Category Archives: happy foodie (^0^)

Sengsara Membawa Hikmah ( true story,…bukan review sinetron jadul) (^0^)/

Kantorku adalah perusahaan kecil yang berkembang dengan pesat kalo dibandingkan dengan efek global warming. Gedung kantornya adalah bekas rumah jadul yang masih berdiri kokoh muantab hingga sekarang, tahun lalu bagian depannya direnovasi dengan itikad ‘biar lebih fungsional dan enak dilihat’. Waktu di renovasi, departemenku yang hanya berisi tiga orang personil terpaksa hijrah ke ‘ruangan belakang’ alias gudang. Terpaksa kami harus berdesakan dengan personil staff gudang lantaran ‘kamar’ tempat kami bekerja diserbu debu dan bungkahan pecahan bata, semen yang kemungkinan besar umurnya lebih tua dari kami semua.

Sewaktu menghuni ‘kantor sementara’ kami di pojok belakang bangunan yang kelihatan mengenaskan, lembab, muram dan sering terdengar bunyi-bunyian aneh itu, kami mulai mendaftar hal yang kami benci dari tempat kami bekerja. Hasilnya ternyata hampir sama semua, bahkan tetangga baru kami (staff gudang yang terpaksa hijrah juga itu) juga merasakan ‘idem’ yang kuat. Ramai-ramai kami merayu kepala departemen agar protes ke bos kami agar kantor kami dipindahkan sementara ke tempat yang lebih layak, karena sebagian rekan kerja kami sudah dipindah dulu ke gedung lain sebulan sebelum renovasi.

Hasilnya adalah ‘Iya’ yang tidak tegas dan ‘tunggu tanggal mainnya’ yang makin lama makin tak masuk akal. Kami benar-benar merasa diiming-imingi saja dan jatuh sakit bergantian. Masker pun jadi masuk dalam daftar peralatan kantor yang harus kami beli setiap minggu. Puncaknya adalah saat melihat rekan seruangan asmanya kambuh dan tak punya pilihan selain berjongkok di depan kipas angin yang nyaris tiada guna untuk mengatasi kepengapan ruangan tempat kami bekerja. Melihat warna muka dan bunyi nafasnya saat itu (yang bersahut-sahutan dengan suara renovasi gedung), perasaan kami mungkin hampir sama dengan perasaan korban bencana alam di pengungsian…fiuh! Untunglah teman kami kemudian pulih setelah minum obat anti alergi (asmanya dipicu oleh alergi debu). Bahkan setelah itu, kami tetap tidak dipindah ke tempat yang lebih layak! ckckckckckck, hiks. (T_T)/
Tapi masa-masa kami berdesakan di ruang kerja yang tidak layak itu bukannya tidak ada hikmahnya. Berikut ini adalah hal baik yang kami dapatkan dari masa menyelami neraka kantor saat itu;
1. Hubungan antar personel jadi lebih dekat lantaran ruangan 4×5 mtr dibagi untuk 4-5 orang, mau tidak mau kami berkomunikasi dari hati ke hati maupun dari senggol menyenggol (untungnya kami semua satu gender, jadi tidak ada yang protes dilecehkan)
2. Kami jadi sering saling transfer lauk pauk dan setiap hari makan siang bersama berdesakan di meja yang paling kecil. Bukannya kami menyiksa diri, tapi itu bermula dari dua orang dari kami saling mendekat saat sama-sama terlambat makan siang, berlanjut jadi semua ikutan. Tak pernah ada yang memusingkan kenapa kami bertahan di meja yang justru paling sempit itu. Kebiasaan makan semeja dan saling berbagi atau tukar menukar dan memajak lauk itu tetep kami pertahankan bahkan saat ruangan kantor baru kami sudah jadi dan sehari-harinya kami pisah ruang lantaran beda departemen (…dan sampai hari ini masih tetap berjalan (^0^)/ )
3. Menjadi dekat karena menanggung derita bersama itu menciptakan semacam ‘ikatan khusus’ di antara kami, latar belakang kami beda-beda, kerjaannya juga beda, bahkan tempat tinggal juga saling berjauhan, kalau mau dilihat dari skala umur juga tidak ada yang sepantaran, tapi kami semua nyambung, dan tanpa sengaja, jadi terasa ada ‘keluarga’ kedua di kantor kami yang menjengkelkan ini. Kami selalu ingat satu sama lain saat jauh dan ingat membawakan sesuatu untuk dibagi dan dinikmati bersama. Kami bahkan punya brankas camilan yang kami isi bergantian untuk dinikmati sambil bekerja ataupun sambil ngobrol di istirahat makan siang

Begitulah, gedung kantor kami pun berubah bentuk (sebagian). Kebiasaan kami pun ikutan berubah. Kami tetap tidak suka pengalaman tersiksa di ruangan pengap yang suram dan terpaksa menghirup debu setiap hari. Namun walau tidak pernah mengakuinya terang-terangan, kami senang dengan kebiasaan berbagi yang tetap kami jalankan setelah kami tak lagi tersiksa bersama \(^0^)/

Sebagaimana yang diajarkan dalam setiap agama, terdapat hikmah yang patut disyukuri di balik penderitaan yang kita jalani.

Thanks for reading (^.~)/

salah satu yang sering kami bagi

update info;

Sekarang kami bekerja di lantai dua sebuah gedung yang jauh lebih memadai, banyak fasilitas dibenahi dan segalanya terasa lebih membuat semangat bekerja (setidaknya pada diriku (>.<)/…)

Sirkulasi udara lebih terjamin dan kebersihan dijaga bersama secara sadar dan sukarela. Sungguh patut disyukuri \(^_^)/…semoga segalanya tetap lancar dan berkembang semakin baik. Amen.

lalu nasib gedung lama kami?…

ditinggalkan dan dipasrahkan pada mereka yang memang layak menempatinya

\(^_^)_

Itadakimasu: ‘syukurlah kau berkorban’…(^0^)…

Hari ini saya beruntung dapat kesempatan menonton sebuah film drama Jepang yang berjudul ‘Taste of Fish’.

Ceritanya sederhana, mengalir mulus tanpa plot yang berbelit-belit. Hebatnya, tidak membuat saya bosan, malah rasanya cukup sayang meninggalkan tempat duduk (^0^)/. Film itu begitu sarat dengan penggambaran emosi orang-orang yang berbagi hidup satu sama lain dan menjalin berbagai kisah dengan ‘sedapnya rasa ikan’. Kisahnya hangat, sehangat kuah sup miso yang mengepul saat siap disantap \(^.^)/. Jadi, lebih baik tidak saya beberkan di sini supaya kenikmatannya tak menguap sia-sia.

Satu hal yang paling tak terlupakan bagi saya dari film itu adalah filosofi di balik kata ‘itadakimasu’.

Kata-kata itu akrab sekali di telinga saya sejak bertahun-tahun lalu, ketika saya mulai keranjingan membaca komik jepang (Manga) yang merembetkan minat saya ke mana-mana sampai jadi ingin mengenal budaya jepang, kemudian belajar bahasanya (nihongo). Dari pengalaman itu, saya baru memahami kata-kata itu sebagai sekedar salam ataupun doa (super pendek) yang diucapkan sebelum makan. Bahkan ketika salah seorang teman menanyakan artinya, asal saja saya jawab: “kurang lebih itu artinya sama dengan selamat makan atau selamat menikmati”.

Haaaiiiiiiihhhhhh, syukurlah saya berkesempatan menebus kesalahan dengan menulis artikel ini./(~.~)/…

Adegannya hanya sebentar, saat sang tokoh utama disajikan sushi dari potongan ikan bonito (tuna) segar. Sang penyaji mengatakan;

“Apa kau tahu kenapa kita berkata ‘Itadakimasu’ saat makan? itu karena kita berterima kasih pada mereka (ikan) yang sudah berkorban untuk menyambung hidup kita. Sebenarnya itulah arti dari kata-kata itu, jadi jangan sia-siakan”.

Saya jadi terpana, hebat sekali makna dari kata-kata itu. Namun, jangankan kita yang tidak mengenal bahasa jepang, orang jepangnya sendiri sekalipun belum tentu menyadari apa sebenarnya makna dari kata-kata tersebut…(^0^). Sudah ‘penyakit’ bagi kebanyakan orang dari berbagai bangsa untuk melupakan sesuatu yang sudah terlalu biasa dan ada dalam keseharian. Padahal, banyak juga hal-hal kecil di sekitar kita yang mengajarkan kepada kita untuk menghargai sesuatu dalam hidup. Mungkin memang kita telah dimanjakan oleh keadaan sedemikian rupa, sehingga lupa menghargai pengorbanan yang dibutuhkan hingga kita bisa sampai ke posisi kita saat ini…\(^0^)/.

Life is good, honey…don’t ruin it just because you don’t like something that is too small compared to what the universe have done for us. \(^.^)/

Kue Ca Kwee dan dendam kesumat rakyat (^.^)/

Kulitnya garing keemasan gurih crispy kriuk kriuk,…

Bagian dalamnya berongga, mengepulkan uap hangat beraroma wijen- kacang yang menguar lembut menggelitik lidah.

Mau dimakan segigit demi segigit, boleh…masih panjang kok.

Mau dimakan sekaligus dengan gigitan besar,…juga boleh…asal mulutnya cukup (^.~).

Perkenalkan Ca Kwee.

Penganan satu ini lazim dimakan pagi-pagi dicampur aneka bubur asin maupun manis.Banyak juga orang yang suka memakannya langsung,enak juga dipertemukan dengan kopi atau teh hangat.

Dikenal dengan banyak nama, tapi mayoritas masyarakat nusantara mengenalnya dengan sebutan ‘ca kwee’, temannya roti goreng yang bentuknya pipih panjang dan cenderung berasa gurih.

Usut punya usut,makanan ini berasal dari negeri tirai bambu, yang lantas dibawa kemari cara pembuatannya oleh masyarakat keturunan Tionghoa yang akhirnya menjadikan Indonesia sebagai tanah airnya.

Ca kwee sukses diterima oleh lidah nusantara, sampai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang nyaris tak disadari keberadaannya, apa lagi asal usulnya (>.<)/.

Namun ca kwee punya sejarah, dan kisahnya tidak hanya berlumur minyak kacang dan wijen, ternyata juga ada dendam dalam inti adonannya. Padahal kalau ditangkap dari kesannya, apapun cirinya tak ada yang mencerminkan dendam kesumat… (^.^)/.

Ketertarikan saya terhadap kisah ca kwee bermula dari sebuah kejengkelan.

Saking jengkelnya  saya butuh sesuatu untuk dihajar (jangan tanya apa yang membuat saya jengkel, karena bukan itu yang penting dibahas ..(^.^)/…)

Tapi menghajar sesuatu bisa melukai orang lain dan parahnya, diri sendiri…(T.T).

Jadi, meniru beberapa orang sahabat….saya pilih sesuatu yang paling aman buat dihajar: makanan. Beruntungnya, hari itu saya juga dapat hantaran aneka gorengan dari seorang teman. ..(^0^)/.

Sambil mengunyah penuh semangat (plus dendam), saya tiba-tiba jadi ingin tahu…adakah makanan yang tercipta karena seseorang sedang merasa ‘mangkel’?

Maka bergabunglah kata makanan+dendam di kolom pencarian google pada monitor saya.

Tidak langsung ketemu sesuai harapan, lalu sambil menarik koyak cakwee yang terselip di mulut, iseng-iseng saya ketik kata cakwee, dan…

Inilah yang saya dapatkan,…(^0^)/ .

Siapa sangka, penganan sederhana yang sedang saya aniaya itu berawal dari sebuah tragedi sejarah mengenai Yue Fei,  seorang jenderal legendaris dari dinasti Song di Cina yang terkenal dengan kesetiaan kepada negara dan raja nya.

Musoleum of Yue Fei

cr.photo: Harsono Ng (RABU, 27 JULI 2011 Kolom Kita)

Inilah sekilas cerita mengenai Yue Fei (1103-1141), yang berujung ke ca kwee nantinya (^.~)/.

Yue Fei berasal dari Tangyin di Xiangzhou yang sekarang adalah propinsi Henan. Dia adalah jenderal dari Dinasti Song yang berhasil menghalau  tentara dari suku Jin dari sebelah utara setelah armada pasukan Song berulang kali dikalahkan oleh tentara-tentara Jin tersebut.

Pada waktu lahir, orang tuanya melihat seekor burung yang sedang terbang sehingga dia diberi nama Fei (artinya: terbang). Sewaktu Yue Fei berumur 3 tahun, desa Yunhe, tempat dia dilahirkan mengalami banjir besar. Untuk menolong Yue Fei dan ibunya, sang ayah memasukkan mereka berdua di tempayan besar sambil dipegang, ketika tidak kuat lagi, tempayan itu terlepas dan ia langsung hilang dalam terjangan arus air yang kuat. Sejak itu Yue Fei tidak pernah bertemu ayahnya lagi.

Demi meneruskan hidupnya ibu Yue Fei menenun kain, sementara Yue Fei yang rajin dan cerdas mesti belajar menulis dengan ranting kayu diatas pasir untuk membantu penghematan.

Yue Fei akhirnya diangkat oleh seorang bekas jenderal yang bernama Zhou Dong yang mengajarkan semua ilmunya kepada Yue Fei.

Yue Fei kemudian bergabung dengan tentara. Agar selalu ingat akan moral yang diajarkan, sebelum berangkat ibunya mentato empat huruf di punggungnya dengan kata-kata : Jing Zhong Bao Guo yang artinya setia mengabdi pada negara.

Singkat cerita, Yue Fei yang pandai berhasil memenangkan banyak pertempuran dan mengambil kembali daerah-daerah yang dulu direbut oleh musuh. Melihat kondisi itu perdana menteri yang menerima suap dari musuh khawatir kalau Yue Fei menang terus, rahasia persekongkolannya dengan musuh akan terbongkar. Oleh karena itu, dengan dalih Yue Fei akan merebut tahta dan mengembalikannya kepada kedua kakak kandung raja yang masih ditawan musuh, Qin Kuai, si perdana menteri yang berkhianat, menghasut raja Gao sehingga Yue Fei dipanggil pulang justru di saat ia hampir berhasil merebut kembali ibukota lama kerajaan Song.

Dengan tuduhan berencana memberontak, akhirnya Yue Fei ditangkap, kemudian dibunuh. (T.T)…

Makamnya dalam potret dibawah ini beserta seluruh kompleknya telah diperbaiki beberapa kali sejak dinasti Ming.

Puluhan tahun setelah kematiannya, kasus Yue Fei dibuka kembali oleh raja lain dan sejarah diluruskan kembali. Memang ini juga bisa berupa propaganda pemerintah yang baru berkuasa saat itu untuk mengambil hati rakyat, tapi paling tidak…namanya dibersihkan.

Namun selama beberapa tahun sebelum jatuhnya dinasti Song, dan beberapa puluh tahun sejak Ming baru berdiri, nama Yue Fei berkubang dalam tuduhan yang dilontarkan oleh Qin Kuai padanya.

Selama masa itulah, untuk menyalurkan kemarahannya rakyat membuat patung manusia dari tepung yang diperlakukan se-olah-olah adalah Qin Kuai dan istrinya, adonan itu dipukul-pukul, dibanting-banting, ditarik-tarik, kemudian dibelah dua ditengah dan di goreng sebagai simbol kebencian rakyat terhadap kisah pengkhianatan itu. Mereka namakan benda itu Yu Zha Qin Kuai ( Yu zha artinya goreng dengan minyak), kemudian disingkat menjadi Yu Zha Kwe, sekarang dikenal sebagai Cakue. Saat ini di China sendiri entah kenapa tidak lagi disebut demikian, orang-orang di sana menamai makanan itu yutiao (semacam gorengan panjang).

Dimakam Yue Fei kemudian dibuatkan empat buah patung yaitu Qin Kuai dengan istrinya dan kedua pembantu Qin Kuai yang terlibat di dalam pengkhianatan tersebut.

Inilah patung-patung yang dulu ‘disediakan’ untuk diludahi oleh setiap orang yang lewat, tapi sekarang harusnya tidak lagi karena ada tulisan : “Dilarang meludah”  disamping patung itu…(^0^)…

Lagian kasihan petugas kebersihannya kan, ga ikutan bikin dosa harus ikutan ngepel (T.T).

Kisah Yue Fei Credit to:Harsono Ng. RABU, 27 JULI 2011 Kolom Kita

Jadi selama ini kita-kita yang makan cakue tanpa sadar sebenarnya ikut mengutuk Qin Kuai. (Kalaupun kita tak ikutan membanting, menarik-narik, memotong-motong dan menggorengnya, bagian kita yang paling minimal setidaknya adalah mengunyah mereka dengan baik…(^0^)…)

Namun berkat tindakan sumpah serapah turun temurun ini juga, kita bisa menikmati Cakue yang menyebar hampir di semua tempat yang ada komunitas masyarakat asia-nya.

Sejarah akan mecatat kebaikan-kebaikan dan kejelekan-kejelekan pemimpin-pemimpin. Bahkan jika pihak yang berkuasa merubah catatan itu, ada waktunya sesuatu yang baik akan dikenali dan dikenang oleh banyak orang, sementara hal yang buruk selalu diingat, dikutuk, kalaupun cukup beruntung: terlupakan.

Jadi, sebisa mungkin marilah kita jangan membuat orang lain kelewat jengkel. Apalagi jika orang lain itu jumlahnya banyak bukan main (contoh: rakyat). Kalau sudah kelewat dikenang akan keburukannya, sudah mati sekalipun masih diludahi dan kesalahannya diceritakan berulang kali. Memang sih bisa saja kita berpikir kalau orang mati tidak akan merasakan itu semua, namun yang pasti…kita tak pernah tahu, apa dan berapa yang harus kita bayar jika kita membuat kesalahan yang tidak dimaafkan.

….\(^.^)/…

Makanan, Kesehatan, dan Kemanjaan (^.^)

Beberapa hari yang lalu, saya beruntung mendapatkan pengalaman menarik.

Makanya, daripada mubazir,…lebih baik saya bagi dengan para pembaca yang berharga…(^.^)…

Ini masih berhubungan dengan tulisan saya sebelumnya, tentang makanan.

(https://writtenthou.wordpress.com/2011/05/07/food-for-life-and-life-for-food/)

Begini ceritanya;

Sewaktu sedang menemani rekan sekantor saya beli makan di warung …kami pun dapat ‘bonus’ cerita curhat yang lumayan ‘mak nyuz’.

Gara-garanya, waktu beli rawon, rekan saya itu minta supaya rawonnya tidak diberi gajih (lemak).

Kontan Ibu pemilik warung menjawab,

 “Saya tau kok, kalo anak muda ndak mau gajih, yang suka gajih itu orang tua-tua. Kalo anak muda, dari lima puluh – satu yang mau gajih”

(“Saya tahu kok, kalau anak muda tidak mau lemak, yang suka lemak itu orang tua-tua. Kalau anak muda, dari lima puluh orang cuma satu yang mau lemak”.)

Sambil bicara begitu Ibu itu mengaduk-aduk panci rawon untuk ‘berburu’ potongan-potongan daging tak berlemak demi rekan saya…(^.^).

Rekan saya terus memandang ke arah sendok pengaduk , mengawasi kalau-kalau ada lemak yang terciduk.

Seolah menyadari pandangan mata rekan saya dari balik punggungnya, Ibu itu berkata,

“tenang, yang ini bukan gajih kok, kalo yang kuning-kuning kemampul-mampul itu baru gajih”

(tenang, yang ini bukan lemak kok. Kalau yang kuning-kuning terapung-apung itu baru lemak).

Rekan saya pun jadi lebih tenang…(^.^).

Saya pun merasa senang karena mendengar kalau pelanggan warung (yang masih muda-muda) itu tak menyukai lemak berlebih dalam makanan mereka.

‘Wow! Mereka sadar hidup sehat rupanya’…(^.^)

Ibu warung pun melanjutkan berbicara,

“Ada yang lebih lucu lagi, pernah ada yang beli sayur bening, tapi mintak nggak pake tangkainya. Yah saya bilang – nanduro dewe mbak”

(“Ada yang lebih lucu lagi, pernah ada yang membeli sayur bening*, tapi minta tidak pakai tangkainya. Yah saya bilang – tanam saja sendiri mbak”).

Jdoenk! (>.<)…

Saya dan rekan saya langsung berpandang-pandangan, lalu tertawa.

Kalau bagi saya, yang bikin geli adalah;

  1. Jawaban spontan Ibu pemilik warung pada pelanggan yang permintaannya lumayan ‘menjengkelkan’ itu (bayangkan saja harus memunguti satu per satu tangkai yang dipotong kecil-kecil dari dalam kuah sayuran yang tersimpul-simpul itu, bahkan orang yang dibayar dengan ongkos servis sekalipun bakal malas melakukannya)…/(^0^)\).
  2. Bayangan saya soal pelanggan yang memilih-milih makanan demi kesehatan itu langsung buyar seketika (T.T). Perasaan itu mirip seperti melihat dewi yunani yang berwujud aduhai langsung berubah menjadi anjing neraka berkepala tiga…(>.<).

Saya pun jadi berpikir ulang, ternyata…kebiasaan seseorang untuk pilih-pilih makanan, belum tentu artinya baik …dan belum tentu buruk juga (^.^).

Dulu, saya cenderung protes kalau ada orang yang mengutamakan kesehatan dan kebersihan malah dibilang ‘pilih-pilih makanan’.

Bagaimanapun, menurut saya…memilih makanan yang  hendak dimakan adalah hak setiap pribadi,…karena seharusnya kita-lah yang paling tahu apa yang terbaik bagi kita kan?

(atau setidaknya meyakini kalau kita mengetahuinya (~.~)…)

Gara-gara pengalaman yang sepele tapi berharga itu, saya jadi berkaca…(@.@)

Sebenarnya, orang jadi ‘pilih-pilih makanan’ itu demi kesehatan, ataukah…jauh di dalam benak bawah sadar, kita hanya mencoba menghindari sesuatu yang tidak kita sukai?

Sejarah peradaban mencatat, ‘berbagi makanan’ telah menjadi sesuatu yang selalu ada dalam kehidupan kita sebagai makhluk sosial.

Apakah karena hal  itu selalu ada, hingga kita lupa bahwa kegiatan ‘makan’ itu sendiri melibatkan banyak proses, banyak manusia, dan karena itu,…berbagai perasaan?

Pernahkah, orang lain memikirkan apa alasan kita memilih-milih makanan yang hendak kita makan?

Pernahkah, kita memikirkan bagaimana yang dirasakan orang lain saat kita memilih-milih makanan?

Sebagai manusia, terbukti sudah kalau sebagian besar dari kita tidak bisa menjalani hidup ini hanya berdasarkan apa yang kita suka dan tidak.

Tidak juga berdasarkan apa yang kita inginkan dan tidak.

Kita selalu dan selalu harus menyesuaikan diri dengan kemauan orang lain, ataupun lingkungan.

Meski ada kalanya, kita lelah dan ingin memenuhi keinginan pribadi kita juga.

Karena itulah, kadang ada kalanya kita berpikir “Kalau tidak bisa dalam hal-hal besar, ‘hal-hal kecil’ seperti makanan yang hendak kita makan sekalipun, bolehlah…“(^.~)/.

(^.^)…yang  namanya menuruti keinginan itu selalu terasa nikmat,…sampai kita mulai peduli dengan sekeliling kita (>.<).

Lama-lama kita jadi menyadari…’semakin kita bersikeras menjadikan sesuatu sesuai apa yang kita inginkan, semakin sakit saat hal itu tidak berhasil’.

Ketika kita mulai mengganyang segala sesuatu yang menjadi kesukaan kita, sudahkah kita berpikir akan jadi apa kita nantinya?

Saya jadi teringat dengan sebuah kalimat yang diajarkan oleh guru olahraga dan kesehatan saya sewaktu sekolah dasar ;

“Makanan kita mencerminkan diri kita, karena kita juga terbentuk dari apa yang kita makan.”

Makan apapun itu adalah hak kita. Jika kita mampu memdapatkannya…(^.~)

Namun ingatlah, walau tidak kasat mata – ada banyak orang terlibat dalam setiap suapan yang masuk ke mulut kita.

Maka hargailah makanan apapun yang bisa kaunikmati mulai sekarang, karena itu merupakan penghargaan terhadap orang lain,…terutama penghargaan terhadap dirimu sendiri…(^0^).

 NB*: Sayur bening adalah sejenis ‘jangan’ atau masakan berkuah yang dibuat dari sayur bayam dan kadang diberi campuran labu air. Masyarakat daerah kampung halaman saya menyebutnya ‘jangan kunci’  – bukan karena makanan itu dimasak dengan kunci, tapi  karena salah satu bumbu yang harus ada adalah ‘akar temu kunci’-…dan yoaaa…umumnya tangkai sayurnya ikut dimasak…(^.~).

cr. foto from; whatangelatetoday.blogspot.com

Food For Live and Live for Food

Today, i suddenly realize something.

all my life, i always liked foods.

Why did i never wrote it once?…

Ckckckckckck…silly me, it’s like forgetting true love…(T.T)…

Well, since i don’t want to forget my true love…

let’s talk about it…\(^0^)/…

FOOD

one word, lots of shape, many taste, various prices…millions of meaning.

like it or not, everyone need it.

…especially when we want to live. (^.^).

so accustomed, we often forget after ate it.

also special, because most of us always think about it, everyday.

some people say; ‘eat to live’…

but some exercise ‘to live is to eat’

i go both ways, i think there is nothing wrong with both of them…(^0^)/.

whereas my childhood, i was afraid to be called as person ‘who lived to eat’.

…(T.T)…because it connoted with ‘greed’.

however, when i have nothing, starving and lonely,…a bowl of warm and tasty noodle soup might be enough for me to continue living,… at least a little more.

when i have everything, but still feel empty deep down in my heart…, the same bowl of noodle soup can be very comforting when i’m hungry. Moreover presented with a warm smile of others…(^0^)…

maybe we never knew why it can be like that, but…it’s not the most important thing isn’t it?

Satisfaction, soft feeling flows through your neck, a glimpse of happiness that you felt when you sip the savory and delicious gravy ….mmmhhh, that’s it.

that’s important. (^0^)/

Whatever the food is, will taste better when we are thankful.

When we are thankful…i guess it does not matter if refered as ‘people who live to eat’.

in fact, food is something that could bring happiness to one’s heart.

… and happiness is one of the most important goal in life, actually.

…\(^0^)/…

It’s up to other people want to say how.

If we like it, whatever the food is always delicious.

It is not necessary to think about it very hard,

…what important is; it is tasty and good for you…, then it is meaningful.

even a simple meal if we treat it well, will bring good things to us.

Can’t believe it?

Look in the mirror, you are one of the many things that is shaped by what you ate…(^0^).

can people still say that food are meaningless?

can people still say ‘people are not supposed to be living to eat?

it’s okay, after all that’s their right.

Then, can people decide to live for pursuing food satisfaction?

They can,…as long as they bring no harm (let alone eating other people)….(~.~)…!

Besides, every people are born free to pursue their own meaning of life. (^.^).

So enjoy every mouthful that you receive, and be thankful.

Bon Appetite!(^.^)!

savory and delicious

Food for Life and Life for Food

santouka awase ramen

Hari ini, aku tiba-tiba menyadari sesuatu.

Seumur hidupku, aku selalu suka dengan makanan.

Mengapa aku malah belum pernah menuliskannya sama sekali?…

Ckckckckckck…silly me, itu ibarat melupakan cinta sejati…(T.T)…

Well, karena aku tak ingin melupakan cinta sejatiku…

Mari kita bahas…\(^0^)/…

Makanan.

Satu kata, banyak rupa, banyak rasa, aneka harga,… berjuta makna.

Suka atau tidak suka, semua orang membutuhkannya,

…terutama kalau mau terus hidup, sih.(^.^).

Begitu biasa, sampai kita sering lupa setelah menyantapnya.

Sekaligus istimewa, karena sebagian besar dari kita selalu memikirkannya, setiap hari.

Beberapa orang mengatakan; ‘makanlah demi hidup’…

tapi ada juga yang menjalankan ‘ Hidup itu untuk makan’.

Aku mendukung keduanya, menurutku tak ada yang salah dengan keduanya…(^0^)/.

 

Padahal sewaktu masih kanak-kanak, aku takut disebut sebagai orang yang hidup untuk makan.

….(T.T)…karena konotasinya disamakan dengan ‘rakus’.

Namun, saat aku tak punya apa-apa, kelaparan dan kesepian,…semangkuk mi kuah yang hangat dan sedap mungkin sudah cukup bagiku untuk menyambung hidup,… Setidaknya sedikit lagi.

Ramen noodles alias mie kuah

Di saat aku punya segalanya, tapi tetap merasa kosong jauh di dalam hatiku…, semangkuk mi kuah yang sama bisa sangat melegakan di saat aku lapar. Apalagi kalau tersaji bersama senyuman hangat dari orang lain…(^0^)…

 

Mungkin kita tak pernah tahu mengapa bisa begitu, tapi…bukankah  itu bukan yang terpenting?

Kepuasan, kelegaan yang mengalir lewat lehermu, secercah kebahagiaan yang kaurasakan saat menyesap kaldunya yang gurih dan sedap….mmmhhh, itu dia.

Itu penting. (^0^)/.

Makanan apapun, akan terasa lebih enak saat kita mensyukurinya.

Jika kita mensyukurinya,…kurasa tidak masalah kalau disebut sebagai ‘orang yang hidup untuk makan.’

Kenyataannya, makanan memang sanggup membawa kebahagiaan bagi hati seseorang.

…dan kebahagiaan adalah salah satu tujuan hidup yang paling penting, sekaligus wajar.

 …\(^0^)/…

Terserah orang lain mau bilang bagaimana.

 Kalau kita menyukainya, makanan apapun selalu terasa lezat.

Tak perlulah berat-berat memikirkannya

….yang penting itu enak dan baik bagimu…, maka itu sudah bermakna.

mie vegan alias mie sayur mayur

Makanan yang sederhana sekalipun jika kita perlakukan dengan baik, akan membawa hal baik pada diri kita.

Tidak percaya?

Berkacalah, kau adalah satu dari sekian hal baik yang dibentuk dari apa yang kaumakan…(^0^).

Masihkah orang boleh berkata kalau makanan tak punya makna?

Masih bolehkah orang berkata ‘tak seharusnya orang hidup untuk makan?

Boleh lah, toh itu haknya juga.

Lalu, bolehkah orang memutuskan untuk hidup demi mengejar kepuasan makan?

Itu juga boleh, lah….asalkan tak sampai melukai apalagi makan orang lain….(~.~)…!

Toh, setiap orang bebas mengejar makna bagi hidupnya. (^.^).

Maka nikmatilah setiap suapan yang kau terima, dan bersyukurlah.

Bon Appetite!(^.^)!

mochi macha

 created by; Vonny Kartika Wiyani