Bukan Sekedar Menjadi ‘Guru’

Siang itu aku baru sadar kalau aku berangkat ke sekolah tanpa bekal. Sarapanku hanya air putih dan nasi separuh porsi. Matahari seakan tak bersahabat, sinarnya menyengat membuatku berkunang-kunang. Apapun yang diterangkan guru tidak bisa kuingat dengan baik bahkan banyak kali aku hanya memegangi perut yang keroncongan. Aku memang bukan dari keluarga berkecukupan, apalagi bangsawan. Orangtuaku pekerja panggilan dan ibu rumah tangga biasa. Jangankan uang jajan, uang sekolah terkadang harus dibantu beberapa orang yang kasihan padaku, kadang hanya bisa menunggu keringanan dari pihak sekolah.

‘Ndre, kamu ga apa-apa? Perutmu kenapa?’ tanya teman yang memandangku mencengkeram perut.

‘Ga apa-apa, cuma agak perih,’ dustaku.

Tanpa kusadari, guru melirikku dan sedetik kemudian langsung bertanya, ‘Yang di belakang itu kenapa? Kok bicara sendiri’.

‘Pak, ini kelihatannya Andre sakit perut’ jawab temanku.

‘Ooo… ga apa-apa kamu? Coba kesini sebentar’ timpal guru pada kami.

Saat maju, sesaat kulirik wajah guruku. Hingga kini aku masih ingat kumis yang berbelok-belok mengikuti bentuk bibirnya. Langkahku makin berat, apalagi aku bukan murid yang menonjol di kelas. Aku cenderung jadi pendiam dan lebih suka duduk di baris paling ujung, karena memang dasarnya merasa minder.

‘Kamu kenapa kok sakit? Ada masuk angin?’ tanyanya sederhana sambil melirikku.

‘Nggak pak’

‘Ada kena maag?’

‘Nggak’

‘Lalu kenapa?’

‘Saya belum makan siang pak’

‘Ooo belum makan. Ya sudah sana ke kantin beli makan dulu. Ada uang?’

‘……’

Dia hanya tersenyum kecil dan mengeluarkan dompetnya. Secarik uang lima ratus rupiah ia sodorkan,‘Nih bawa aja’.  

Itulah sekilas kisah dari masa saya masih duduk di SD pada tahun 1996. Masa sebelum era reformasi hadir dengan segala pernak perniknya. Masa dimana uang Rp. 500 cukup berharga untuk bisa untuk membeli nasi campur dan minuman dingin. Entah kenapa dari masa SD, kejadian itu sangat terekam dalam benak.

Saya sudah lupa semua yang telah dipelajari dan semua yang diajarkan sang maestro pendidikan waktu itu. Terbesit di pikiran bahwa guru-guru saya gagal, karena saya tidak bisa mengingat satupun materi pelajaran mereka, kecuali jika membuka buku catatan dari masa sekolah.

19 tahun berlalu dan saya sudah lupa semua yang ada di masa sekolah kecuali beberapa kenangan bersama teman-teman sebaya dan beberapa guru. Entah kenapa saya lupa nama guru-guru yang baik hati, tapi masih ingat jelas wajah marah mereka bahkan detail nama, lokasi, warna baju dan apa yang dikatakan. Saya bertanya-tanya, mengapa lima menit luapan emosi guru saya lebih teringat daripada satu jam pelajaran yang mereka ajarkan. Dua menit kejadian seorang guru membantu saya pada saat kelaparan lebih teringat daripada semua kenangan lainnya.

Setelah saya bergelut dengan ilmu kejiwaan dan ilmu manusia, barulah menyadari bahwa manusia bukan hanya terdiri dari darah dan daging, perut dan segala isinya saja. Manusia mempunyai otak dan pikiran, emosi dan jiwa, roh dan kehidupan. Menjadi seorang guru bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan pikiran belaka. Tetapi tentang bagaimana kita bisa menjangkau yang lebih dalam dan mendasar dari semua itu. Kapankah kita sebagai seorang guru menyentuh hal yang vital dari seorang manusia dan seorang anak?

Seorang anak yang dihukum fisik mungkin suatu saat akan sembuh secara fisik, tetapi secara memori  akan terekam dengan jelas di pikirannya tentang pukulan, cambukan dan semua hukuman itu. Apakah mereka akan mengingat 100% akan apa yang kita ajarkan sebagai seorang guru? Jawaban pastinya 5 tahun kemudian dia akan melupakan semuanya itu. Tetapi 5 tahun setelah kita ajarkan tentang apa arti kehidupan, dia akan mengingat terus apakah kehidupan itu. Bukan hanya berdasarkan ilmu pengetahuan tetapi tentang apa yang kita lakukan. Di waktu kelas yang kita ajari ramai dan kita berteriak, mereka bukan akan sekedar terdiam. Melainkan anak-anak itu sedang kita ajarkan bagaimana cara berteriak, maka jangan kaget jika cepat atau lambat, dia akan berteriak pada kita atau orang lain.

Menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah. Kita harus mengajarkan tentang ilmu kehidupan yang dibalut dengan ilmu pengetahuan. Tentang apa yang seharusnya kita lakukan apabila kita menemui kondisi ini. Pada waktu kita mengajarkan matematika atau bahasa, bukan hanya tentang ilmu matematika yang kita ajarkan, tetapi apa yang harus kita lakukan pada waktu kita menghadapi masalah yang serumit matematika. Akankah kita menyerah menghitung semua permasalahan yang harus dihitung atau kita akan terus berusaha menghitung dengan asal-asalan saja yang penting hasilnya benar dengan cara melirik jawaban teman, atau kita akan berusaha menghitung mati-matian dengan cara yang benar walau mungkin hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan?

Jika kita melihat kenapa banyak orang tidak mau mengantri dan hanya asal main serobot saja yang penting mereka cepat mendapatkan tujuan mereka tanpa memikirkan perasaan dan kondisi orang lain, mari kita coba tarik balik ke belakang. Apa yang mereka pelajari di sekolah dan ilmu pengetahuan apa yang mereka dapat? Saya berani menjamin mereka pasti bukan hanya berasal dari kalangan menengah ke bawah saja. Sebagian besar dari mereka ternyata dari kalangan mahasiswa dan sarjana. Namun saya berani menjamin pasti mereka pernah belajar tentang bagaimana cara mencurangi guru di sekolah dan bagaimana berpura-pura bodoh tanpa mau memikirkan perasaan orang lain yang kita curangi.

Sudah waktunya kita sebagai seorang manusia belajar tentang bagaimana harus bersikap sebagai makhluk sosial. Bukan sebagai seorang individu semata, namun sebagai sebuah komunitas dan sebagai suatu kesatuan yang mana satu dengan yang lainnya saling berhubungan. Jadi sebelum bertindak, hendaknya kita memikirkan tentang kondisi orang lain terlebih dahulu.

Oleh Andreas Librawan
Editor Vonny K Wiyani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s