25 Tujuan, 26 Juli, 27 Tahun (Bagian Pertama)

25 Tujuan, 26 Juli, 27 Tahun

“Buat apa jalan-jalan di dalam negeri kalau ke luar negeri bisa lebih keren, lebih murah pula?” Ini adalah kalimat yang cukup sering saya dengar. Bukan hanya dari iklan yang dipajang oleh perusahaan tour and travel, tetapi juga dari masyarakat awam di sekitar saya. Terus terang saya juga pernah berpikir begitu, tapi…kalau mau jujur, sebenarnya ungkapan itu aneh. Ibaratnya, tinggal di rumah sendiri lebih mahal daripada di hotel, aneh kan?

Jika saya baru berhenti di keheranan, dan ngomel karena biaya wisata lokal yang kemahalan dibanding ke luar negeri, lain lagi dengan teman saya. Namanya Michael Dyan Kurnianto, akrab disapa ‘Dee’. Perawakannya mungil, namun langkahnya lebar…dan akan terus melebar hingga meninggalkan jejaknya di sekeliling nusantara. Sebelum genap berusia 27 tahun di tanggal 26 Juli 2014, ia sudah mendatangi setidaknya 25 tujuan wisata di dalam negeri. Mulai dari yang lazim diketahui orang lokal dan karena saking murmer-nya bisa berubah jadi seperti ‘kolam dawet’ di musim liburan, hingga yang (sayangnya) sudah jadi milik asing serta susah dimasuki oleh wisatawan lokal, telah ia tembus.

Dia bukan orang tajir, walau bukan juga orang kikir. Sebagai seorang pekerja LSM, gaji besar bukan sesuatu yang familiar baginya. Jadi jangan dibayangkan dia bergelimang harta untuk menjalani hobinya yang lumayan mahal. Lalu bagaimana kisahnya? Mari kita simak obrolan traveler satu ini dengan saya;

Mengenai hobi jalan-jalan, sejak kapan punya hobi jalan dan cita-cita keliling nusantara?

Entah sejak kapan, yang pasti waktu kecil sering rekreasi bersama keluarga ke pantai. Terkadang, kita mudah sekali melupakan potensi lokal. Saya contohnya, pertama melamar pekerjaan maunya langsung yang di luar Surabaya, kalau bisa lebih ‘luar’ lagi lebih bagus. Akhirnya sekarang malah berkarya di sini dan ternyata memang masih banyak potensi lokal yang layak dihargai dan dikembangkan. Soal jalan-jalan juga begitu, saya asli Kediri tapi baru mengunjungi Gunung Kelud setelah melihat foto jepretan teman saya. Ternyata Kelud bisa begitu indah!

cr. Dee
Gunung Kelud dan jalannya yang meliuk-liuk. Foto: Dee

Bagi saya yang terpenting saat jalan-jalan adalah melihat alam. Budaya dan manusia juga menarik, tetapi bagi saya yang paling cantik tetap alam. Terutama alam Indonesia, karena negeri kita ini amatlah cantik! Karena itulah saya mulai mengambil foto-foto. Pertama hasilnya ngasal, tapi makin lama makin serius. Sebelum mengambil foto, saya luangkan waktu sejenak untuk mengagumi apa yang saya lihat. Ternyata kekaguman itulah yang tergambar dalam potret yang saya ambil. Saat melihat foto-foto itu, rasanya seperti mengalami kembali momen perjalanan yang telah saya lalui. Kini, memotret menjadi pekerjaan sampingan saya yang cukup menghasilkan.

Sudah pernah berkunjung ke mana saja?

Karena saya kuliah di Surabaya, jadi awalnya pasti ke sekitar Surabaya, Pantai Kenjeran contohnya. Pantai ini kalau siang memang terlihat kotor dan bau, tapi cobalah mendatanginya di antara pkl. 04.30 – 05.30 pagi. Saksikan matahari terbit dari dermaganya, indah bukan main.

perahu-perahu nelayan di Pantai Kenjeran saat fajar. Foto: Dee
perahu-perahu nelayan di Pantai Kenjeran saat fajar. Foto: Dee

Mangrove, tempat ini panas bukan main. Nyamuknya seram. Tetap aja banyak orang bela-belain foto prewed di sana saking indahnya.

kawasan wisata mangrove Surabaya. Foto: Dee
kawasan wisata mangrove Surabaya. Foto: Dee

JatimPark, BNS, SecretZoo dan area sekitarannya. Saat liburan, ramainya laksana mencoba berenang di dalam lautan manusia. Tapi tempat-tempat ini cukup informatif dan menghibur, terutama saat didatangi bersama teman-teman.

Gunung Bromo. Saya datang ke sana bersama teman-teman dan seorang dosen yang tiba-tiba nimbrung dalam rombongan kami. Bromo adalah salah satu ikon Indonesia yang aslinya bahkan lebih bagus lagi dari foto-fotonya. Setiap tahun, diadakan juga yang namanya Jazz Gunung di sini. Jadi, siapa bilang dengerin konser itu mesti di kota atau di dalam gedung?

Jazz Gunung; Indahnya Jazz Merdunya Gunung kalau kata websitenya....Foto: Dee
Jazz Gunung; Indahnya Jazz Merdunya Gunung kalau kata websitenya….Foto: Dee

Pacitan; Pantai Klayar dan Srau. Pantai Klayar itu pasirnya putih dan banyak karangnya. Menurutku lebih bagus lagi daripada Parangtritis. Lokasinya beberapa kilometer dari Pacitan dan jalan menuju ke sana bisa dicapai dengan mobil maupun motor, tapi medannya lumayan berat, sempit, dan banyak yang rusak. Pantai Srau sedikit lebih dekat ke Pacitan, masih alami dan jarang didatangi orang. Mungkin karena jauh dari pemukiman penduduk dan jalan menuju ke sana berat. Tempat yang bagus untuk melihat matahari terbit, terbenam dan lautan luassss.

Dee di Pantai Klayar. Dijepret oleh teman kantor (yang tidak diberitahukan namanya..hahaha)
Dee di Pantai Klayar. Dijepret oleh teman kantor (yang tidak diberitahukan namanya..hahaha)

Air terjun Madakaripura Probolinggo. Demi menuju ke air terjun utama, harus berbasah-basah dulu karena melewati beberapa air terjun. Nah, di perjalanan itulah justru pemandangannya luar biasa, karena depan dan belakang air terjun semua.

Air Terjun Madakaripura, pemandangan dalam perjalanan menuju air terjun utama. Foto: Dee
Air Terjun Madakaripura, pemandangan dalam perjalanan menuju air terjun utama. Foto: Dee

Jembatan Suramadu. Awal pembangunannya penuh kontroversi, tapi setelah jadi…benar-benar bermanfaat dan membanggakan. Di Jembatan ini orang dilarang berhenti dan foto-foto karena mengganggu lalu lintas dan tidak aman untuk nyawa.

Air terjun Toroan Sampang. Biasanya air terjun jatuhnya ke sungai, atau danau, yang ini langsung ke laut. Beneran, cuma dibatasi oleh batu-batu karang saja. Itu adalah pertama kali saya ke Madura, naik motor bertiga dengan sahabat, kesasar pula. Akibatnya perjalanan jadi panjang dan lamaaaa, bikin pantat pegal! padahal baliknya cepat. Tapi pemandangan di pulau penghasil garam itu ternyata benar-benar…

Air terjun langsung ke laut;Toroan, Sampang. Foto: Dee
Air terjun langsung ke laut;Toroan, Sampang. Foto: Dee

Pantai Kunir. Salah satu pantai alami yang ada di jalur selatan Pacitan. Sama seperti Srau dan Klayar, jalan menuju ke sana sedikit baik. Alias berat dan penunjuk jalan hanya sedikit. Konon orang Pacitan saja belum tentu tahu pasti letaknya di mana.

Pantai Kunir Pacitan. Foto: Dee
Pantai Kunir Pacitan. Foto: Dee

Karimun Jawa. Ini sudah terkenal dan bagi saya, berenang bersama hiu-hiu di sana tidaklah seseram yang saya alami di P. Kanawa saat bertemu dengan pari manta.

Karimun Jawa. Foto: Dee
Karimun Jawa. Foto: Dee

Borobudur, Prambanan. Ini juga jelas sudah terkenal di dalam maupun di luar Indonesia.

Sarangan. Pengalaman yang bikin kaget di sini, pas motret orang, yang dipotret minta duit. Bukan model profesional loh ya, cuma memang waktu itu saya sedang ingin mencoba memotret foto-foto jenis human interest. Mungkin mereka sudah terbiasa dipotret oleh turis asing dan diberi uang, jadi kebiasaan. Soal alamnya, seperti biasa; hijau dan cantikkkk.

Sarangan

Bali. ‘Pulau Dewata’ satu ini bahkan kadang-kadang lebih dikenal daripada Indonesia. Area yang penuh adat dan budaya nan cantik, tapi sayang semuanya dibuat komersil, alias ‘dikit-dikit bayar’. Bukan masalah tidak ingin bayar, tapi kesakralannya jadi tercoret.

Besakih. Dikenal sebagai pusat kegiatan dari seluruh pura yang ada di Pulau Bali. Layaknya tempat ibadah, kerap diadakan upacara keagamaan yang juga terbuka untuk turis, walau bukan berarti kesakralan di sana berkurang. Malah sebenarnya mengesankan saat melihat pluralisme yang ada di sana. Ada bule (orang asing) yang belajar sembahyang (berdoa dengan tata cara Hindu Dharma Bali) dan ada orang lokal yang mau mengajari. Di mata saya, wajah bule itu menunjukkan keseriusan saat melihat pengajarnya. Bukan sekedar ingin tahu, tapi juga memahami. Itu adalah sebuah momen di mana perbedaan bukanlah persoalan. RUKUN.

 

Ketika perbedaan bukan menjadi persoalan. Foto: Dee
Ketika perbedaan bukan menjadi persoalan. Foto: Dee

Menjangan Pulau Menjangan. Masih di sekitar Bali, saya ke sana karena butuh ketenangan dan melihat alam yang cantik. Snorkling melihat terumbu-terumbu karang dan rumput laut bergoyang kiri-kanan, ikan-ikan cantikkkk. Untuk menjangkau bagian bawah laut yang indah itu, pengunjung harus agak ke tengah, tepat sebelum masuk ke palung lautnya yang biruuu, gelappp dan ngeri liatnya. Kalau tidak mau, bagian atasnya juga lumayan;

Pulau Menjangan dan lautan serta kapal kecil pengangkut pengunjung yang mau snorkling. Foto: Dee
Pulau Menjangan dan lautan serta kapal kecil pengangkut pengunjung yang mau snorkling. Foto: Dee

Ranu Kumbolo. Tempat ini adalah jalur yang memang harus dilewati oleh siapapun yang ingin mendaki gunung Semeru. Lokasinya di Lumajang, tepatnya di kaki G. Semeru. Ada lokasi perkemahan di sana dan  Pertama ke sana, tidak sampai ke puncak, karena niatanya memang hanya sampai di Ranu Kumbolo. Selain itu jujur saja stamina saat itu memang kurang memadai. Jadi bertekad untuk kembali lagi suatu saat dan mendaki sampai ke puncak! Pada saat tulisan ini dibuat, Dee juga sedang merayakan ulang tahun dengan mendaki G. Semeru.

Ranu Kumbolo di pagi hari. Foto: Dee
Ranu Kumbolo di pagi hari. Foto: Dee

Arjuno- Welirang  Setelah G. Bromo, Kelud, dan Batur, akhirnya saya mendaki dan mengibarkan bendera merah putih di puncak G. Arjuno- Welirang. Ini gunung pertama dan tersulit yang pernah saya tempuh dengan persiapan fisik minimal. Akibatnya kecapean sampe muntah-muntah di pos terakhir sebelum naik ke Arjuno. Belajar dari pengalaman, sebelum memutuskan naik gunung, minimal harus rutin jogging atau jalan kaki. Berapa jauh? Dikira-kira sendiri berdasar kemampuan. Lebih bagus kalau latihan jalan sambil bawa beban, ataupun membiasakan naik turun tangga daripada menggunakan lift. Niscaya benar-benar bermanfaat.

Suasana fajar di pos perkemahan sebelum menuju puncak Arjuno- Welirang. Foto: Dee
Suasana fajar di pos perkemahan sebelum menuju puncak Arjuno- Welirang. Foto: Dee

Candi Gedong Songo Ungaran. Sebenarnya saya bukan tipe yang terlalu doyan sejarah. Tapi tempat ini asyik, masih di area yang alami, bahkan ada pemandian air panasnya. Jadi sehabis menyusuri 9 candi, di pertengahan jalan ada sumber air panas…segarrr. Walaupun di alam bebas, tapi yah jangan dibayangkan seperti mandi di sungai. Sebagai pemandian campuran, tempat ini dikelola pemerintah. Privasi pengunjung dilindungi oleh tembok.

(Salah satu spot) Candi Gedong Songo di Ungaran. Foto: Dee
(Salah satu spot) Candi Gedong Songo di Ungaran. Foto: Dee

 

Rawa Pening. Saat siang, daerah sekitaran rawa itu dijadikan kawasan komersil yang keramaiannya sudah mirip dengan THR (Taman Hiburan Rakyat) Surabaya. Akibatnya kalau siang memang alamnya jadi tidak terlalu cakep, tapi menariknya justru sore dan pagi hari. Suguhan alam berupa matahari terbenam dan terbit, cakep bukan main dan menenangkan…

Sulawesi, Pantai Donggala. Pengalaman saat pertama kali ke sana, karena berangkat dari Palu, terasa benar jauhnya. Begitu masuk kawasan Donggala yang mau masuk ke area pantai, ada warung-warung yang menjual ikan-ikan segar. Makan di sana dengan lauk ikan segar dan pemandangan yang begitu aduhai karena pasir putih dan air laut biruuuu, apalagi coba yang kurang?

Pantai Donggala Sulawesi . Foto: Dee
Pantai Donggala Sulawesi . Foto: Dee

 

Bersambung ke bagian kedua…

Advertisements

5 thoughts on “25 Tujuan, 26 Juli, 27 Tahun (Bagian Pertama)

  1. Setelah berkeliling beberapa negara dan beberapa tempat lokal, maka memang tempat2 di dalam negeri ini terlalu indah untuk dijabarkan dengan kata2. Mulai dari Hawaii, hingga gurun Sahara pun bisa kita temukan di negeri ini. Tetapi kalau dijabarkan lagi ‘mengapa destinasi wisata dalam negeri begitu mirisnya dan terkesan tidak terjamah sama sekali di mata masyarakat lokal sendiri?’ Jawabannya mungkin fasilitas yang diberikan pemerintah untuk mencapai destinasi itu tidak memadai. Semisalnya saja transportasi dari airport ke kota. Di Jakarta untuk mencapai hotel dari airport, kita membutuhkan minimal Rp.100.000 atau sekitar 10US$. Bayangkan saja di Singapura, untuk mencapai tengah kota atau destinasi para turis misalnya Orchard Road kita hanya perlu merogoh kocek senilai 2.40 Sing$ atau mungkin sekitar 3US$. Perbedaan yang sangat signifikan. Lalu kalau dipertanyakan dimana peran pemerintah Indonesia dalam memfasilitasi pariwisata Indonesia sendiri? Jawaban simplenya hanya ‘kita sudah berusaha mengiklankan ke dunia tentang destinasi wisata di Indonesia’. Hah? Kalau hanya iklan sih buat apa? Setelah kita mencapai destinasi wisata yang ternyata habis kocek banyak dan tidak sebanding dengan destinasi keluar negeri ya alhasil yang ada di pikiran kita ‘Is that worth enough?’

    Like

    1. Nice comment. Destinasi wisata di Indonesia seringkali menawarkan ‘petualangan’ tambahan yang belum tentu diinginkan oleh turis yg datang. Setuju banget kalau iklan saja tidak cukup, infrastruktur transportasi maupun tata kota yg lebih ramah lingkungan serta penghuninya (termasuk pendatang) itu juga penting. Namun sebelum mewujudkan itu semua, semua dari kita juga punya kewajiban pribadi, untuk turut bertanggung jawab atas apa yg ada di negeri ini. Kalaupun tidak mau atau tidak bisa ikut mempercantik, setidaknya tolong jangan semakin dikotori atau dirusak…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s