Category Archives: Living Questions

Ada Apa di Sekeliling Kita? Check it Out!

Persembahan LPPM & Pascasarjana WM; Ada apa di sekeliling kita? Check it Out!

“Kalian masih ingat dengan kasus Taman Bungkul dan Taman Pelangi, yang tiba-tiba menarik perhatian masyarakat dunia setelah berhasil membuat Indonesia jadi muncul di peta wisata pertamanan dunia?,” demikian Kresnayana Yahya melontarkan pertanyaan pada saat memulai presentasinya dalam lokakarya yang diadakan di ruang A201 malam hari Jumat 21 Maret 2014 yang lalu.

ImageFoto: cr. perencanaankota.blogspot.com

Lokakarya ini terselenggara berkat kerja sama antara LPPM dengan Pascasarjana WM sebagai bentuk pengabdian masyarakat yang mengambil tema: Ada apa di sekeliling kita? CHECK IT OUT! Materi yang disampaikan oleh Krenayana Yahya selaku narasumber adalah mengenai analisis lingkungan bisnis, yang nantinya bermanfaat dalam formulasi strategi bisnis.

“Saat ini di mana-mana saya melihat pengusaha asing berlomba-lomba untuk masuk ke Indonesia, tadi saja di bandara saya ketemu dengan orang Malaysia yang ingin membuka usaha sate goreng d indonesia. Dibuat dan diproses di Malaysia, dijual di Indonesia. Apakah ini tidak mulai mengerikan? AEC sudah di depan mata, kalau tidak hati-hati, sebentar lagi supir taksi kita orang India semua. Sekarang aja sudah ada supir taksi cewek Thailand dengan penghasilan 16 juta perbulan di Jakarta. Mau dibiarkan semua seperti itu?,” ujarnya kembali melontarkan pertanyaan retoris pada seluruh peserta lokakarya.

Menurut Kresna, Indonesia baru akan useless kalau tidak punya kesadaran, who we are and where we are. Orang Indonesia, punya bawaan ‘nrimo’ alias sudah puas dengan kondisi yang ada saat ini. Ini berbahaya, contohnya saja di dunia pendidikan. Bersyukurlah mereka yang berkuliah di sekolah swasta, karena tidak diberi apa-apa oleh pemerintah juga masih bisa hidup. Bagaimana dengan mereka yang bersekolah di negeri, biasa disubsidi, kemudian seandainya pemerintah goyah, 10 % saja anggaran pendidikan dikurangi pasti akan berjatuhan banyak korban. Di sisi lain, nilai kehidupan di masyarakat kita sudah sangat terancam, ada banyak orang berduit yang malah merasa bangga kalau bisa beli ijazah tanpa harus capek sekolah.

“Bisnis di indonesia, didominasi dengan bisnis tradisional dan bisnis gelap. Saya sebagai orang yang duduk di badan pengawas pusat statistik, melihat semua ini kami selalu kebingungan. Siapa yg hrs brtanggung jawab? Apakah harus menunggu pihak asing untuk masuk dengan membawa profesionalitasnya, kemudian melakukan bisnis dengan cara mereka baru mulai bertindak,…apa kita mau tunggu dihabiskan? Kita juga punya kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik, contohnya ya Taman Bungkul dan Taman Pelangi itu. Profesional itu tidak harus menunggu pihak asing,” ujar pria yang juga pernah memberikan training kepada orang-orang sekaliber Sri Mulyani ini.

Perekonomian Indonesia sangat bergantung pada ekspor bahan mentah, 60 % income riil indonesia dinikmati oleh luar negeri. Namun orang Indonesia sudah berbahagia dengan bisa beli mobil yang kemudian digunakan tidak sesuai aturan sampai angka kematian karena kecelakaan sungguh tinggi. Pernah suatu ketika mencapai 100 org tewas karena kecelakaan dalam waktu sebulan hanya di daerah Gresik Sidoarjo saja. “Ini harus bagaimana? Apa yang salah di kita? Seharusnya kita tidak menjadi masyarakat yang bermental gratisan, tidak mengutamakan sesuatu yang bersifat massal maupun mengkonsumsi sesuatu hanya demi image yang melekat,” tutur Kresna seraya memaparkan data-data statistik berbagai fenomena masyarakat di Surabaya.

Data statistik menunjukkan bahwa uang senilai triliunan rupiah beredar di masyarakat, namun tidak juga muncul dalam bentuk pemberdayaan masyarakat. Salah satu keluhannya adalah kurangnya kemampuan untuk memulai dan menjalankan suatu bisnis. Padahal untuk mengelola sebuah bisnis itu tidaklah terlalu sulit, bisa dijalankan dengan simple check. Metode simple check ini bisa dilakukan dengan memastikan ada 3 hal yang berjalan dengan baik dalam bisnis itu, yakni sistem dan prosedur kelengkapan, penjualan dan pemasaran, serta aliran keuangan.

“Salah satu tugas kita adalah menciptakan kesempatan. Kita harus mendidik masyarakat untuk menjadi kreatif. Kesempatan suatu produk baru untuk bertahan dan sukses di pasar hanyalah sebesar 5%. Oleh sebab itu lah, orang tidak boleh menyerah karena baru sekali gagal, sudah seharusnya orang yang menuntut ilmu semakin tinggi seharusnya bisa semakin memperhitungkan resiko dengan lebih baik. Bukannya malah menjadi takut untuk mencoba, tapi justru harus semakin berani dan pada gilirannya bisa mendidik masyarakat untuk semakin berdaya,” urai Kresna.

ImageFoto; Kresnayana Yahya di hadapan peserta workshop

KALAMA SUTTA

Warning: this teaching is not intended as an endorsement for either radical skepticism or as for the creation of unreasonable personal truth

The instruction of the Kalamas (Kalama Sutta) is justly famous for its encouragement of free inquiry; the spirit of the sutta signifies a teaching that is exempt from fanaticism, bigotry, dogmatism, and intolerance ….\(^.^)/

The sutta starts off by describing how the Buddha passes through the village of Kesaputta (nowadays known as Kesariya, located in Bihar, India) and is greeted by its inhabitants, a clan called the Kalamas.

They ask for his advice: they say that many wandering holy men and ascetics pass through, expounding their teachings and criticizing the teachings of others. So whose teachings should they follow?

This is the Buddha’s response:

Do not go upon what has been acquired by repeated hearing,

nor upon tradition,
nor upon rumor,
nor upon what is in a scripture,
nor upon surmise,
nor upon an axiom,
nor upon specious reasoning,
nor upon a bias towards a notion that has been pondered over,
nor upon another’s seeming ability,
nor upon the consideration, “The monk is our teacher.”
when you yourselves know: “These things are good; these things are not blamable; these things are praised by the wise; undertaken and observed, these things lead to benefit and happiness,” enter on and abide in them.’

Using Kalama Sutta, the Buddha named ten specific sources which knowledge should not be immediately viewed as truthful without further investigation to avoid fallacies:

  1. Oral history
  2. Traditional
  3. News sources
  4. Scriptures or other official texts
  5. Suppositional reasoning
  6. Philosophical dogmatism
  7. Common sense
  8. One’s own opinions
  9. Experts
  10. Authorities or one’s own teacher

Instead, the Buddha says, only when one personally knows that a certain teaching is skillful, blameless, praiseworthy, and conducive to happiness, and that it is praised by the wise, should one then accept it as true and practice it

Where-are-you-going_Jeremy Takody

KALAMA SUTTA (dalam Bahasa Indonesia)

Janganlah percaya begitu saja terhadap suatu berita,hanya karena anda telah mendengarnya.

Janganlah percaya begitu saja terhadap suatu tradisi, hanya karena telah dilakukan secara turun-temurun.

Janganlah percaya begitu saja terhadap sesuatu, hanya karena telah dibicarakan dan didesas-desuskan oleh banyak orang.

Janganlah percaya begitu saja terhadap sesuatu, hanya karena sudah tercatat di dalam kitab suci.

Janganlah percaya begitu saja terhadap sesuatu, hanya karena diwejangkan oleh para guru atau para tetua.

Tetapi setelah melakukan pengamatan dan kajian yang mendalam, sehingga  menemukan bahwa segala sesuatu tersebut beralasan, sesuai, dan berkaitan dengan hal- hal yang baik dan berguna, tidak tercela, yang mana kalau diteruskan, akan membawa kebahagiaan, maka selayaknya anda menerima dan hidup sesuai dengan hal-hal tersebut.

Sang Buddha (Anguttara Nikaya Vol. 1, 188-193)

*Ajaran ini tidak ditujukan sebagai pengesahan atas skeptisisme yang radikal, ataupun kebenaran pribadi yang tak beralasan.

Omong (ga) Kosong soal Cinta

Suasana hatiku sedang setengah muram.
Mereka bilang, saat suasana hati resah, janganlah bicara.
Kuketik saja segala yang lewat di pikiran.
Kisah cinta.
Dan…
Bull shit.
Sama-sama terdiri dari dua kata.
Sama-sama tak semua orang suka melihatnya.
Walau sebenarnya sama-sama banyak gunanya.

Omong kosong dan kisah cinta, keduanya berada di awang-awang benak.
Memberi sentuhan bumbu dalam kehidupan.
Tapi karena pakai kata yang beda.
Perlakuannya jadi beda.
Kalau ada yang menyamakan bakal diprotes orang sedunia.
Syukur kalau ada yang mikir duluan sebelum mencerca.

Kisah cinta ada di mana-mana.
Dari ujung parkiran mall hingga pojokan taman perumahan.
Dari yang terlarang sampai yang dielu-elukan.
Dari yang bikin risih sampai bikin terpesona.
Dari yang tulus sampai yang komersial.
Dari yang suci sampai yang maksiat.
Silakan dipuja, silakan dicerca.
Hak mereka semua untuk bercinta.
Hak kalian juga untuk melihat sembari merana.
Semoga masih ingat kewajiban juga untuk tetap saling jaga rasa.

Omong kosong juga ada di mana-mana.
Dari rumah tangga sampai Istana Negara.
Dari yang ilegal sampai yang dilindungi oleh peraturan.
Dari yang dipercaya sampai yang dinista.
Dari yang demi kebaikan pribadi hingga kebaikan bersama.
Dari yang memang perlu hingga sekadar kebiasaan.
Silakan didengar silakan kalau mau dilupakan.
Hak mereka semua untuk bicara.
Hak kalian juga untuk memilih percaya.
Semoga masih ingat rasanya kecewa, biar bisa belajar apa saja yang ternyata berharga.

Are You Ready to Face The Sunset ?

Do you know where you come from?

What are you doing now?

Where do you want to go?

We have see the sunrise (birth)

Now we are using the energy of the sun (aging)

Soon the sun will be setting (death)

I will also (have to) face the sunset very soon

Before that happen,

I want to built a pagoda in my heart

The pagoda will be build with loving kindness

Compassion, patience, truth and understanding

I hope that you will also

build the pagoda in your heart

before the sunset arrived

When you ‘see’ the pagoda

wisdom will arise with happiness

and the sunset will be beautiful for you

 

‘Are You Ready to Face The Sunset’ by Sayalaj Dipankara

Things We Can Learn from a Dog

Today, I almost fainted in a toilet of a restaurant due to fatigue. (~.~)”

Since it was in an individual female toilet room, and I didn’t even had enough energy to scream for help…(though actually I didn’t plan to do it, my dignity shout at me first before I scream for help in that kind of condition, I know it’s bad…it’s me (~_~)”…)
I decided to squat for a while, trying to regain my strength and focus.
After several minutes, in an awkward pose, suddenly my eyes spoted a picture.
An old picture of a fine golden retriever in a frame, covered with spots of mold, hanged on the wall beside me.
Beside the dog, there are words written beautifully;

Things We Can Learn from a Dog

1. When loves one come, always run to greet them
2. Run, romp, and play daily
3. Be loyal
4. Never pretend to be something you are not
5. If what you want lies buried, dig until you find it
6. When someone is having a bad day, be silent, sit close, and nuzzle them gently
7. Delight in the simple joy of a long walk
8. Avoid biting when a simple growl will do
9. No matter how often you are critized, don’t buy into the guilt thing and pout
10. Run right back and make friends

I wrote only 10 things, maybe you could find more (^0^)/
After read those words, I feel grateful.
It’s not my choice to be almost fainted in a place such like that. But those words successfully carved a smile on my face.
That picture maybe old, covered in mold and forgotten, yet it bring a good impact to my feeling.
Therefore, I share it \(^.^)/

These things are real, base on my own experience;
I do have some dogs, each of my dogs have different personality, but all the things I’ve mention above, are general traits. It could be mean I’m lucky having such a wonderful dog(s) in my life, since i know some people who doesn’t appreciate them as I do. Well…every human being is unique, they have their own reason.

My beloved dog _(^.^)/

a Very – Pissed – Off – Ordinary fellow (^0~)/ (alias orang biasa yang super jengkel)

“Advertising has us chasing cars and clothes, working jobs we hate so we can buy shit we don’t need. We’re the middle children of history, man. No purpose or place. We have no Great War. No Great Depression. Our great war is a spiritual war. Our great depression is our lives. We’ve all been raised on television to believe that one day we’d all be millionaires, and movie gods, and rock stars, but we won’t. We’re slowly learning that fact. And we’re very, very pissed off.”

Quote by Tyler Durden, from the movie ‘Fight Club’ based on the novel by Chuck Palahniuk

Translation in Bahasa;

“Reklame membuat kita mengejar ambisi untuk memiliki mobil dan baju-baju, mengerjakan aneka pekerjaan yang kita benci agar bisa membeli barang-barang yang sebenarnya tak kita butuhkan. Kita adalah anak tengah di dalam sejarah, bung. Tak punya tujuan dan tak punya tempat. Kita tak punya perang akbar, tak punya masa depresi besar. Perang akbar kita adalah perang spiritual, dan masa depresi besar kita adalah kehidupan kita. Kita semua dibesarkan dengan televisi untuk percaya bahwa suatu hari kita semua akan menjadi miliuner, dewa – dewi perfilman, dan bintang rock. Tapi kita takkan menjadi itu. Perlahan-lahan kita mempelajari fakta itu dan kita amat, sangat jengkel.”

(Kutipan oleh Tyler Durden, karakter dalam film ‘Fight Club’ berdasarkan novel berjudul sama oleh Chuck Palahniuk)

Kalimat itu menohokku tepat di harga diri, entah dimanapun letaknya itu.
Sakit yang pasti…(T0T)

Sakit karena benar, kenyataan bicara, aku memang berambisi ingin punya mobil bagus, baju-baju dan barang-barang keren, pernah kubanting tulang serta kupasang ekspresi aneka muka aspal (asli muka ku tapi palsu niatan dan perasaannya) demi bertahan di pekerjaan yang sebenarnya kubenci, semata karena gajinya gede dan bisa dipake buat belanja (yang ujung-ujungnya malah bikin aku perlu cari duit lagi).

cr. to funnypictureplus.com

…pengalaman itu benar-benar ‘memakan’ tubuhku secara harfiah, sebelum usiaku genap 24 (bahkan belum sampai seperempat abad) aku sudah beberapa kali masuk RS karena kelelahan tingkat gawat. fiuhhh. \(@_@)\

Buodohnya, sewaktu orang-orang di sekitarku mengkhawatirkanku, aku malah merasa bangga dengan gaya hidupku, predikat ‘worcaholic‘ yang di mataku hampir sekeren ksatria penunggang kuda jingkrak di mata anak TK pecinta dongeng-dongeng lebay yang endingnya selalu ‘happily ever after‘.

Setelah beberapa kali mengulang kebodohan dan nyaris tewas, barulah aku menyadari…(T0T)…Jelas ada yang salah dengan cara pikirku, atau pendidikan yang kudapatkan sampai aku jadi berpikiran seperti itu. Kulihat sekeliling dan beberapa orang terdekatku ternyata juga mengulangi siklus yang sama mengenaskannya. Mereka adalah orang-orang yang sangat berharga bagiku dan kuhormati sebagai panutan. Jika ditilik dari sejarah pendidikan, kami termasuk deretan yang cukup sering diberi cap ‘berprestasi’. Kini, persamaan dari kami semua setidaknya ada dua; masalah kesehatan, dan tidak bahagia. Apalah artinya predikat ‘pandai’ dan piala berkilau di lemari yang terlupakan jika orangnya sendiri tidak bahagia?

Nihil dong….(T____T)”

Kalau begitu, mana yang lebih penting;

Standar kesuksesan di mata kebanyakan orang?,

atau model kehidupan dan penampilan ideal seperti yang biasa ditampilkan iklan?,

atau perasaan bahagia yang dimiliki setiap orang secara pribadi dan unik?

Berdasarkan pengalaman, kebahagiaan yang benar-benar kurasakan meski hanya berasal dari hal remeh (seperti nemu jajanan enak bareng sesama penyuka makanan) terasa jauh lebih nyata dan melekat daripada baju mahal atau gadget super canggih yang menguras kantong. Kalau mau bicara apa adanya, banyak juga orang yang ngotot beli baju kuerennn dan gadget cuanggih dengan harga yang ngajak miskin (walau gak paham cara pakainya) demi nongkrong di tempat keren bersama kumpulan yang keren juga. Nah loh, pada dasarnya mereka juga mengejar pemenuhan kebutuhan untuk diterima dalam suatu kelompok yang ‘nyaman’ kan?

Aku bersyukur kini bisa menemukan kenyamanan – kenyamanan itu tanpa harus terus membayar terlalu mahal. \(^0^)/

Tak perlu bersusah bayang, mulailah menghargai hal-hal sederhana yang mudah kita dapatkan, maka bahagia dengan diri kita apa adanya juga jadi lebih mudah

\(^_^)/

and (hopefully) we will not be one of those very pissed off ordinary fellow…

credit to; http://ok2disconnectportfolio.wordpress.com

EACH of US HAS UNIQUE ABILITIes \(^0^)/

I am only one; but still I am one. I cannot do everything; but still I can do something; and because I cannot do everything, I will not refuse to do the something that I can do.

Quote by: Edward Everett Hale, in Jeanie Ashley Bates Greenough, A Year of Beautiful Thoughts‎ (1902), p. 172. This is often misattributed to Helen Keller since the 1980s.

Terjemahan dalam Bahasa;

Aku hanya satu, tapi tetap aku masih ada satu.
Aku tak bisa melakukan segala sesuatu, tapi aku masih bisa melakukan sesuatu; dan karena aku tak bisa melakukan segala hal, aku takkan menolak untuk melakukan sesuatu yang bisa kulakukan.

hmmmm (@_@)

kalau diterjemahkan serius gitu jadi lumayan ruwet yah?
Pada intinya, menurutku kutipan dari Edward E. Hale ini cocok bagi setiap orang yang sedang merasa tak berdaya atau kurang kemampuan.
Setiap orang terlahir unik, seawam apapun kedudukan dan latar belakangnya selalu ada sesuatu yang membuatnya berbeda dari yang lain.

Kabar baiknya, perbedaan itu bisa jadi bagus-bagus loh (^0^)/. Bagaikan bumbu-bumbu dalam masakan, kita semua punya cita rasa khas yang kalau digabungkan bisa membuat rasa yang ‘mak nyuzz’. Seringkali memang kita tak menyadarinya, atau nasib yang lebih ngenes lagi adalah kalau kita menyadarinya dan lumayan bangga tapi malah oleh orang lain dianggap tidak penting, blaz. (T_T)”

Sebenarnya sih, pendapat orang bagaimana, apa itu bisa benar-benar mengubah siapa kita sebenarnya?

Bukankah memang tak satupun dari kita semua tahu bagaimana rasanya menjadi orang lain?

Kenapa juga kita merasa harus menilai diri sendiri dengan standar orang lain?

Ada yang bilang itu otomatis, lantaran kita ini makhluk sosial yang hidupnya selalu berada di sekitar orang lain. Ada juga yang bilang tidak harus, tapi tanpa sadar jadi begitu lantaran semua orang melakukannya (ini tipe yang lebih ngenes lagi, bahkan dalam pembelaannya pun masih saja membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain, (T__T)”). Kenyataannya, apapun alasannya, membandingkan diri dengan siapapun tak menjamin kita meraih kebahagiaan.

Jadi daripada menghabiskan waktu untuk menyesali apa yang tak mampu kita lakukan, bukankah lebih baik bersyukur dengan apa yang kita miliki dan fokus pada hal-hal yang memang sanggup kita kerjakan?

Aku percaya, setiap dari kita memiliki fungsi yang unik untuk menopang kehidupan.

Tak seorangpun, siapapun, dimanapun, kapanpun berhak mengatakan bahwa kita ini sia-sia.

tak seorangpun, terutama diri kita sendiri.

(^0^)/

God’s creation are unique, including us _(^0^)/

Jealousy

Cemburu.

Adalah hal yang baru bagiku.

Sebelumnya, aku tak pernah merasa ingin memiliki sesuatu seutuhnya hanya untuk diriku sendiri.

Biasanya aku adalah orang yang dengan senang hati berbagi.

Namun tidak kali ini.

Aku tidak rela berbagi senyum itu dengan orang lain.

Aku tidak rela berbagi suara lembut itu dengan siapapun.

Aku bahkan tidak rela air matanya dilihat oleh orang lain.

Dia harus jadi milikku saja, atau tidak sama sekali.

Orang bilang itu posesif.

Ada yang bilang ini cinta.

Dia bilang aku tak punya rasa percaya.

Bagiku ini menyakitkan.

Aku tak yakin ini bakal berakhir baik.

Aku tak yakin ini bakal ada akhirnya.

Aku juga tak tahu apa penyebabnya.

Dia tidak kelihatan begitu istimewa.

Aku juga tidak tergila-gila kepadanya.

Tapi kenapa aku jadi begini?

Apa aku egois?

Aku tak ingin berbagi perhatiannya dengan siapapun.

Aku tak ingin berbagi waktunya dengan siapapun.

Aku tak ingin berbagi dirinya dengan siapapun.

Tapi aku tak ingin kebebasanku hilang.

Katakan padaku,

Apa aku tidak dewasa?

Apa keinginanku tak sehat?

Kupikir juga begitu.

Tapi susah sekali mengendalikan keinginan itu  begitu memilikinya.

Keinginan itu bagaikan setan rupawan yang menari-nari di pangkuanku.

Menahan kedua tanganku untuk tak merengkuh pinggangnya sungguh terasa melelahkan.

Saat ini aku bertahan dengan akal sehatku untuk tidak menuruti keinginan itu.

Namun aku tak tahu, seberapa kuat aku bisa menahan.

Merpati yang dipegang terlalu rapat akan mati karena sayapnya remuk.

Cinta yang digenggam terlalu kuat akan berubah menjadi penjara yang menyesakkan.

Jika kita memutuskan mengambil resiko dan tetap melakukannya, apa kita siap menanggungnya saat tak tersisa apapun lagi untuk satu sama lain?

Bagaimanapun harapan kita, tiada yang abadi di dunia ini.

Apakah kita sudah siap, bila segala hasrat hilang, dan perasaan memudar?

Satu hal yang pasti,

kita selalu punya pilihan untuk sekedar menjalani dan menikmatinya…(^0^)/

Cemburu.

Daripada mengatakannya sebagai hal yang wajar, aku lebih bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang tak bisa kita hindari.

Bagian dari kualitas manusiawi kita yang tak pernah benar-benar bisa lepas dari masa kanak-kanak.

Setiap dari kita memiliki kelemahan di dalam diri.

Cinta mempengaruhi kita begitu kuat, sehingga saat itu diuji, sisi lemah diri kita yang tersembunyi jauh di dalam meraung keluar, melakukan perlawanan.

Layaknya anak kecil yang tak sudi berbagi kesenangannya.

Sekuat itulah cinta mempengaruhi kita, membuat orang dewasa kembali menjadi anak kecil.

Begitu rapuh dan tak tahu apa yang tepat untuk dilakukan, namun begitu bersikeras mempertahankan apa yang disukai.

Lawan manusia dalam hidup bukan hanya orang lain, lawan terhebat justru berasal dari dalam diri masing-masing. 

Menurutku, itu bisa disyukuri.\(^0^)/

Karena pengalaman seperti itulah yang menempa hati kita untuk menjadi lebih kuat.

Our Finest Moment \(^.^)/

Pernahkah kau merindukan masa-masa yang telah lalu?

atau terkenang teman-teman lama yang hilang entah kemana?

Ingat akan pengalaman terbaik dalam hidup,…
ataupun yang terburuk seumur hidup (X_X).

Seperti apapun masa lalumu, itu takkan pernah terulang sama persis kembali untuk kedua kalinya,…
itulah sebabnya, masa-masa itu begitu berharga (^0^)/.

Selagi kau menjalani masa kini, syukuri dan nikmatilah.
Takkan ada lagi momen yang sama \(^.~)/

 

Lessons about Happiness \(^0^)/

Have you ever felt that some unforgettable scene in your life was your happiest moment?

If you do, congratulation.

But…

I feel sorry for you. (T.T)

Because,

Once a person choose a moment or anything to be the ‘happiest ‘, whoever it is will compare that very moment to something they like the most after that, or hate most after that, or less like after that etc.

The point is, they started to compare a unique experience and precious moment to another.

It will only bring less appreciation to the ‘moment’ that actually have it’s own meaning.

Hence, it will be harder to conceive another precious and happy moments.

So, why bother to spoiled every (actually unique) moment with your burden of thoughts?

Let it be.

Don’t analyze, it will paralyzed you at some point.

I think, and feel, that every happy moment should be enjoyed the way it is.

It doesn’t matter whether it will end up as your happiest or worst experience.

It doesn’t  matter whether it will end at all.

…and it doesn’t really matter from who or where or when you get that exact moment.

In fact, you can get it in the worst time or worst place or even worst people you could ever imagine, yet  it would be still precious and unique to be remember…(^0^)/.

Happy moments are there to be enjoyed and feel, not to be judge by nothing.

Be happy the way you are, because every moments are unique and have it’s own meaning already.

Don’t waste your time by judging it more or explore it like a some sort of file in your hard disk,…relax and enjoy.

It’s yours truly…(^.~)/.

P.S: Don’t be scared to lost it. Be thankful, you have it.

 

Translation in Bahasa Indonesia:

Apa kau pernah ‘menobatkan’ suatu kejadian dalam hidupmu sebagai momen yang paling membahagiakan?

Kalau pernah, selamat ! \(^0^)/

Tapi…

Aku  prihatin atas dirimu.(T.T)

Karena,…

saat  seseorang memilih sebuah momen sebagai ‘yang paling bahagia‘, siapapun dia bakalan membandingkan momen itu dengan momen selanjutnya yang paling mereka sukai, atau paling benci, dst.

Intinya, mereka mulai saling membandingkan berbagai pengalaman yang sebenarnya unik dan sama-sama berharga.

Lalu, jadi lebih susah menikmati berbagai momen-momen lain.

Jadi, kenapa mesti menyia-nyiakan setiap momen (yang sebenarnya unik loh,…coba pikir: mana ada yang persis sama satu sama lain?) dengan aneka beban di pikiranmu?

Biarkan saja seadanya.

Jangan terlalu menganalisa, itu akan melumpuhkanmu pada suatu titik.

Kupikir, dan kurasa, setiap momen bahagia harus bisa dinikmati sebagai mana adanya.

Tak masalah itu bakal berakhir menjadi pengalamanmu yang terbuaaikkk ataupun terrrburuk.

Malahan sama sekali tak masalah itu bakalan berakhir atau tidak…juga tidak penting dari mana, siapa, atau kapan tepatnya kau mendapatkan momen tersebut.

Faktanya, kau bisa saja mendapatkannya pada waktu paling buruk, di tempat terburuk,  bahkan dari orang-orang paling parah yang bisa kaubayangkan, namun tetap saja itu akan berharga dan unik untuk diingat…(^0^)/.

Momen bahagia ada untuk dirasakan dan dinikmati, tidak untuk dihakimi oleh apapun.

Berbahagialah sebagaimana adanya dirimu, karena setiap momen adalah unik dan memiliki maknanya sendiri.

Jangan buang waktumu dengan menilainya berlebihan atau meng-eksplore-nya seperti sebuah file di hard disk mu,…santai dan nikmati.

Itu sepenuhnya milikmu…(^.~)/.

NB: Jangan takut kehilangan. Bersyukurlah, kau memilikinya.