Category Archives: Friendship thoughts

Omong (ga) Kosong soal Cinta

Suasana hatiku sedang setengah muram.
Mereka bilang, saat suasana hati resah, janganlah bicara.
Kuketik saja segala yang lewat di pikiran.
Kisah cinta.
Dan…
Bull shit.
Sama-sama terdiri dari dua kata.
Sama-sama tak semua orang suka melihatnya.
Walau sebenarnya sama-sama banyak gunanya.

Omong kosong dan kisah cinta, keduanya berada di awang-awang benak.
Memberi sentuhan bumbu dalam kehidupan.
Tapi karena pakai kata yang beda.
Perlakuannya jadi beda.
Kalau ada yang menyamakan bakal diprotes orang sedunia.
Syukur kalau ada yang mikir duluan sebelum mencerca.

Kisah cinta ada di mana-mana.
Dari ujung parkiran mall hingga pojokan taman perumahan.
Dari yang terlarang sampai yang dielu-elukan.
Dari yang bikin risih sampai bikin terpesona.
Dari yang tulus sampai yang komersial.
Dari yang suci sampai yang maksiat.
Silakan dipuja, silakan dicerca.
Hak mereka semua untuk bercinta.
Hak kalian juga untuk melihat sembari merana.
Semoga masih ingat kewajiban juga untuk tetap saling jaga rasa.

Omong kosong juga ada di mana-mana.
Dari rumah tangga sampai Istana Negara.
Dari yang ilegal sampai yang dilindungi oleh peraturan.
Dari yang dipercaya sampai yang dinista.
Dari yang demi kebaikan pribadi hingga kebaikan bersama.
Dari yang memang perlu hingga sekadar kebiasaan.
Silakan didengar silakan kalau mau dilupakan.
Hak mereka semua untuk bicara.
Hak kalian juga untuk memilih percaya.
Semoga masih ingat rasanya kecewa, biar bisa belajar apa saja yang ternyata berharga.

Things We Can Learn from a Dog

Today, I almost fainted in a toilet of a restaurant due to fatigue. (~.~)”

Since it was in an individual female toilet room, and I didn’t even had enough energy to scream for help…(though actually I didn’t plan to do it, my dignity shout at me first before I scream for help in that kind of condition, I know it’s bad…it’s me (~_~)”…)
I decided to squat for a while, trying to regain my strength and focus.
After several minutes, in an awkward pose, suddenly my eyes spoted a picture.
An old picture of a fine golden retriever in a frame, covered with spots of mold, hanged on the wall beside me.
Beside the dog, there are words written beautifully;

Things We Can Learn from a Dog

1. When loves one come, always run to greet them
2. Run, romp, and play daily
3. Be loyal
4. Never pretend to be something you are not
5. If what you want lies buried, dig until you find it
6. When someone is having a bad day, be silent, sit close, and nuzzle them gently
7. Delight in the simple joy of a long walk
8. Avoid biting when a simple growl will do
9. No matter how often you are critized, don’t buy into the guilt thing and pout
10. Run right back and make friends

I wrote only 10 things, maybe you could find more (^0^)/
After read those words, I feel grateful.
It’s not my choice to be almost fainted in a place such like that. But those words successfully carved a smile on my face.
That picture maybe old, covered in mold and forgotten, yet it bring a good impact to my feeling.
Therefore, I share it \(^.^)/

These things are real, base on my own experience;
I do have some dogs, each of my dogs have different personality, but all the things I’ve mention above, are general traits. It could be mean I’m lucky having such a wonderful dog(s) in my life, since i know some people who doesn’t appreciate them as I do. Well…every human being is unique, they have their own reason.

My beloved dog _(^.^)/

Sengsara Membawa Hikmah ( true story,…bukan review sinetron jadul) (^0^)/

Kantorku adalah perusahaan kecil yang berkembang dengan pesat kalo dibandingkan dengan efek global warming. Gedung kantornya adalah bekas rumah jadul yang masih berdiri kokoh muantab hingga sekarang, tahun lalu bagian depannya direnovasi dengan itikad ‘biar lebih fungsional dan enak dilihat’. Waktu di renovasi, departemenku yang hanya berisi tiga orang personil terpaksa hijrah ke ‘ruangan belakang’ alias gudang. Terpaksa kami harus berdesakan dengan personil staff gudang lantaran ‘kamar’ tempat kami bekerja diserbu debu dan bungkahan pecahan bata, semen yang kemungkinan besar umurnya lebih tua dari kami semua.

Sewaktu menghuni ‘kantor sementara’ kami di pojok belakang bangunan yang kelihatan mengenaskan, lembab, muram dan sering terdengar bunyi-bunyian aneh itu, kami mulai mendaftar hal yang kami benci dari tempat kami bekerja. Hasilnya ternyata hampir sama semua, bahkan tetangga baru kami (staff gudang yang terpaksa hijrah juga itu) juga merasakan ‘idem’ yang kuat. Ramai-ramai kami merayu kepala departemen agar protes ke bos kami agar kantor kami dipindahkan sementara ke tempat yang lebih layak, karena sebagian rekan kerja kami sudah dipindah dulu ke gedung lain sebulan sebelum renovasi.

Hasilnya adalah ‘Iya’ yang tidak tegas dan ‘tunggu tanggal mainnya’ yang makin lama makin tak masuk akal. Kami benar-benar merasa diiming-imingi saja dan jatuh sakit bergantian. Masker pun jadi masuk dalam daftar peralatan kantor yang harus kami beli setiap minggu. Puncaknya adalah saat melihat rekan seruangan asmanya kambuh dan tak punya pilihan selain berjongkok di depan kipas angin yang nyaris tiada guna untuk mengatasi kepengapan ruangan tempat kami bekerja. Melihat warna muka dan bunyi nafasnya saat itu (yang bersahut-sahutan dengan suara renovasi gedung), perasaan kami mungkin hampir sama dengan perasaan korban bencana alam di pengungsian…fiuh! Untunglah teman kami kemudian pulih setelah minum obat anti alergi (asmanya dipicu oleh alergi debu). Bahkan setelah itu, kami tetap tidak dipindah ke tempat yang lebih layak! ckckckckckck, hiks. (T_T)/
Tapi masa-masa kami berdesakan di ruang kerja yang tidak layak itu bukannya tidak ada hikmahnya. Berikut ini adalah hal baik yang kami dapatkan dari masa menyelami neraka kantor saat itu;
1. Hubungan antar personel jadi lebih dekat lantaran ruangan 4×5 mtr dibagi untuk 4-5 orang, mau tidak mau kami berkomunikasi dari hati ke hati maupun dari senggol menyenggol (untungnya kami semua satu gender, jadi tidak ada yang protes dilecehkan)
2. Kami jadi sering saling transfer lauk pauk dan setiap hari makan siang bersama berdesakan di meja yang paling kecil. Bukannya kami menyiksa diri, tapi itu bermula dari dua orang dari kami saling mendekat saat sama-sama terlambat makan siang, berlanjut jadi semua ikutan. Tak pernah ada yang memusingkan kenapa kami bertahan di meja yang justru paling sempit itu. Kebiasaan makan semeja dan saling berbagi atau tukar menukar dan memajak lauk itu tetep kami pertahankan bahkan saat ruangan kantor baru kami sudah jadi dan sehari-harinya kami pisah ruang lantaran beda departemen (…dan sampai hari ini masih tetap berjalan (^0^)/ )
3. Menjadi dekat karena menanggung derita bersama itu menciptakan semacam ‘ikatan khusus’ di antara kami, latar belakang kami beda-beda, kerjaannya juga beda, bahkan tempat tinggal juga saling berjauhan, kalau mau dilihat dari skala umur juga tidak ada yang sepantaran, tapi kami semua nyambung, dan tanpa sengaja, jadi terasa ada ‘keluarga’ kedua di kantor kami yang menjengkelkan ini. Kami selalu ingat satu sama lain saat jauh dan ingat membawakan sesuatu untuk dibagi dan dinikmati bersama. Kami bahkan punya brankas camilan yang kami isi bergantian untuk dinikmati sambil bekerja ataupun sambil ngobrol di istirahat makan siang

Begitulah, gedung kantor kami pun berubah bentuk (sebagian). Kebiasaan kami pun ikutan berubah. Kami tetap tidak suka pengalaman tersiksa di ruangan pengap yang suram dan terpaksa menghirup debu setiap hari. Namun walau tidak pernah mengakuinya terang-terangan, kami senang dengan kebiasaan berbagi yang tetap kami jalankan setelah kami tak lagi tersiksa bersama \(^0^)/

Sebagaimana yang diajarkan dalam setiap agama, terdapat hikmah yang patut disyukuri di balik penderitaan yang kita jalani.

Thanks for reading (^.~)/

salah satu yang sering kami bagi

update info;

Sekarang kami bekerja di lantai dua sebuah gedung yang jauh lebih memadai, banyak fasilitas dibenahi dan segalanya terasa lebih membuat semangat bekerja (setidaknya pada diriku (>.<)/…)

Sirkulasi udara lebih terjamin dan kebersihan dijaga bersama secara sadar dan sukarela. Sungguh patut disyukuri \(^_^)/…semoga segalanya tetap lancar dan berkembang semakin baik. Amen.

lalu nasib gedung lama kami?…

ditinggalkan dan dipasrahkan pada mereka yang memang layak menempatinya

\(^_^)_

Jealousy

Cemburu.

Adalah hal yang baru bagiku.

Sebelumnya, aku tak pernah merasa ingin memiliki sesuatu seutuhnya hanya untuk diriku sendiri.

Biasanya aku adalah orang yang dengan senang hati berbagi.

Namun tidak kali ini.

Aku tidak rela berbagi senyum itu dengan orang lain.

Aku tidak rela berbagi suara lembut itu dengan siapapun.

Aku bahkan tidak rela air matanya dilihat oleh orang lain.

Dia harus jadi milikku saja, atau tidak sama sekali.

Orang bilang itu posesif.

Ada yang bilang ini cinta.

Dia bilang aku tak punya rasa percaya.

Bagiku ini menyakitkan.

Aku tak yakin ini bakal berakhir baik.

Aku tak yakin ini bakal ada akhirnya.

Aku juga tak tahu apa penyebabnya.

Dia tidak kelihatan begitu istimewa.

Aku juga tidak tergila-gila kepadanya.

Tapi kenapa aku jadi begini?

Apa aku egois?

Aku tak ingin berbagi perhatiannya dengan siapapun.

Aku tak ingin berbagi waktunya dengan siapapun.

Aku tak ingin berbagi dirinya dengan siapapun.

Tapi aku tak ingin kebebasanku hilang.

Katakan padaku,

Apa aku tidak dewasa?

Apa keinginanku tak sehat?

Kupikir juga begitu.

Tapi susah sekali mengendalikan keinginan itu  begitu memilikinya.

Keinginan itu bagaikan setan rupawan yang menari-nari di pangkuanku.

Menahan kedua tanganku untuk tak merengkuh pinggangnya sungguh terasa melelahkan.

Saat ini aku bertahan dengan akal sehatku untuk tidak menuruti keinginan itu.

Namun aku tak tahu, seberapa kuat aku bisa menahan.

Merpati yang dipegang terlalu rapat akan mati karena sayapnya remuk.

Cinta yang digenggam terlalu kuat akan berubah menjadi penjara yang menyesakkan.

Jika kita memutuskan mengambil resiko dan tetap melakukannya, apa kita siap menanggungnya saat tak tersisa apapun lagi untuk satu sama lain?

Bagaimanapun harapan kita, tiada yang abadi di dunia ini.

Apakah kita sudah siap, bila segala hasrat hilang, dan perasaan memudar?

Satu hal yang pasti,

kita selalu punya pilihan untuk sekedar menjalani dan menikmatinya…(^0^)/

Cemburu.

Daripada mengatakannya sebagai hal yang wajar, aku lebih bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang tak bisa kita hindari.

Bagian dari kualitas manusiawi kita yang tak pernah benar-benar bisa lepas dari masa kanak-kanak.

Setiap dari kita memiliki kelemahan di dalam diri.

Cinta mempengaruhi kita begitu kuat, sehingga saat itu diuji, sisi lemah diri kita yang tersembunyi jauh di dalam meraung keluar, melakukan perlawanan.

Layaknya anak kecil yang tak sudi berbagi kesenangannya.

Sekuat itulah cinta mempengaruhi kita, membuat orang dewasa kembali menjadi anak kecil.

Begitu rapuh dan tak tahu apa yang tepat untuk dilakukan, namun begitu bersikeras mempertahankan apa yang disukai.

Lawan manusia dalam hidup bukan hanya orang lain, lawan terhebat justru berasal dari dalam diri masing-masing. 

Menurutku, itu bisa disyukuri.\(^0^)/

Karena pengalaman seperti itulah yang menempa hati kita untuk menjadi lebih kuat.

Our Finest Moment \(^.^)/

Pernahkah kau merindukan masa-masa yang telah lalu?

atau terkenang teman-teman lama yang hilang entah kemana?

Ingat akan pengalaman terbaik dalam hidup,…
ataupun yang terburuk seumur hidup (X_X).

Seperti apapun masa lalumu, itu takkan pernah terulang sama persis kembali untuk kedua kalinya,…
itulah sebabnya, masa-masa itu begitu berharga (^0^)/.

Selagi kau menjalani masa kini, syukuri dan nikmatilah.
Takkan ada lagi momen yang sama \(^.~)/

 

Never Forget the Way You Make Me Feels

“I’ve learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.”
-Maya Angelou- quotes (American Poet, b.1928)

“Aku belajar bahwa orang-orang bisa saja melupakan perkataanmu, perbuatanmu, tetapi mereka takkan pernah lupa bagaimana perasaan yang kau timbulkan”

oleh Maya Angelou, Pujangga Amerika (lahir 1928)

Memang benar kan?
Itulah kenapa, kesan pertama bisa begitu menggoda, sekaligus bisa begitu mengerikan (^0~)/.
Namun yang penting bukan hanya sekedar kesan pertama, tetapi bagaimana kau membuat kesan bagi orang-orang di sekelilingmu..
Karena perasaan yang kautimbulkan menentukan bagaimana perlakuan mereka padamu juga.
 
Ini mungkin terdengar sepele, tetapi kenyataannya kita selalu memiliki harapan pribadi saat hendak bertemu dengan orang lain.
Kita tidak tahu harapan setiap orang, (boro-boro setiap orang, harapan kita sendiri saja kadang tidak kita kenali dengan jelas (@_@)/…)
Maka demi keamanan kita semua, paling tidak kita harus menyuguhkan ‘perasaan yang baik’, bagaimanapun ‘perasaan baik’ yang timbul jauh lebih nyaman daripada ‘kesan buruk’ apapun.
 

peace (^0^)v 

Lessons about Happiness \(^0^)/

Have you ever felt that some unforgettable scene in your life was your happiest moment?

If you do, congratulation.

But…

I feel sorry for you. (T.T)

Because,

Once a person choose a moment or anything to be the ‘happiest ‘, whoever it is will compare that very moment to something they like the most after that, or hate most after that, or less like after that etc.

The point is, they started to compare a unique experience and precious moment to another.

It will only bring less appreciation to the ‘moment’ that actually have it’s own meaning.

Hence, it will be harder to conceive another precious and happy moments.

So, why bother to spoiled every (actually unique) moment with your burden of thoughts?

Let it be.

Don’t analyze, it will paralyzed you at some point.

I think, and feel, that every happy moment should be enjoyed the way it is.

It doesn’t matter whether it will end up as your happiest or worst experience.

It doesn’t  matter whether it will end at all.

…and it doesn’t really matter from who or where or when you get that exact moment.

In fact, you can get it in the worst time or worst place or even worst people you could ever imagine, yet  it would be still precious and unique to be remember…(^0^)/.

Happy moments are there to be enjoyed and feel, not to be judge by nothing.

Be happy the way you are, because every moments are unique and have it’s own meaning already.

Don’t waste your time by judging it more or explore it like a some sort of file in your hard disk,…relax and enjoy.

It’s yours truly…(^.~)/.

P.S: Don’t be scared to lost it. Be thankful, you have it.

 

Translation in Bahasa Indonesia:

Apa kau pernah ‘menobatkan’ suatu kejadian dalam hidupmu sebagai momen yang paling membahagiakan?

Kalau pernah, selamat ! \(^0^)/

Tapi…

Aku  prihatin atas dirimu.(T.T)

Karena,…

saat  seseorang memilih sebuah momen sebagai ‘yang paling bahagia‘, siapapun dia bakalan membandingkan momen itu dengan momen selanjutnya yang paling mereka sukai, atau paling benci, dst.

Intinya, mereka mulai saling membandingkan berbagai pengalaman yang sebenarnya unik dan sama-sama berharga.

Lalu, jadi lebih susah menikmati berbagai momen-momen lain.

Jadi, kenapa mesti menyia-nyiakan setiap momen (yang sebenarnya unik loh,…coba pikir: mana ada yang persis sama satu sama lain?) dengan aneka beban di pikiranmu?

Biarkan saja seadanya.

Jangan terlalu menganalisa, itu akan melumpuhkanmu pada suatu titik.

Kupikir, dan kurasa, setiap momen bahagia harus bisa dinikmati sebagai mana adanya.

Tak masalah itu bakal berakhir menjadi pengalamanmu yang terbuaaikkk ataupun terrrburuk.

Malahan sama sekali tak masalah itu bakalan berakhir atau tidak…juga tidak penting dari mana, siapa, atau kapan tepatnya kau mendapatkan momen tersebut.

Faktanya, kau bisa saja mendapatkannya pada waktu paling buruk, di tempat terburuk,  bahkan dari orang-orang paling parah yang bisa kaubayangkan, namun tetap saja itu akan berharga dan unik untuk diingat…(^0^)/.

Momen bahagia ada untuk dirasakan dan dinikmati, tidak untuk dihakimi oleh apapun.

Berbahagialah sebagaimana adanya dirimu, karena setiap momen adalah unik dan memiliki maknanya sendiri.

Jangan buang waktumu dengan menilainya berlebihan atau meng-eksplore-nya seperti sebuah file di hard disk mu,…santai dan nikmati.

Itu sepenuhnya milikmu…(^.~)/.

NB: Jangan takut kehilangan. Bersyukurlah, kau memilikinya.

Spark Within

Sometimes, in life you make some wrong decision.

Sometimes, you choose a wrong path.

Sometimes, you miss the best chance.

Sometimes, you lost your precious one.

Sometimes, you don’t even want to go on living.

yet…

one time for sure, all of us will reach the end of everything.

therefor…

when you still have time, don’t waste it with regrets!

Show them what you really are, make them go; WOwh Oh Oh…

as you shoot across your sky…

cause everyone have a ‘spark’ in them, including you. (^0^)/

cr. Katy Perry’s song; Firework

by Vonny Kartika Wiyani on Thursday, March 31, 2011 at 9:46pm

FRIENDSHIP 8; Never Forget

A true friend is someone who’s there for you

when they would rather be someplace else…

 

A friend is a person who forgot your address

and still can find you…

 

A friend is a person who isn’t sure where you are,

yet eagerly come to see you…

 

A friend is a person who see you not only when you’re good,

but also when you down and thinking that seeing them would be worsen your condition…

 

yet they come, and you feel better because you are not alone.



A friend is a person who knows all about you

and still remember you forever…