesia, persiapan yang dilakukan harus lebih matang, baik dari presentasi maupun mental,” tuturnya dengan berbinar-binar karena tidak menyangka akan masuk tahap seleksi mawapres tingkat nasional.

Chintya menambahkan dengan antusias, bahwa sosok-sosok finalis mawapres tingkat nasional yang ditemuinya di Bandung, 18 Juli 2013 kemarin sangat luar biasa. Ilmu dan pengalaman berharga banyak didapatkan Chintya dari sesama mahasiswa dan para juri. “Menjadi finalis mawapres adalah kesempatan untuk menjalin koneksi untuk masa depan. Ini adalah kali pertama saya pergi ke Bandung, bertemu dengan begitu banyak orang berprestasi dan bertemu menteri. Hanya ada satu kata untuk menggambarkannya: kereeenn!”  ujarnya.

Potensi Tunggul Jagung sebagai Bahan Baku Pembuatan Bio-Jet Fuel adalah penelitian yang mengantarkan Chintya ke seleksi MAWAPRES tingkat nasional. “Saya tertarik mengembangkan limbah pertanian agar bisa menjadi energi yang terbarukan. Bila di upgrade menjadi bio-jet fuel, produk dari tunggul jagung ini bisa dibeli dengan harga Rp. 6.760, coba bandingkan dengan avtur yang harganya hampir Rp.10.000”, terangnya.

Layaknya orang yang ingin selalu berkarya, perjuangan Chintya tidak selalu mulus. Calon wisudawan WM ini harus mengubur cita – cita masa kecil untuk menjadi dokter karena kegagalannya menembus SMPTN. “Ketika di hasil SMPTN nama saya tidak ada, benar-benar tidak tahu mau jadi apa di masa depan. Kebetulan di sekolah, salah seorang guru saya bilang bahwa Teknik Kimia WM adalah jurusan yang bagus. Akhirnya setelah membandingkan berbagai pilihan, saya menyasar ke sini,” ujarnya ketika menjelaskan mengapa akhirnya memilih menjadi mahasiswa Teknik Kimia WM.

Hasratnya untuk berkarya di bidang kesehatan masih menggebu. Hal itu terbukti dengan beberapa penelitian dan inovasi yang dilakukannya. “Saya pernah membuat es krim dari buah mengkudu yang biasanya dihindari orang karena walaupun menyehatkan tapi baunya busuk. Es krim saya lezat dan baunya enak, gara-gara itu saya jadi juara kedua di lomba inovasi yang diadakan di jurusan,” tutur Chintya menyebutkan salah satu inovasinya. Es krim mengkudu menjadi perantara Chintya berkenalan dengan  Suryadi Ismadji,  penerima Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa oleh 4 Kementerian dan merupakan Dekan Fakultas Teknik WM.

“Beliau membimbing saya meneliti dan mengembangkan limbah menjadi energi yang terbarukan. Kini saya fokus pada pengembangan teknik kimia untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, siapa tahu kelak bisa dapat nobel, amin” ujarnya sambil berangan-angan.

Chintya kini sedang bersiap untuk melanjutkan studinya ke Taiwan pada bulan September 2013. Sederet prestasi baik dalam tingkat nasional maupun internasional yang berhasil diraihnya berbuah beasiswa penuh dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST). “Saya tidak akan bisa mengikuti wisuda di sini, tapi tidak apa-apa, karena saya sudah tidak sabar untuk berkarya di sana,” kata Chintya.

Omong (ga) Kosong soal Cinta

Suasana hatiku sedang setengah muram.
Mereka bilang, saat suasana hati resah, janganlah bicara.
Kuketik saja segala yang lewat di pikiran.
Kisah cinta.
Dan…
Bull shit.
Sama-sama terdiri dari dua kata.
Sama-sama tak semua orang suka melihatnya.
Walau sebenarnya sama-sama banyak gunanya.

Omong kosong dan kisah cinta, keduanya berada di awang-awang benak.
Memberi sentuhan bumbu dalam kehidupan.
Tapi karena pakai kata yang beda.
Perlakuannya jadi beda.
Kalau ada yang menyamakan bakal diprotes orang sedunia.
Syukur kalau ada yang mikir duluan sebelum mencerca.

Kisah cinta ada di mana-mana.
Dari ujung parkiran mall hingga pojokan taman perumahan.
Dari yang terlarang sampai yang dielu-elukan.
Dari yang bikin risih sampai bikin terpesona.
Dari yang tulus sampai yang komersial.
Dari yang suci sampai yang maksiat.
Silakan dipuja, silakan dicerca.
Hak mereka semua untuk bercinta.
Hak kalian juga untuk melihat sembari merana.
Semoga masih ingat kewajiban juga untuk tetap saling jaga rasa.

Omong kosong juga ada di mana-mana.
Dari rumah tangga sampai Istana Negara.
Dari yang ilegal sampai yang dilindungi oleh peraturan.
Dari yang dipercaya sampai yang dinista.
Dari yang demi kebaikan pribadi hingga kebaikan bersama.
Dari yang memang perlu hingga sekadar kebiasaan.
Silakan didengar silakan kalau mau dilupakan.
Hak mereka semua untuk bicara.
Hak kalian juga untuk memilih percaya.
Semoga masih ingat rasanya kecewa, biar bisa belajar apa saja yang ternyata berharga.

Are You Ready to Face The Sunset ?

Do you know where you come from?

What are you doing now?

Where do you want to go?

We have see the sunrise (birth)

Now we are using the energy of the sun (aging)

Soon the sun will be setting (death)

I will also (have to) face the sunset very soon

Before that happen,

I want to built a pagoda in my heart

The pagoda will be build with loving kindness

Compassion, patience, truth and understanding

I hope that you will also

build the pagoda in your heart

before the sunset arrived

When you ‘see’ the pagoda

wisdom will arise with happiness

and the sunset will be beautiful for you

 

‘Are You Ready to Face The Sunset’ by Sayalaj Dipankara